Galeri

Oliver Brown

kopi dan donat
notion dan semiotika
berdampingan dan berjalan

tanpa sadar,

aku mengenakan semiotika dalam setiap pilihan kata
kera-kera yang berlarian di kepala
hingga lelampu yang dikejar kala

aku mengenakan notion dalam setiap larik
meyakini akar dari rima
mengakari yakin dari koma hingga titik

aku menatap jalanan
menghitung satu demi satu;
mobil, sepeda, bus, manusia…
kedai mie, rumah teh, salon, café kopi…
pagar besi, lampu lalu lintas, telepon umum…

aku menunduk,
mengingat satu demi satu
Alé, Pie, Amber, Roya…
wabah, pencegahan, penanggulangan, perencanaan…

Retrovertigo mengalun,
kepalaku berputar

Aku perlu kopi

 

Syd, 290717, 2042
Ling

*hasil perbincangan panjang dengan Eve mengenai ‘notion and semiotics in material’, sepulang dari menggelandang ke sebuah gallery* 

photo_2017-07-29_20-46-52

Galeri

Hujan

Labil

Malam ini (11 pm) Kingsford diguyur hujan. Kali ini, ramalan cuaca di ponsel saya sedang berfungsi dengan baik. Kebiasaan melihat prediksi cuaca di pagi hari sebelum beraktivitas menjadi salah satu dari sekian banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan di Indonesia. Alasannya? Hmm, cuaca disini cepat sekali berubah – labil.

Klise

Terkadang saya kesal dengan hujan. Apalagi hujan ditambah dengan angin yang cukup kencang. Tak ayal, payung apa adanya hanya akan berujung di tong sampah karena tak mampu memberikan perlawanan berarti. Tetapi bagi sebagian orang, hujan menjadi momentum yang paling ditunggu karena selepasnya pelangi akan melengkung di langit. Klise.

Hujan

Hujan – salah satu momentum yang paling mustajab untuk dikabulkannya doa. Kalau begitu, bolehkah saya berdoa? Berdoa agar tidak ada lagi bentuk intimidasi, kekerasan, ancaman, dan permusuhan. Berdoa agar tidak ada lagi orang-orang dengan pikiran yang sempit, close-minded, dan egosentris yang luar biasa.

Ahhh, tapi tetap saja ada yang mengganjal. Maka, Tuhan, bolehkah saya berdoa? Berdoa untuk dia yang sangat saya rindukan.

 

 

-Vidia-

 

 

photo_2017-10-22_19-56-14.jpg

Galeri

Pulang

Hari ini, Sabtu malam, 3 Juni 2017, 8.02 pm. Suhu Kingsford berhenti di angka 14 derajat. Musim dingin rupanya telah tiba.

Pesawat 5cm Di Atas Rumah

Bising. Kali ini, tiap malam selalu bising. Pertama, gegara pekerjaan konstruksi lintasan kereta api ringan (light rail transit; LRT) yang nantinya akan menghubungkan Circular Quay dengan Eastern suburb; Randwick dan Kingsford. Lintasan ini akan terbentang sepanjang 12 km. Walaupun mungkin saya ga akan bisa menggunakan transportasi ini karena LRT dijadwalkan mulai beroperasi di tahun 2019. Terkadang saya berpikir, seharusnya kami-kami ini diberikan kompensasi atas polusi suara yang ditimbulkan akibat pekerjaan konstruksi. Ahh, tapi ya sudah lah, lebih baik dinikmati saja. Kedua, gegara pesawat yang bersliweran di atas rumah. Sepertinya sudah musimnya. Hingga beberapa bulan ke depan, jumlah pesawat terbang yang melintas akan semakin banyak seperti tahun lalu. Tahun lalu, saya datang ke Sydney di bulan Juli, tepat di musim dingin. Sejak pertama saya datang hingga sekitar bulan September, kalo kurang kerjaan, dari jendela kamar saya suka liatin pesawat yang mondar-mandir. Jumlahnya banyak. Ga sedikit pesawat yang terbang rendah dengan suara sekian puluh desibel. Kadang, saya suka menakar berapa kira-kira jarak pesawat itu dengan atap rumah saya. Mungkin 5cm.

Pulang

Mungkin, sudah saatnya juga untuk pulang. Pulang kemana? Pulang untuk siapa?

Satu hal yang pasti, ada keluarga dan orang-orang yang rindu di rumah.

 

 

-Vidia-