Galeri

Sketpro #4: Ale dan Pie

Ale terduduk di tengah kebun (yang ia yakini sebagai kebun teh), dan menyaksikan perdu-perdu teh itu berkembang dengan sendirinya. Beberapa tangkainya memanjang serupa sulur, merayap menuju kaki Ale, lalu menggelitiki telapak kakinya. Ale tertawa geli, lalu terbahak. Seketika Ale terbahak, seketika itu juga sulur-sulur the itu menjerat kakinya. Tawanya berubah menjadi teriakan ketika ia terseret ke dalam kubangan lumpur yang berpendar hijau. Lumpur itu mengubah tangannya menjadi elastis serupa tentakel tetapi berkuku panjang seperti cakar. Kaki kanannya mulai bersisik, sedangkan kaki kirinya ditumbuhi bulu lebat. Kubangan yang berpendar hijau itupun mulai mendidih, menguarkan aroma amis. Beberapa detik kemudian, Ale kehilangan suaranya; teriakannya berubah menjadi serupa ringkikan kuda. Ale takut terhadap dirinya sendiri. Ale berenang menuju tepi kubangan ketika ia menyadari ada sesuatu yang menariknya lebih dalam…

Ale terbangun. Berkeringat dingin dan terengah-engah, Ale melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keberadaannya. Tangan Ale gemetar, dan Ale berulang kali memastikan jumlah jarinya (Total masih sepuluh dan berwarna kulit). Ale pun berulang kali melihat kakinya, memastikan bahwa kaki itu tetap kaki; bukan ekor duyung atau tentakel gurita. Seorang pramugari mendatangi Ale dengan tatapan cemas sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang diterima Ale dengan lega. Setelah pramugari tersebut memastikan bahwa penumpangnya itu baik-baik saja, Ale meneguk separuh habis air mineralnya dalam sekali minum. Ale melempar pandangan ke luar jendela, memastikan bahwa sayap pesawat yang sekarang ia lihat adalah sayap pesawat yang sama dengan yang tadi ia lihat sebelum jatuh tertidur.

Teh lagi. Sial, pikirnya.

Ale baru saja mengalami salah satu mimpi paling aneh dalam hidupnya. Sejauh yang bisa ia ingat, mimpi aneh terakhir yang masih membekas adalah mimpi tertimpa gajah hijau tua yang seluruh tubuhnya dikerubuti semut biru ketika Ale kelas 1 SMP. Yang Ale ingat, mimpi itu muncul setelah Ale menonton Jumanji, Smurf dan Kera Sakti di hari pertama liburan sekolah. Mimpi itu membekaskan rasa ngeri di benak Ale setiap kali melihat semut bergerombol hingga ia memasuki masa SMA. Tapi sekarang, mimpi aneh yang ia alami rasanya berbeda. Ale tau akhir-akhir ini ia terlalu overthinking, paranoid, merasa diawasi, merasa diteror, atau apapun itu istilahnya. Ale sadar bahwa mimpi ini mungkin saja bagian dari ekspresi ketakutannya. Tapi tetap saja, bermimpi begini di tengah perjalanan menuju daerah antah berantah bukan merupakan suatu hal yang bagus.

“Kamu berkeringat. Silakan pakai ini.” Wanita yang duduk di sebelah Ale, penumpang yang ia tak tau namanya, mengulurkan selembar tisu kepadanya. Ale tersenyum simpul dan menerimanya. Penerbangan panjang ini ternyata tak cocok baginya. Total waktu penerbangannya 18 jam, ditambah transit luar biasa lama di Vietnam membuat Ale merasa pegal dan mual; kehilangan koordinasi dan kesadaran terhadap waktu. Jendela pesawat gelap, tapi pikirannya membuncah penuh energi; dan ketika jendela pesawat terang, Ale merasakan kantuk yang teramat sangat. mungkin lelah itu juga yang membuat mimpi Ale terasa begitu nyata. Ale melap keringat dengan tisu pemberian wanita di sebelahnya ketika menyadari aromanya berbeda. Aroma melati.

Wanita itu tersenyum,”Aromanya menyenangkan ya? Untuk yang baru saja bermimpi buruk, aroma ini katanya bisa menenangkan. Saya masih ada yang lain kalau kamu mau.”

Mau tak mau, Ale tersenyum lagi sambil mengucapkan terima kasih. Ale seperti mengenal wanita itu, tapi susah mengingat di mana dan kapan. Wanita itu memandang Ale dan kemudian mengulurkan tangan, “Pie.”

“Maaf?” kata Ale, “Pie?”

“Iya, namaku Pie,” wanita itu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lucu, seperti anak kecil.

Ale membalas uluran tangannya, “Ale.”

“Pertama kali penerbangan panjang ya?” tanyanya lagi; dan kalimat itu menjadi kalimat pembuka percakapan mereka.

Ini adalah kali pertama Ale merasa senang ada yang mengajak ia mengobrol di pesawat. Obrolan mereka mengalir, tentang tujuan, pekerjaan, asal, lalu entah bagaimana, perbincangan itu kembali mengarah ke selembar tisu beraroma melati ketika pesawat bersiap untuk mendarat.

“Kenapa melati?” tanya Ale.

“Itu seperti menanyakan ‘kenapa namamu Pie?’. Well, aku tak pernah paham. mungkin karena aromanya tidak memaksa.”

“Memaksa?”

“Ya. Aromanya tidak menyengat, sedikit-sedikit saja tapi berkelanjutan. Mengalir terus tapi tak pernah sangat menusuk. Aku juga suka rasanya ketika dicampur dengan teh, apalagi sekarang kita sedang menuju tempat yang memang khas dengan tehnya kan…”

Teh lagi. Ale sampai lupa bahwa tempat yang ia kunjungi ini adalah negeri pecinta teh nomor satu. Teh. Jangan-jangan…

Lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah padam; Pesawat telah mendarat di Heathrow Airport, London.

Ale bersiap turun dari pesawat ketika Pie berkata padanya,”Hati-hati dengan Earl Grey ya…”
Pie kemudian menyelinap di antara penumpang yang lain tanpa memberi Ale kesempatan untuk menjawab. Pie berhenti sejenak dan melanjutkan,”Jangan lupa kartu posnya!”

Kartu pos?

Pie tak bisa ia temukan di antara kerumunan yang mengantri bagasi dan antrian imigrasi. Ale merutuk karena mereka juga tak bertukar kontak. Seketika itu, Ale ingat bahwa ia belum mengabari penjemput dari kantornya. Ale menyalakan ponselnya, lalu menghubungkannya dengan WiFi airport. Ponselnya langsung penuh notifikasi yang kemudian ia cek satu-satu sambil menunggu jemputan. Notifikasi email kantor, chatgroup, notifikasi Facebook, Twitter, dan..

Satu notifikasi yang rasanya janggal tertangkap olehnya. Notifikasi Instagram.

“pieamber.pie started following you”

Ale terdiam. Amber lagi?

 

Vietnam, 180717; 1915
Ling

Ale Pie

Galeri

Hujan

Labil

Malam ini (11 pm) Kingsford diguyur hujan. Kali ini, ramalan cuaca di ponsel saya sedang berfungsi dengan baik. Kebiasaan melihat prediksi cuaca di pagi hari sebelum beraktivitas menjadi salah satu dari sekian banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan di Indonesia. Alasannya? Hmm, cuaca disini cepat sekali berubah – labil.

Klise

Terkadang saya kesal dengan hujan. Apalagi hujan ditambah dengan angin yang cukup kencang. Tak ayal, payung apa adanya hanya akan berujung di tong sampah karena tak mampu memberikan perlawanan berarti. Tetapi bagi sebagian orang, hujan menjadi momentum yang paling ditunggu karena selepasnya pelangi akan melengkung di langit. Klise.

Hujan

Hujan – salah satu momentum yang paling mustajab untuk dikabulkannya doa. Kalau begitu, bolehkah saya berdoa? Berdoa agar tidak ada lagi bentuk intimidasi, kekerasan, ancaman, dan permusuhan. Berdoa agar tidak ada lagi orang-orang dengan pikiran yang sempit, close-minded, dan egosentris yang luar biasa.

Ahhh, tapi tetap saja ada yang mengganjal. Maka, Tuhan, bolehkah saya berdoa? Berdoa untuk dia yang sangat saya rindukan.

 

 

-Vidia-

 

 

photo_2017-10-22_19-56-14.jpg

Galeri

Pulang

Hari ini, Sabtu malam, 3 Juni 2017, 8.02 pm. Suhu Kingsford berhenti di angka 14 derajat. Musim dingin rupanya telah tiba.

Pesawat 5cm Di Atas Rumah

Bising. Kali ini, tiap malam selalu bising. Pertama, gegara pekerjaan konstruksi lintasan kereta api ringan (light rail transit; LRT) yang nantinya akan menghubungkan Circular Quay dengan Eastern suburb; Randwick dan Kingsford. Lintasan ini akan terbentang sepanjang 12 km. Walaupun mungkin saya ga akan bisa menggunakan transportasi ini karena LRT dijadwalkan mulai beroperasi di tahun 2019. Terkadang saya berpikir, seharusnya kami-kami ini diberikan kompensasi atas polusi suara yang ditimbulkan akibat pekerjaan konstruksi. Ahh, tapi ya sudah lah, lebih baik dinikmati saja. Kedua, gegara pesawat yang bersliweran di atas rumah. Sepertinya sudah musimnya. Hingga beberapa bulan ke depan, jumlah pesawat terbang yang melintas akan semakin banyak seperti tahun lalu. Tahun lalu, saya datang ke Sydney di bulan Juli, tepat di musim dingin. Sejak pertama saya datang hingga sekitar bulan September, kalo kurang kerjaan, dari jendela kamar saya suka liatin pesawat yang mondar-mandir. Jumlahnya banyak. Ga sedikit pesawat yang terbang rendah dengan suara sekian puluh desibel. Kadang, saya suka menakar berapa kira-kira jarak pesawat itu dengan atap rumah saya. Mungkin 5cm.

Pulang

Mungkin, sudah saatnya juga untuk pulang. Pulang kemana? Pulang untuk siapa?

Satu hal yang pasti, ada keluarga dan orang-orang yang rindu di rumah.

 

 

-Vidia-

Galeri

Sketpro #3: Alé dan Amber

Sudah dua kali, pikir Ale, dan kedua kejadian itu berakhir dengan memalukan. Yang pertama, Ale hanya bisa menangkap kilatan cahaya sebelum akhirnya semua gelap. Setelahnya, ia terbangun di ruang istirahat pegawai di café tempatnya kehilangan kesadaran. Dia ditolong oleh pemilik café yang wajahnya lebih dari sekedar lega ketika melihat Ale akhirnya terbangun. Setelah berulang kali meyakinkan ia baik-baik saja dan menolak diantarkan pulang, Ale pun dipesankan taksi yang mengantarkannya ke rumah. Semalaman itu pun ia menyalakan semua lampu yang ada di rumahnya, dan terjaga hingga pagi. Seperti itu terus; terus menerus selama hampir seminggu. Ujungnya? Ia harus dirawat di rumah sakit.

Pada kejadian kedua, Ale merasa cukup kuat untuk tidak tumbang lagi seperti sebelumnya.  Ale juga merasa cukup kuat untuk tidak berteriak. Ia berdiri cukup lama, menyaksikan lumpur itu menggenang dan merambat menuju kakinya. Ia mencoba meyakinkan bahwa ini hanya ada di kepalanya dan tidak benar-benar terjadi. Tapi ternyata ia tak sekuat bayangannya. Ale mual, lalu muntah sejadi-jadinya. Tepat ketika Ale limbung, tetangga kakaknya keluar dari rumahnya dan sempat menahan Ale agar tidak terjatuh. Gerbang terbuka dan Ale melihat sosok yang benar-benar kakaknya, mendengar suara-suara panik dari dalam rumah, melihat genangan lumpur di dekatnya lenyap perlahan, lalu kemudian… well, dia tidak sadarkan diri lagi.

Dua kali, pikirnya lagi. Bagaimana bisa?

Sehari setelah kejadian kedua, Ale melakukan full check up di Rumah Sakit dekat kantornya. Ia melakukan segala macam tes fisik dan mental, berharap apa yang dia alami beberapa waktu ke belakang murni adalah hasil dari error yang ada di tubuhnya. Hasilnya nihil. Semua aspek normal. But how normal can it be?

Jam setengah dua pagi; Ale tau bahwa malam ini ia tidak seharusnya begadang. Esok pagi-pagi sekali ia harus menemui klien kantornya langsung di perkebunan teh milik si klien untuk membicarakan rencana kerjasama. Tapi ia merasa terganggu dan ingin mengetahui sebab dari semua ketidakberuntungan yang terjadi padanya. Sejak kapan hal-hal aneh ini mulai datang padanya? Pertemuan dengan anak-anak lumpur itu terjadi dua minggu lalu; penghujung bulan April. Kemunculan gadis pemilik cafe itu adalah sebulan sebelumnya. Sebelum tanggal-tanggal itu, Ale merasa hidupnya aman dan baik-baik saja. Kecuali…

Ah, iya. Sepertinya, sejak saat itu. Sejak Ale mengenal perempuan bernama Amber yang berulang kali mengatakan bahwa mata Ale mirip mata kucing. Perempuan bernama Amber ini Ale temui tanpa sengaja di sebuah kantor pos ketika mereka sama-sama membeli perangko untuk mengirimkan kartu pos. Selama ini Ale merasa dirinya unik; autentik; jarang ada manusia modern yang masih memilih cara konvensional berkomunikasi menggunakan surat dan kartu pos. Namun ketika dia menemukan seseorang yang memiliki kesamaan dengannya, girangnya bukan main. Mereka bertukar alamat dan memutuskan untuk saling berkirim kartupos.

Sejauh ini, mereka tak pernah bertemu lagi dan komunikasi mereka hanya terbatas pada kartu pos-kartu pos yang dikirim dalam jangka waktu tidak tentu. Ale telah mengirim tiga, dan Amber juga telah mengirim tiga. Ketiga kartu pos yang Amber kirim berasal dari negara yang berbeda; dan selalu diakhiri dengan kalimat,”Matamu seperti mata kucing, Le. Hati-hati ya.”

Jika pada awalnya Ale merasa itu sebagai lelucon, maka kini ia mulai merasa takut. Seketika itu juga Ale mengambil seluruh kartu pos dari Amber dan mulai menelisiknya satu per satu.

Kartu pos pertama berasal dari Aceh, dengan gambar segelas kopi dilatari dataran tinggi Gayo. Kartu pos kedua dari Brazil, bergambar anak-anak yang bermain sepakbola. Kartu pos ketiga..

Tunggu.

Ada yang janggal.

Ale menatap lagi kartu posnya, lalu tertegun. Segelas kopi dan kejadian di cafe. Anak-anak yang bermain bola dengan anak-anak yang berubah menjadi lumpur.

Tangannya mendingin ketika melihat kembali kartu pos ketiga.

Kartu pos dari Bandung. Bergambar perkebunan teh.

Ale menghela napas. Mampus, pikirnya.

Sydney, 130517, 0247 AEST
_Ling_

 

Ale1

Galeri

Sketpro #2: Alé dan Raré

          “Lurus, belok kanan, lurus lagi sampai rumah warna hijau, cari gang nomor empat, rumah biru di ujung kiri. Lurus, belok kanan…” kata Ale berulang-ulang. Sore hari itu ia terpaksa harus berjalan kaki menuju alamat kakaknya karena sepedanya dicuri orang di parkiran kantor. Awalnya ia ingin memesan ojek online, namun niatnya ia urungkan ketika ia menyadari bahwa dompetnya tertinggal di rumah dan telepon genggamnya kehabisan daya. Dengan sisa uang di saku yang hanya cukup untuk membeli dua bungkus permen karet, akhirnya ia memutuskan untuk mencari bantuan ke tempat terdekat yang terlintas di pikirannya: rumah baru kakaknya.

Rumah itu memang hanya sepuluh menit berjalan kaki dari kantornya dan merupakan rumah yang mudah diingat ; cat serba biru dengan pagar biru langit. Yang membebani Ale hanya satu; rumah itu terletak di belantara gang yang sambung menyambung seperti labirin. Ale bukan pengingat jalan yang baik, dan ia tau ia hampir pasti tersesat. Tapi bagaimanapun, itu satu-satunya tempat yang bisa ia datangi saat ini.

Ale berjalan lagi dan menghela napas lega ketika sampai di depan rumah hijau. Kali ini ia tersenyum puas, merasa bahwa ingatannya akan jalan sudah bisa diandalkan. Pandangannya berkeliling, dia sekarang hanya perlu mencari gang nomor empat…

Plak! Sesuatu menubruk belakang kepala Ale. Sebuah bola; pasti anak-anak yang sedang main sepakbola di dalam gang, pikirnya. Ia kemudian menunduk mengambil bola sepak yang terlempar ke jalanan sambil mengusap-usap belakang kepalanya ketika empat anak laki-laki berlari ke arahnya sambil meneriakkan permintaan maaf.

 Keempat anak itu terengah ketika sampai di hadapannya, meminta maaf dan meminta bola mereka. Mereka lebih seperti anak-anak yang baru selesai bergulat di lumpur sawah daripada bermain bola di gang. Ale tersenyum pada anak-anak itu dan mengembalikan bolanya. Salah satu dari mereka bertanya, “Oom mau ke mana?”

Mereka ini anak lokal, pikir Ale, mereka pasti tau alamat yang Ale cari.

Ale menerangkan alamat tujuannya dan meminta tolong anak-anak itu untuk menunjukkan jalan. Keempat anak itu berpandangan, salah satunya bertanya lagi, “Oom kenapa mau ke sana? Mau cari siapa?”

“Itu rumah kakak oom, kebetulan Oom ada urusan…” Ale berhenti sejenak, “Memangnya kenapa dik?”

Anak berbaju kuning menatap Ale dengan pandangan menyelidik,”Oom yakin itu rumah kakaknya? Ngga salah alamat kan?”

Ini mulai aneh, pikir Ale. Memangnya ada apa di sana?

“Oom ngga tau ya, rumah itu ada hantunya,” lanjut anak paling tinggi.

Ale diam sejenak, menimbang-nimbang apakah anak-anak ini bergurau atau serius; memikirkan kemungkinan mencari jalannya sendiri ketika akhirnya anak yang berperawakan paling besar membuka suara,”Yaudah deh Oom, kami anterin. Tapi nanti apapun yang terjadi jangan salahin kami yaaa.”

Ale tertawa kecil dan menyetujuinya. Sambil berjalan, ia mulai berpikir bahwa anak-anak ini tadi memang bergurau. Ah, anak-anak jaman sekarang…

Mereka berjalan beriringan sambil sesekali anak-anak itu mencuri pandang ke arah Ale dan tertawa geli. Menganggap ini bagian dari gurauan mereka, Ale ikut tertawa dengan anak-anak itu sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah serba biru dengan pagar biru langit. Nah, ini benar. Persis.

Ale berjalan mendekati pagar dan memencet bel, sementara empat anak tadi berdiri di seberang jalan. Katanya, mereka takut karena rumah itu ada hantunya. Ale tertawa geli, pikirnya, anak-anak itu masih mencoba memainkan gurauan mereka.

Pintu terbuka dan seorang lelaki keluar dari dalam rumah. Raut mukanya berubah pucat ketika memandang anak-anak di seberang jalan.

Anak-anak itu berteriak histeris sambil menutup telinga mereka.

Ale tertegun. Di depan matanya, mereka meleleh; menjadi genangan lumpur.

Sydney, 270417, 2343
Ling

 

rare

Galeri

Chemical Weapon, Penistaan di Abad 21

Kesal, sedih, takut, malu…

Itu beberapa kata yang mungkin bisa menggambarkan perasaan saya ketika mengetahui serangan gas beracun di Provinsi Idlib, Suriah. Ratusan warga sipil tewas. Di satu rumah, seorang ayah harus kehilangan istri dan dua anak kembarnya. Sementara di rumah yang lain, seluruh anggota keluarga terbujur kaku dengan mata terbelalak. Di pinggiran jalan, anak-anak kecil tak berdosa hanya bisa meregang nyawa dengan mulut berbusa, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal untuk kedua orang tuanya.

Penyebabnya adalah gas sarin yang mungkin masih asing di telinga sebagian orang, termasuk saya. Lantas saya langsung mencari tahu apa sebenarnya gas sarin tersebut, bagaimana struktur dan efek sampingnya jika seseorang terpapar oleh gas sarin. Dan, waw! hasilnya cukup mengejutkan. Walaupun sebenarnya tak asing bagi saya mengetahui betapa berbahayanya zat-zat kimia yang sering saya gunakan untuk research dan terkadang efeknya baru bisa dirasakan setelah bertahun-tahun kemudian. Namun, efek super cepat dalam hitungan menit bahkan detik pun bisa saja dialami. Contoh sederhana yang pernah saya alami adalah bolongnya sepatu converse saya yang notabene masih baru (saat itu) hanya terkena satu tetes asam sulfat! Atau gatal-gatal di kulit setelah terkena natrium hidroksida (NaOH), pusing kepala setelah lama bekerja menggunakan pelarut dicholoromethane (DCM) atau chloroform sepertinya hal ter-simpel yang bisa dialami.

Kembali lagi berbicara mengenai gas sarin

Sarin (GB, O-isopropyl methylphosphonofluoridate) merupakan agen syaraf yang termasuk ke dalam golongan organofosfat (OP). Dalam dosis tinggi, sarin ini menyebakan tremor, kejang-kejang, dan hipotermia. Lebih lanjut lagi, senyawa ini menyebabkan penumpukan acetylcholin (Ach) di sistem syaraf pusat yang menyebabkan paralysis, sesak nafas, dan akhirnya berujung pada kematian.

Bukan yang pertama

Serangan di Suriah beberapa hari yang lalu bukanlah kali pertama penggunaan sarin sebagai chemical weapon. Setelah sebelumnya, di tahun 1994 dan 1995, zat yang sama digunakan di Matsumoto dan Tokyo, Jepang yang menyebabkan ribuan orang terkena paparan gas sarin dan tewasnya puluhan orang. Lebih kejamnya lagi, di tahun 2013 sekitar 1700 warga sipil meninggal akibat serangan gas sarin di Ghouta, Suriah.

Penistaan

Sebagai orang yang menekuni bidang kimia, saya sangat, amat, benar-benar kesal atas serangan yang entah itu mengatasnamakan politik, kekuasaan, atau apapun alasan-alasan yang saya gak bisa pahami. Kasarnya, ingin rasanya “ngegoblok-goblokin” pelaku, pengambil keputusan di balik semua serangan itu, walaupun sebenarnya ga ada gunanya. Tapi, helloooo, come on, chemicals as weapon dipake buat ngebunuh orang itu udah sangat biadab! Saya belajar banyak tentang kimia. Di satu sisi, saya terkagum-kagum karena manusia bisa mensintesis begitu banyak senyawa hingga akhirnya bisa digunakan untuk medication, cancer treatment. Tapi, di sisi yang lain, chemicals justru dipakai sebagai senjata pemusnah massal.Ga ada pembenaran atas apapun media yang digunakan untuk membunuh. Serangan Suriah kemarin itu benar-benar meruntuhkan kekaguman saya atas ilmu kimia yang sudah saya geluti dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Ini yang saya takutkan. Belajar suatu ilmu tapi ga dibarengi dengan iman yang kuat. Kasarnya, untuk sintesis bahan peledak atau zat beracun lain, saya pun bisa. Tapi, buat apa? Penggunaan ilmu yang ga sesuai sama koridornya menurut saya sudah termasuk ke dalam kategori penistaan. Entah kebobrokan seperti apa lagi yang akan disuguhkan oleh dunia, yang mengatasnamakan dirinya orang pintar.

Heal the world

Heal the world

make it a better place

for you and for me

and the entire human race

Reference:

Donia, M. B. A.; Siracuse, B.; Gupta, N.; Sokol, A. S. Crit. Rev. Toxicol. 2017, 46 (10), 845-875.

Salam perdamaian,

Vidia

Galeri

Sketpro #1 : Ale dan café

Pukul delapan malam dan hujan deras. Ale berlari menuju coffeeshop langganannnya yang terletak di ujung jalan tempat ia tinggal. Ia masuk dan mendapati pojok favoritnya diisi orang lain; Seorang wanita dengan blus krem dan rok bunga-bunga yang seketika mendongak ketika melihat Ale masuk.

Wanita itu, seperti segala yang ada di café langganannya ini, adalah hal yang dia akrabi tanpa ia pernah tau siapa dan darimana. Wanita yang selalu disuguhi latte dan pancake tanpa topping. Wanita yang selalu memakai rok bunga-bunga. Wanita yang selalu mengikat rambutnya dengan pita putih.

Ale menepi, bermaksud mencari meja lain. Tetapi wanita itu tersenyum, menunjukkan gesture tidak keberatan untuk berbagi meja. Mereka berhadapan dalam diam, dengan Ale yang berulang kali menoleh ke counter menunggu pesanannya datang.

Ketika long black Ale datang ke meja, wanita itu sudah menghabiskan setengah pancakenya sambil membaca sebuah buku. Baru kali ini mereka ada dalam jarak sedekat itu. Ale memperhatikannya diam-diam ; jemari kurus kuning langsat tanpa tanda-tanda cincin pernikahan atau pertunangan, rambut lurus kecokelatan sepanjang siku, dan alis yang tebal dan rapi. Bukunya hari ini adalah “Pride and Prejudice” oleh Jane Austen.

Ale mengumpulkan keberanian untuk menyapa dan mengajak wanita ini mengobrol. Tapi membicarakan apa? Siapa dia?

Wanita itu menutup bukunya, ganti memandang Ale yang sedang berusaha mengumpulkan keberanian. Wanita itu tersenyum, memasukkan bukunya ke dalam tas dan berdiri. “Terima kasih selalu datang,” katanya, lalu berjalan ke luar café.

Ale tercabik antara keinginan untuk mengejar atau tetap diam dan melupakan kejadian barusan. Rasanya terlambat, wanita itu pasti sudah cukup jauh untuk dikejar. Ah, tapi wanita itu sering datang kan? Pelayan café pasti tau siapa dia.

Ale menghela napas, menghabiskan sisa kopinya dan berjalan ke counter untuk menanyakan tentang wanita tadi. Detik itu juga matanya menangkap pemandangan sebuah bingkai foto dengan wajah wanita itu di dekat mesin kasir.

“Itu foto siapa?” tanyanya.

Pelayan café merendahkan suaranya dan menjawab, “Itu Helena, anak pemilik café. Dia meninggal dua tahun lalu. Sayang sekali, padahal masih sangat muda.”

Ale tersentak dan berusaha menguatkan diri. Ia berbalik menuju pintu keluar dan tertegun.

Wanita itu menunggunya di depan pintu.

030417. 1708 AEST.
_Ling_

P_20151220_114223.jpg

Galeri

(Mungkin) Karena Saya Lapar

Kesepian merembes sepanjang jalan
Membentuk hari yang lalu pergi
Lepas itu aku sadar
Di bawah sana kau mengendap serupa parasit

Kau tawarkan adonan anggur
Berlapis sari ceri
Yang kulumat dalam kepalamu

Kepala parasit
Tok. Tok.
Larikan loyang-loyang dan panggangan!

Selai kacang dan gula batu
menempel di lelangit mulut
ambil kendali atas mulutmu
Tuangkan rum dan arak
pada perapian yang meminta dedaunan
memaksamu memuntahkan ramuan tadi pagi
bit, akar gurdy, eucalyptus, lily hutan dan daun jengkol
sisakan pias pada wajah eskrim berry birumu

masih mengendap
“Gulali gulala gulalu,” katamu
Kupeluk setumpuk gula kapas
“aku masih lapar,” kataku
131114.2047

PS: tulisan ini saya buat november 2014 lalu, ketika saya harus lembur dan tidak bisa keluar kantor karena hujan. tulisan ini saya benahi lagi hari ini karena keadaannya sama : lembur dan tertahan hujan.
bedanya saya dulu lembur kerjaan, sekarang lembur mengerjakan tugas kuliah. nasib mahasiswa :’)

judul aslinya Eliksir Kamis, tapi sekarang ini masih senin dini hari. 

dan saya juga (tampaknya) lapar…

_Ling_

P_20151208_201836.jpg