Galeri

Lelaki Bernama Bulan (1)

dari Rae tentang Ale (bagian satu)

 

yang ia minta padaku hanya cerita,
mengundang semu merah di cuping telinga dan bukit pipi

kadang ia meminta waktuku.
kadang ia meminta kartu pos,
tapi sesekali, ia meminta dedaunan. hanya dedaunan.

meja di sudut,
tempat ia biasa memesan secangkir kopi dan sesisir roti
roti selai srikaya dan cokelat
lalu ditutup dengan es krim yang juga cokelat

lelaki itu muncul dan menghilang
lelampu yang mengikutinya pun timbul tenggelam.

 

dps, 060218
_Ling_

Galeri

Storiette #1: Wanita Tua dan Jalanan

Pukul satu pagi… 

Rum terbangun di kamarnya yang gelap di lantai 2. Sesaat, ia belum menyadari apa yang membuatnya terbangun. Matanya masih mengerjap menatap langit-langit yang gelap lalu ia dikejutkan oleh suara teriakan seorang wanita di jalanan di bawah. Wanita di luar terdengar meracau dan berteriak-teriak seperti orang mabuk. Kamar Rum terletak di atas sebuah restoran yang lokasinya persis di tepi jalan besar, sehingga apapun yang terjadi di jalan hampir selalu terdengar dari kamarnya. Biasanya Rum akan mengabaikan suara-suara di jalanan, tapi kali ini ia merasa tertarik untuk mengamati dan membuka tirainya lebar-lebar.

Wanita di jalanan tadi masih meracau tidak jelas dari tempatnya duduk di trotoar. Rambutnya putih dan kusut, pakaiannya berlapis-lapis. Wanita itu membawa botol di tangan kanannya, dengan tas selempang besar tersampir di bahu kirinya. Ia tampak meluruskan kakinya sebelum bersenandung serak dan mengumpati mobil-mobil yang lewat di hadapannya. Homeless, mungkin ia mabuk, pikir Rum. Rum lalu mengalihkan matanya dari jalanan dan mulai membaringkan badannya kembali. Matanya mulai mengatup dan ia mulai tertidur.

Pukul dua pagi…

Rum terbangun lagi, dan kali ini ia tahu apa yang membuatnya terbangun. Suara pecahan kaca dan tiang jalanan yang dipukul berulang-ulang terdengar jelas dari kamarnya. Rum memandang jalan dan melihat wanita mabuk tadi sekarang duduk bersandar di tiang bus stop dan memukul tiang itu sambil memaki dan meracau. Di seberang jalan, seorang wanita pirang berjalan cepat-cepat ke arah parkiran, mencoba menghindari kontak mata dengan wanita yang mabuk tadi. Si wanita mabuk berteriak memanggilnya dengan kata-kata kasar, dan ketika ia menyadari bahwa wanita pirang itu tak menoleh, ia berteriak semakin keras. Wanita mabuk itu mengambil batu dan melempar tepat mengenai kepala si wanita pirang. Kedua wanita itu saling berbalas umpatan; wanita pirang lalu lari menuju mobilnya sementara wanita yang mabuk tadi tertawa sempoyongan.

Rum mendekatkan pandangannya ke jendela, membatin betapa mengerikannya jalanan kota asing itu di malam hari. Ia melihat ke seberang jalan lagi dan melihat tiga orang laki-laki berseragam polisi mendekati wanita tua itu. Wanita itu terlihat memberontak ketika salah satu polisi memegang lengannya. Wanita itu berteriak dan menggigit tangan polisi tadi. Dua polisi lainnya mencoba meredakan emosi si wanita, tapi tantrumnya makin menjadi-jadi. Ia melemparkan batu-batu, pecahan botol dan potongan kayu kepada mereka. Lemparan itu mengenai wajah, perut dan kaki para polisi. Polisi-polisi itu pun berjalan menjauh dan sayup-sayup terdengar akan mendatangkan penjemput lainnya. Suasana hening lagi, yang terdengar hanya samar-samar suara wanita tadi bersenandung sendiri. Pertunjukan selesai, pikir Rum. Ia pun kembali membaringkan badannya dan tertidur.

Tapi tidur Rum tidak tenang. Ia memimpikan wanita tua yang mabuk di pinggir jalan, memimpikannya menari di jalanan yang berubah menjadi danau es bersana seorang lelaki muda tampan berrambut seperti Elvis. Mereka menari dalam tempo cepat yang membuat danau es mulai bergolak. Wanita itu kembali meneriakkan kata-kata tak jelas yang ditelan suara ombak danau es yang mencair. Lelaki muda yang menari bersamanya mulai mengeluarkan belati perak sambil mendekati wanita tua tadi. Mereka menari, mengapung di tengah danau dan lelaki itu mengiris pipi si wanita tua. Belati itu kemudian merobek perutnya. Darahnya menetes ke danau, mengubah danau menjadi merah. Danau merah itu meluas, tangan-tangan muncul dari dalamnya dan mulai mengejar Rum. Suara tawa si wanita tua terdengar nyaring dan dingin dan Rum berlari sekencang-kencangnya. Danau merah itu tiba-tiba mendidih dan pandangan Rum tiba-tiba silau.

Pukul enam pagi…

Suara teriakan panik bersahut-sahutan di jalan di bawah. Rum terbangun untuk ketiga kalinya dan kali ini ia benar-benar terjaga. Rum menatap ke luar melalui jendelanya, lalu melihat kerumunan orang berkumpul di depan tempat tinggalnya.

Rum mengenakan jubah kamar dan turun ke arah jalanan, ingin memastikan apa yang terjadi di depan tempat tinggalnya itu. Ia menyeruak kerumunan; apa yang ia lihat bukan hal yang menyenangkan.

Wanita tua yang semalam mabuk itu kini terbaring kaku di jalan. Ada bekas lebam di kepala, wajah dan kakinya; bekas gigitan berdarah di tangannya, dan luka sayatan di pipinya. Sisa badannya ditutupi koran bekas sementara orang-orang menunggu polisi dan ambulan datang. Beberapa orang bertukar bisikan tentang apa yang mereka lihat ketika jasad wanita itu baru ditemukan dan belum ditutupi koran. Rum mendengarkan dengan seksama dan terkesiap;

Wanita itu pagi tadi ditemukan dengan luka menganga pada perutnya dan belati perak di tangan kanannya.

Sydney, 211217, 2226
_Ling_

Galeri

Hari Esok pun Saya Suka

Entah kenapa, saya suka dengan langit Sydney sore ini.
Biru-keunguan. Ada warna merah mudanya juga.
Hujannya pun saya suka.
Adem.
Sepertinya segala sesuatu yang akan ditinggalkan malah menunjukkan sisi terbaiknya.

Rupanya ada yang sedang menari-nari mengisi pikiran saya. Sesekali saya teringat konser Coldplay tahun kemarin tepat di bulan ini yang berhasil membuat saya susah move on. Like, seriously, it was too good! Secara tak sengaja, saya ingat bagaimana dulu ayah saya mengantarkan saya ke sekolah. Memakai sepeda dan saya duduk anteng di depan karena ayah saya sengaja menyiapkan kursi rotan kecil di belakang stang. Kursi boncengan ini rasanya dulu sempat menjadi primadona. Tetapi tidak untuk sekarang. Saya pun ingat bagaimana dulu saya ingin sekali pergi ke Melbourne untuk alasan yang saya pun ga tahu. Yang pasti saya ingin kesana. Sampai-sampai, saya menulis keinginan itu di sebuah buku. Dan tiga tahun kemudian saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di kota yang berhasil membuat saya terpesona. Bahkan beberapa bulan lalu saya kembali mengunjungi Melbourne walaupun untuk sebuah conference. 

Rupanya pula pikiran saya terlalu sibuk menari-nari. Ahh, sudahlah, beberapa jam lagi saya akan meninggalkan kota ini. Sudah saatnya saya kembali packing.

Hari esok pun pasti saya suka.

🙂

 

Salam,

Vidia

Galeri

Sketpro #7: mALEngering

Lelaki itu duduk di sebuah rumah minum, memandang mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalanan di luar. Di seberang rumah minum tempat ia duduk, ia melihat sebuah bangunan berwarna mencolok; didominasi kaca dengan bingkai warna biru cerah, dan dihiasi stiker pelangi besar di kacanya. Tempelan berbentuk hati berwarna pelangi dengan tulisan “Love is Love”, “Love needs No Reason” dan “We are Equal” juga terlihat meramaikan hiasan di kaca jendela besar itu. Melalui kaca, lelaki itu bisa melihat bahwa tempat itu juga adalah rumah minum, tetapi dengan jenis minuman yang berbeda.

Lelaki itu menyeruput kopinya sambil tetap memandang ke luar jendela. Suhu di luar hari ini mencapai 35 derajat celcius, dan ia enggan beranjak dari tempat ia duduk. Hari itu kering dan tidak berangin, padahal minggu lalu kota itu baru dilanda hujan badai. Sambil meletakkan cangkirnya kembali ke meja, ia berpikir mengenai apa yang terjadi padanya minggu lalu di hari hujan itu. Kilasan samar-samar tentang rumah minum teh, susu yang tertuang ke dalam minuman, pembicaraan membingungkan dan sosok bernama Rae. Yang ia ingat terakhir kali adalah wanita itu perlahan-lahan menghilang dari hadapannya sebelum ia sendiri merasa limbung dan pening. Berikutnya, ia sudah terbangun di kamarnya sendiri. Awalnya Ale berpikir bahwa mungkin ia pingsan lagi di rumah minum tersebut (dan Ale benci jika memang itu yang terjadi), lalu seseorang menggotongnya ke rumahnya. Tapi Ale kemudian menemukan bahwa kamarnya terkunci dari dalam dengan gerendel dalam terpasang dengan kuat. Ale pun tak melihat satu pun pesan dari Pie yang menggiringnya menuju The Manor. Ale lalu berpikir bahwa itu hanya mimpi, dan mulai melupakan kejadian itu. Namun pagi ini, Ale melihat jejak terakhir pemakaian kartu transportasi di aplikasi telepon genggamnya. Minggu lalu Ale ternyata menggunakan kartu itu untuk pergi ke halte dekat rumah minum. Ale kemudian mengecek rekam jejak kartu debitnya dan hatinya mencelos ketika melihat bahwa minggu lalu terdapat transaksi pembelian minuman di The Manor.

Aku sudah gila, pikirnya.

Pintu rumah minum terbuka, seorang wanita masuk dan langsung menuju counter untuk memesan minuman. Ale mengalihkan pandangannya dari jalanan ke wanita itu. Penampilannya tidak terlalu mencolok, tapi aroma parfumnya cukup tajam dan Ale merasa kenal dengan aroma itu. Ale berusaha mengingat-ingat lalu kemudian tersentak.

Melati. Seperti tisu beraroma melati yang ketika itu diberikan oleh seorang wanita di pesawat.

Ale berusaha meyakinkan diri bahwa aroma itu adalah aroma yang bisa saja digunakan oleh banyak orang, bukan hanya wanita itu. Wanita itu berbalik setelah selesai memesan dan matanya tertangkap oleh Ale.

Benar. Wanita itu, wanita yang sama dengan wanita yang Ale temui di pesawat. Wanita bernama Amber yang tak pernah lagi bertemu dengannya sejak kejadian di pesawat tempo hari.

Amber tersenyum menghampiri Ale, sementara Ale bingung harus berreaksi seperti apa. Wanita itu mengambil kursi di hadapan Ale dan bertanya, “Apa kabar?”

Ale bahkan tak bisa menjawab kecuali dengan tersenyum kaku. Kenapa semua hal yang ia anggap tak nyata tiba-tiba muncul dengan cara tak terduga.

“Ale, bukan?”

Ale ingin menjawab, tapi bahkan untuk menganggukkan kepala pun ia tak bisa. Badannya terasa dingin, jantungnya berdebar dan ia rasanya ingin muntah. Perasaannya mirip seperti orang yang sedang menghadapi ujian tapi lupa belajar sehari sebelumnya. Pandangannya memburam, dan ia merasa tak mampu menatap Amber.

“Kamu Ale, bukan?”

Ale memberanikan diri menatap Amber, dan seketika itu pula ia rasanya ingin pusing lalu pingsan. Atau sekalian saja kesurupan, pikirnya.

Amber tersenyum, “Ah, tampaknya kau sudah bertemu Rae. Benar kan? Kurasa sebentar lagi mereka akan datang. Iya, Amber dan Rae. Mereka akan datang menemuimu.”

Ale mendengus, ketakutannya kini beralasan. Wanita-wanita ini tampaknya berkaitan satu sama lain; Amber, Pie, Rae. Ale merasa seperti masuk ke dalam ruang sidang dengan tiga hakim tanpa ia tahu salahnya apa dan tanpa ia tahu hukuman macam apa yang menunggu di hadapannya.

Aku sudah gila, pikirnya lagi.

Ale menatap kopinya; ah, ingin rasanya ia menenggelamkan diri ke dalam cangkirnya.

 

syd, 141217, 1819 AEST
_Ling_

Galeri

Melahirkan Anak Rohani

‘Anak, Anak-anak, Anak-anakan’

Mendefinisikan kata ‘anak’ adalah sesuatu yang unik; beberapa orang akan sesederhana mengatakan bahwa anak merupakan ‘buah cinta dari laki-laki dan wanita’, sementara yang lain dapat menggambarkan anak dengan kata-kata puitis menyentuh hati; harta paling berharga yang tidak bisa disamakan dengan hal indah lain di dunia.

Beberapa orang mengusahakan segala cara untuk bisa memiliki anak sendiri, sementara beberapa lainnya tega membuang anak begitu saja karena mereka tidak siap dan tidak menginginkannya. Sebagian orang terobsesi untuk cepat-cepat memiliki anak, sementara sebagian lainnya menunda kehadirannya dengan berbagai alasan.

Saya sendiri sejak dahulu benar-benar ingin memiliki anak. Tapi anak yang saya ingin miliki pada saat sekarang ini mungkin tidak seperti anak yang ingin dimiliki orang kebanyakan.

Saya ingin memiliki Anak Rohani. Atau begitulah orang biasa menyebutnya. 

Keinginan memiliki anak rohani ini sebenarnya sudah muncul sejak saya SD, tapi waktu itu saya belum mengerti bahwa itulah istilahnya. Ketika menginjak usia SMP, saya mulai mengakrabkan diri dengan anak-anak rohani orang lain (bahkan terobsesi pada salah satunya sampai sekarang). Ketika itu saya berpikir kalau nanti saya akan punya anak-anak rohani yang bisa bersanding dengan anak-anak orang lain ini. Parenting anak rohani ini tidak memiliki standar, masa konsepsi dan ‘mengandung’nya pun berbeda-beda untuk tiap orangtua. Orangtua dari anak-anak yang saya akrabi kala itu rata-rata bisa mengasuh lebih dari empat anak -dan semua anaknya dikenal dunia- pada saat yang bersamaan; pencapaian yang luar biasa mengagumkan bagi saya yang kala itu clueless mengenai parenting anak rohani ini.
Ketika saya beranjak SMA, lebih banyak lagi anak-anak rohani orang lain yang mampir pulang pergi ke tempat saya. Saya pun mulai memberanikan diri untuk mengkonsepsi anak saya sendiri. Saya merancang tingkahnya seperti apa, matanya, rambutnya, petualangannya. Anak itu mulai tumbuh tapi masih sekedar tumbuh, hilang muncul sesuka hati. Anak itu dulu saya namai Arwish, anak laki-laki yang hobi mencari jalan alternatif di tengah kemacetan. Arwish ada di berbagai macam petualangan yang kami rancang bersama, mulai dari melaporkan atasan yang korup hingga ia yang tersesat dalam mimpi berlapis. Arwish membayangi saya bertahun-tahun, meminta dilahirkan secara utuh dan bukan tercecer di sana sini. Saya membawa kekhawatiran yang bercokol di perut saya ke mana-mana, khawatir Arwish diambil orang lain tetapi saya sendiri belum mampu untuk mengandung dan melahirkannya. Arwish akhirnya menciut dan menghilang, sesekali masih menghantui mimpi-mimpi saya tapi tak menuntut lagi seperti dulu.

Ketika kuliah, saya melompat dari satu arena ke arena lain, masih berpikir untuk melahirkan anak tetapi kali ini saya memilih untuk mencoba mengasuh anak-anak tak bernama yang tidak akan menghantui saya seperti yang telah dilakukan oleh Arwish. Sampai akhirnya sekitar satu setengah tahun lalu, pikiran untuk memiliki anak rohani itu kembali muncul. Kali ini, saya disesatkan ke jalan yang benar oleh seseorang yang punya daya cipta jauh melebihi saya. Jika dulu Arwish saya rancang sebagai anak biasa di dunia biasa, maka anak rancangan kami kali ini memiliki dunianya sendiri. Parenting untuk anak seperti ini akan jadi jauh lebih berat, tapi partner saya mengatakan bahwa kali ini anak itu akan benar-benar kami lahirkan. Menanggung beban mengandung dan melahirkan berdua itu mungkin memang lebih mudah.

Anak ini, yang belum kami namai, sempat terdorong ke belakang pikiran kami masing-masing; ketika itu mungkin situasi sedang sulit untuk kami. Saya sendiri ketika itu sedang mengkonsep saudara Arwish, namanya Ale. Ale yang jadi muse saya sejak tahun lalu selalu protes tiap kali saya temui, karena Ale selalu menemui kesialan tiap kali berpetualang dengan saya. Ale memang tidak se-demanding Arwish, tapi saya merasa memilki tanggung jawab untuk melahirkan Ale secara utuh suatu hari nanti. Kesalahan yang saya lakukan pada Arwish saya harap tidak terjadi lagi pada Ale maupun pada anak saya (dan partner) nanti.

Kali ini kami kembali merancang masa depan si anak; rambutnya, matanya, sifatnya, petualangannya. Si Anak baru yang namanya masih kami cari-cari ini tampaknya harus menunggu sedikit lebih lama sampai saya men-submit semua assignment semester ini. Nantinya ketika anak ini lahir, saya harap anak ini bisa berteman baik dengan Harry, Ron, Hermione dan Frodo. Hehehe.

PS: Ketika saya menulis ini, Ale mengintip dari belakang dan berulang kali berbisik,”Jadi, apa itu artinya aku nyata? Apa Rae juga nyata?”

Haiya, Sudahlah nak. Aku belum siap memberikan kesialan lain untukmu. 

 

Sydney, 031117. 1439 AEST
_Ling_

 

Galeri

Sketpro #6: Ale dan Rae

Ale tak ingin mempercayai matanya. Wanita itu benar-benar ada di depan matanya sekarang. Wanita itu duduk di hadapan Ale, di sebuah meja di sudut The Manor, mengaduk pelan earl grey yang masih mengepulkan uap tipis. Ale menggeser cangkirnya mendekat, mencelupkan sendok lalu mulai mengaduk teh melati pesanannya. Bunga melati segar di dalamnya masih mengambang, gula yang Ale tuangkan ke dalamnya pun tak juga larut. Wanita di hadapannya menambahkan susu ke dalam tehnya, sudah tuangan ketiga sejak pesanan mereka datang.

Setengah jam berlalu penuh keheningan. Ale ingin lari dari tempat ini; tapi pandangan mata wanita itu terlalu menusuk untuk dia abaikan. Sosok yang selama ini Ale berusaha hindari karena rasanya terlalu imajiner itu ternyata benar-benar ada. Solid dan nyata. Sosok imajiner tidak mungkin bisa mengaduk teh, bukan?

“Ale..,” sosok itu membuka suara.

Benar, pikir Ale. Rae adalah nyata dan Ale bisa mendengar suaranya.

“Ale..,” kata Rae lagi,”Kebetulan macam apa yang bisa mempertemukan kita di sini?”

Ale pun bingung dan merasa mendadak gagu. Ya, kebetulan macam apa?

“Ale, aku tak pernah berani menganggap kamu adalah nyata,”lanjut Rae,”aku menghabiskan waktu sejauh ini, menghindar dari segala hal yang bisa membawa jalanku kembali kepadamu; aku berusaha menganggap kamu adalah tidak nyata…”

Harusnya aku yang berkata begitu, pikir Ale.

“Kenapa kamu bisa sampai di sini?” tanya Rae.

“Seorang teman mengundangku untuk datang ke rumah minum ini, tapi ternyata dia sendiri tidak datang,” sahut Ale.

Rae mendadak mematung, dan Ale menyadari perubahannya yang mendadak. “Kenapa?” tanyanya.

Pandangan Rae menerawang, lalu ia menghela napas dan memejamkan mata.”Pie?” bisik Rae.

Giliran Ale yang diam. Rae mengenal Pie, jadi Rae memang benar-benar senyata itu.

“Jadi, selama ini kamu adalah nyata?” tanya Ale.

Rae memandang Ale, lalu memandang cangkir Ale. Ale masih mengaduk teh melatinya dengan gerakan memutar. “Lalu, menurutmu aku tak pernah nyata?”sahut Rae.

Ale menghindari memandang mata Rae yang menusuk, dan lebih memilih memandang tangan Rae yang kali ini menuangkan susu pada tehnya lagi. Ini tuangan yang ke empat.

Tangan yang mengaduk teh itu perlahan memudar. Tangan lain yang menuangkan susu itu perlahan menjadi bayangan.

Meja di sudut itu sedari tadi kosong.

 

Syd, 161017,1934 AEST.
_Ling_

 

 

Galeri

Sketpro #5: Rae dan Pie

Lelaki itu bahkan tidak mau menampakkan dirinya di hadapan Rae. Tidak lewat suara maupun tulisan. Rae sebenarnya sudah tidak terlalu peduli, jika saja ia tak berulang kali memimpikan lelaki itu. Rae sembuh, lebih sembuh dari sebelum-sebelumnya. Tapi apa yang ia lihat belakangan ini mau tak mau membuatnya panas dingin.

Rae sudah melewati masa-masa mual muntah karena lelah dan sesak memikirkan kemungkinan-kemungkinan di hadapannya. Sekalipun ia tau bahwa sesaknya lebih dikarenakan ekspektasinya, tapi tetap saja sesekali Rae mengkhawatirkan lelaki yang tak berkabar itu. Rae buta akan semua kesalahan yang (mungkin) lelaki itu lakukan dan tuli terhadap apa yang dikatakan orang tentang lelaki itu. Kini Rae memilih untuk bisu, menahan kata-kata yang mungkin bisa ia keluarkan untuk melampiaskan sesaknya.

Rae meraih telepon genggamnya, melirik sekilas layarnya dan meletakkannya kembali ke atas nakas. Pukul sepuluh pagi. Rae harusnya sudah berjalan menuju working space-nya yang terletak di pusat kota asing itu. Asing, karena Rae tak berasal dari sana. Asing, karena Rae tau kota ini padat luar biasa tapi ia merasa seperti tidak mengenal siapa-siapa. Namun hari ini Rae memilih untuk mengurung diri, tidak ada yang menunggunya datang; mereka hanya menunggu hasil kerja Rae yang sudah selesai. Rae menyusun rencana untuk menghibur diri sepanjang hari ini. Berbelanja (jus apel, yogurt, chips, susu), ke salon; rambutnya perlu ganti warna, mungkin warna gold. Atau burgundi. Atau biru cerah. Atau…

Telepon genggamnya bergetar. Satu notifikasi masuk mengusik kegiatannya menyusun rencana di kepala. Rupanya notifikasi dari salah satu rekan kerjanya. “Meet me at The Manor. 11.30 a.m. Thanks.”

Tidak biasanya rekannya semendadak itu. Rae membalas pesannya,”You just ruined my me-time plan, Pie -.- What’s the matter?” Rae menekan tombol send lalu mulai bangun dari tempat tidurnya. Rae harus mandi kalau begini ceritanya.

Telepon genggamnya bergetar lagi dan Rae segera membuka pesan yang masuk. “It’s not a work-related thing, dear. You won’t regret this. Trust me~

Baik, ini di luar kebiasaan Pie. Tidak biasanya Pie serba rahasia dan semendadak ini. Aneh. Tapi, ah, apa salahnya kalau Rae menuruti apapun yang direncanakan Pie? Sepertinya ini lebih seru daripada mengganti warna cat rambut.

Pukul 11; Rae sudah siap ke luar rumah menuju The Manor, sebuah rumah minum teh tempat Pie meminta ia datang. Apa pun yang disiapkan oleh anak itu pasti sesuatu yang menyenangkan, karena bahkan ia tak mau mengatakan sedikit clue pun pada Rae. Masih belum paham kenapa dirinya bisa se-impulsif ini, Rae menaiki bus pertama yang berhenti di halte depan rumahnya.

Di perjalanan, Rae melewati sebuah tempat ibadah yang dua bulan sebelumnya menjadi tempatnya menangis hingga sesak. Rae tertawa; betapa ia pernah merasa sejatuh itu. Ketika Rae memutuskan untuk benar-benar lepas dan pasrah, ia ternyata tak lagi sesak, tak lagi merasa mual dan mulai bisa menertawakan dirinya sendiri. Pengurus rumah ibadah itu pun sampai menghadiahi Rae dengan sebuah buku tentang terus bernapas. Bernapas dengan benar. Bernapas…

Bus yang Rae tumpangi berhenti di halte dekat The Manor. Rae turun dan mengingatkan dirinya lagi untuk bernapas, lalu merasa geli sendiri. Selama ini ia bernapas dengan otomatis, akhir-akhir ini ia baru menyadari bahwa terkadang ia memang harus diingatkan untuk bernapas.

Rae berjalan di belokan terakhir menuju The Manor. Sesampainya di ujung jalan, ia tertegun. Matanya pasti salah lihat. Pikirannya pasti sedang bermain-main dengannya.

Lelaki itu berdiri tepat di depan The Manor. Lelaki yang sama yang tak pernah menampakkan dirinya, yang selama ini menghantui mimpi-mimpi Rae. Berdiri di sana, utuh, masih persis seperti yang Rae ingat.

Rae mulai membisikkan “bernapas, Rae, bernapas,” berulang-ulang sambil berjalan mendekati tempat lelaki itu berdiri. Rae masih tak habis pikir. Rae merasa semua tak masuk akal. Rae setengah berharap lelaki itu tidak nyata ketika lelaki itu menoleh ke arahnya dan membeku.

Jika ini adalah komik romantis, maka sudah bisa dipastikan akan ada angin berhembus membawa guguran daun melintas di antara mereka. Tapi sayangnya, ini bukan komik. Manusia-manusia di sekitar mereka masih berlalu lalang tanpa peduli kalau dunia kecil Rae sedang berhenti.

Bernapas, Rae.

Lelaki itu membuka suara, “Rae?”

Lelaki itu nyata. Rae mengingatkan dirinya untuk bernapas lagi sebelum mengkonfirmasi identitas lelaki itu.

“Ale?”

Lelaki itu mengangguk. Pandangan Rae tetiba gelap.

 

 

-syd, 280817, 0017-
Ling

 

Galeri

Ada yang Menunggu

Miring

“Saya sudah penat dengan dunia yang mulai menggila, ga kondusif, dan penuh prasangka buruk.

Saya penat dengan orang-orang yang hobinya men-judge orang lain seenak jidat.

Saya muak dengan orang-orang yang bertingkah juga seenak jidat, ga pake mikir dulu. Kalaupun mikir, isi pikirannya miring semua!”

Ahhh, sudahlah, terlalu kesal rupanya.

Sibuk

Saya masih berkutat dengan sejumlah data yang mesti diproses. Masih duduk di kursi yang sama, satu jam pun belum. Mungkin akan masih disini untuk beberapa jam ke depan. Rutinitas. Setidaknya begitulah orang-orang sibuk itu menyebutnya. Berbicara tentang sibuk, terkadang saya kesal dengan mereka-mereka yang sibuknya bukan main. Mereka lupa segalanya. Tapi, tetap ada satu hal yang saya yakini, saya selalu bisa pulang dan bersandar. Seyakin bahwa akan selalu ada yang menunggu.

 

Bukankah begitu, Mas?

 

8.22 pm

Vidia

Galeri

Oliver Brown

kopi dan donat
notion dan semiotika
berdampingan dan berjalan

tanpa sadar,

aku mengenakan semiotika dalam setiap pilihan kata
kera-kera yang berlarian di kepala
hingga lelampu yang dikejar kala

aku mengenakan notion dalam setiap larik
meyakini akar dari rima
mengakari yakin dari koma hingga titik

aku menatap jalanan
menghitung satu demi satu;
mobil, sepeda, bus, manusia…
kedai mie, rumah teh, salon, café kopi…
pagar besi, lampu lalu lintas, telepon umum…

aku menunduk,
mengingat satu demi satu
Alé, Pie, Amber, Roya…
wabah, pencegahan, penanggulangan, perencanaan…

Retrovertigo mengalun,
kepalaku berputar

Aku perlu kopi

 

Syd, 290717, 2042
Ling

*hasil perbincangan panjang dengan Eve mengenai ‘notion and semiotics in material’, sepulang dari menggelandang ke sebuah gallery* 

photo_2017-07-29_20-46-52