Galeri

Rigby

aku terus-menerus menghukum diriku
dengan mengingatmu dan sore di bangku taman

jalanan kembali bising
mobil-mobil lewat satu per satu
putih, hitam, merah, hijau tua, biru, kuning
motor-motor menderu
anak-anak berlarian

anak-anak tak terlihat
berlarian dan tertabrak bolak-balik
bola dan balon yang mereka dapatkan dari penjual ayam di ujung gang sedang mereka mainkan berramai-ramai
balon-balon serupa warna mobil
putih, hitam, merah, hijau tua, biru, kuning

“rupa-rupa warnanya,” kenangmu kala itu
di bangku taman, sore itu tak kunjung berakhir
tapi aku dan wanita batu itu sama-sama tau siapa yang menginginkan akhir

matahari terbenam pukul sepuluh malam
ah, persetan.
Eleanor Rigby masih saja bungkam.

 

dps, 170618, 2333
Amorita

Galeri

Lelaki Bernama Bulan (2)

Matahari terik, lalu hujan

Pelangi melintang; petir membujur

Lalu apa lagi yang bisa kau keluhkan?
botol-botol kosong itu tak lagi berbunyi
hanya karena angin berhenti bertiup

Kau kenakan lagi boots cokelat tua yang dulu pernah kau buang
kau sisipkan bunga di ujungnya,
yang sore kemarin masih bertangkai
yang pagi tadi masih berduri

Amorita
dps, 260318, 1443 WITA

Galeri

Melahirkan Anak Rohani

‘Anak, Anak-anak, Anak-anakan’

Mendefinisikan kata ‘anak’ adalah sesuatu yang unik; beberapa orang akan sesederhana mengatakan bahwa anak merupakan ‘buah cinta dari laki-laki dan wanita’, sementara yang lain dapat menggambarkan anak dengan kata-kata puitis menyentuh hati; harta paling berharga yang tidak bisa disamakan dengan hal indah lain di dunia.

Beberapa orang mengusahakan segala cara untuk bisa memiliki anak sendiri, sementara beberapa lainnya tega membuang anak begitu saja karena mereka tidak siap dan tidak menginginkannya. Sebagian orang terobsesi untuk cepat-cepat memiliki anak, sementara sebagian lainnya menunda kehadirannya dengan berbagai alasan.

Saya sendiri sejak dahulu benar-benar ingin memiliki anak. Tapi anak yang saya ingin miliki pada saat sekarang ini mungkin tidak seperti anak yang ingin dimiliki orang kebanyakan.

Saya ingin memiliki Anak Rohani. Atau begitulah orang biasa menyebutnya. 

Keinginan memiliki anak rohani ini sebenarnya sudah muncul sejak saya SD, tapi waktu itu saya belum mengerti bahwa itulah istilahnya. Ketika menginjak usia SMP, saya mulai mengakrabkan diri dengan anak-anak rohani orang lain (bahkan terobsesi pada salah satunya sampai sekarang). Ketika itu saya berpikir kalau nanti saya akan punya anak-anak rohani yang bisa bersanding dengan anak-anak orang lain ini. Parenting anak rohani ini tidak memiliki standar, masa konsepsi dan ‘mengandung’nya pun berbeda-beda untuk tiap orangtua. Orangtua dari anak-anak yang saya akrabi kala itu rata-rata bisa mengasuh lebih dari empat anak -dan semua anaknya dikenal dunia- pada saat yang bersamaan; pencapaian yang luar biasa mengagumkan bagi saya yang kala itu clueless mengenai parenting anak rohani ini.
Ketika saya beranjak SMA, lebih banyak lagi anak-anak rohani orang lain yang mampir pulang pergi ke tempat saya. Saya pun mulai memberanikan diri untuk mengkonsepsi anak saya sendiri. Saya merancang tingkahnya seperti apa, matanya, rambutnya, petualangannya. Anak itu mulai tumbuh tapi masih sekedar tumbuh, hilang muncul sesuka hati. Anak itu dulu saya namai Arwish, anak laki-laki yang hobi mencari jalan alternatif di tengah kemacetan. Arwish ada di berbagai macam petualangan yang kami rancang bersama, mulai dari melaporkan atasan yang korup hingga ia yang tersesat dalam mimpi berlapis. Arwish membayangi saya bertahun-tahun, meminta dilahirkan secara utuh dan bukan tercecer di sana sini. Saya membawa kekhawatiran yang bercokol di perut saya ke mana-mana, khawatir Arwish diambil orang lain tetapi saya sendiri belum mampu untuk mengandung dan melahirkannya. Arwish akhirnya menciut dan menghilang, sesekali masih menghantui mimpi-mimpi saya tapi tak menuntut lagi seperti dulu.

Ketika kuliah, saya melompat dari satu arena ke arena lain, masih berpikir untuk melahirkan anak tetapi kali ini saya memilih untuk mencoba mengasuh anak-anak tak bernama yang tidak akan menghantui saya seperti yang telah dilakukan oleh Arwish. Sampai akhirnya sekitar satu setengah tahun lalu, pikiran untuk memiliki anak rohani itu kembali muncul. Kali ini, saya disesatkan ke jalan yang benar oleh seseorang yang punya daya cipta jauh melebihi saya. Jika dulu Arwish saya rancang sebagai anak biasa di dunia biasa, maka anak rancangan kami kali ini memiliki dunianya sendiri. Parenting untuk anak seperti ini akan jadi jauh lebih berat, tapi partner saya mengatakan bahwa kali ini anak itu akan benar-benar kami lahirkan. Menanggung beban mengandung dan melahirkan berdua itu mungkin memang lebih mudah.

Anak ini, yang belum kami namai, sempat terdorong ke belakang pikiran kami masing-masing; ketika itu mungkin situasi sedang sulit untuk kami. Saya sendiri ketika itu sedang mengkonsep saudara Arwish, namanya Ale. Ale yang jadi muse saya sejak tahun lalu selalu protes tiap kali saya temui, karena Ale selalu menemui kesialan tiap kali berpetualang dengan saya. Ale memang tidak se-demanding Arwish, tapi saya merasa memilki tanggung jawab untuk melahirkan Ale secara utuh suatu hari nanti. Kesalahan yang saya lakukan pada Arwish saya harap tidak terjadi lagi pada Ale maupun pada anak saya (dan partner) nanti.

Kali ini kami kembali merancang masa depan si anak; rambutnya, matanya, sifatnya, petualangannya. Si Anak baru yang namanya masih kami cari-cari ini tampaknya harus menunggu sedikit lebih lama sampai saya men-submit semua assignment semester ini. Nantinya ketika anak ini lahir, saya harap anak ini bisa berteman baik dengan Harry, Ron, Hermione dan Frodo. Hehehe.

PS: Ketika saya menulis ini, Ale mengintip dari belakang dan berulang kali berbisik,”Jadi, apa itu artinya aku nyata? Apa Rae juga nyata?”

Haiya, Sudahlah nak. Aku belum siap memberikan kesialan lain untukmu. 

 

Sydney, 031117. 1439 AEST
_Ling_

 

Galeri

Oliver Brown

kopi dan donat
notion dan semiotika
berdampingan dan berjalan

tanpa sadar,

aku mengenakan semiotika dalam setiap pilihan kata
kera-kera yang berlarian di kepala
hingga lelampu yang dikejar kala

aku mengenakan notion dalam setiap larik
meyakini akar dari rima
mengakari yakin dari koma hingga titik

aku menatap jalanan
menghitung satu demi satu;
mobil, sepeda, bus, manusia…
kedai mie, rumah teh, salon, café kopi…
pagar besi, lampu lalu lintas, telepon umum…

aku menunduk,
mengingat satu demi satu
Alé, Pie, Amber, Roya…
wabah, pencegahan, penanggulangan, perencanaan…

Retrovertigo mengalun,
kepalaku berputar

Aku perlu kopi

 

Syd, 290717, 2042
Ling

*hasil perbincangan panjang dengan Eve mengenai ‘notion and semiotics in material’, sepulang dari menggelandang ke sebuah gallery* 

photo_2017-07-29_20-46-52

Galeri

Sketpro #4: Ale dan Pie

Ale terduduk di tengah kebun (yang ia yakini sebagai kebun teh), dan menyaksikan perdu-perdu teh itu berkembang dengan sendirinya. Beberapa tangkainya memanjang serupa sulur, merayap menuju kaki Ale, lalu menggelitiki telapak kakinya. Ale tertawa geli, lalu terbahak. Seketika Ale terbahak, seketika itu juga sulur-sulur the itu menjerat kakinya. Tawanya berubah menjadi teriakan ketika ia terseret ke dalam kubangan lumpur yang berpendar hijau. Lumpur itu mengubah tangannya menjadi elastis serupa tentakel tetapi berkuku panjang seperti cakar. Kaki kanannya mulai bersisik, sedangkan kaki kirinya ditumbuhi bulu lebat. Kubangan yang berpendar hijau itupun mulai mendidih, menguarkan aroma amis. Beberapa detik kemudian, Ale kehilangan suaranya; teriakannya berubah menjadi serupa ringkikan kuda. Ale takut terhadap dirinya sendiri. Ale berenang menuju tepi kubangan ketika ia menyadari ada sesuatu yang menariknya lebih dalam…

Ale terbangun. Berkeringat dingin dan terengah-engah, Ale melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keberadaannya. Tangan Ale gemetar, dan Ale berulang kali memastikan jumlah jarinya (Total masih sepuluh dan berwarna kulit). Ale pun berulang kali melihat kakinya, memastikan bahwa kaki itu tetap kaki; bukan ekor duyung atau tentakel gurita. Seorang pramugari mendatangi Ale dengan tatapan cemas sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang diterima Ale dengan lega. Setelah pramugari tersebut memastikan bahwa penumpangnya itu baik-baik saja, Ale meneguk separuh habis air mineralnya dalam sekali minum. Ale melempar pandangan ke luar jendela, memastikan bahwa sayap pesawat yang sekarang ia lihat adalah sayap pesawat yang sama dengan yang tadi ia lihat sebelum jatuh tertidur.

Teh lagi. Sial, pikirnya.

Ale baru saja mengalami salah satu mimpi paling aneh dalam hidupnya. Sejauh yang bisa ia ingat, mimpi aneh terakhir yang masih membekas adalah mimpi tertimpa gajah hijau tua yang seluruh tubuhnya dikerubuti semut biru ketika Ale kelas 1 SMP. Yang Ale ingat, mimpi itu muncul setelah Ale menonton Jumanji, Smurf dan Kera Sakti di hari pertama liburan sekolah. Mimpi itu membekaskan rasa ngeri di benak Ale setiap kali melihat semut bergerombol hingga ia memasuki masa SMA. Tapi sekarang, mimpi aneh yang ia alami rasanya berbeda. Ale tau akhir-akhir ini ia terlalu overthinking, paranoid, merasa diawasi, merasa diteror, atau apapun itu istilahnya. Ale sadar bahwa mimpi ini mungkin saja bagian dari ekspresi ketakutannya. Tapi tetap saja, bermimpi begini di tengah perjalanan menuju daerah antah berantah bukan merupakan suatu hal yang bagus.

“Kamu berkeringat. Silakan pakai ini.” Wanita yang duduk di sebelah Ale, penumpang yang ia tak tau namanya, mengulurkan selembar tisu kepadanya. Ale tersenyum simpul dan menerimanya. Penerbangan panjang ini ternyata tak cocok baginya. Total waktu penerbangannya 18 jam, ditambah transit luar biasa lama di Vietnam membuat Ale merasa pegal dan mual; kehilangan koordinasi dan kesadaran terhadap waktu. Jendela pesawat gelap, tapi pikirannya membuncah penuh energi; dan ketika jendela pesawat terang, Ale merasakan kantuk yang teramat sangat. mungkin lelah itu juga yang membuat mimpi Ale terasa begitu nyata. Ale melap keringat dengan tisu pemberian wanita di sebelahnya ketika menyadari aromanya berbeda. Aroma melati.

Wanita itu tersenyum,”Aromanya menyenangkan ya? Untuk yang baru saja bermimpi buruk, aroma ini katanya bisa menenangkan. Saya masih ada yang lain kalau kamu mau.”

Mau tak mau, Ale tersenyum lagi sambil mengucapkan terima kasih. Ale seperti mengenal wanita itu, tapi susah mengingat di mana dan kapan. Wanita itu memandang Ale dan kemudian mengulurkan tangan, “Pie.”

“Maaf?” kata Ale, “Pie?”

“Iya, namaku Pie,” wanita itu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lucu, seperti anak kecil.

Ale membalas uluran tangannya, “Ale.”

“Pertama kali penerbangan panjang ya?” tanyanya lagi; dan kalimat itu menjadi kalimat pembuka percakapan mereka.

Ini adalah kali pertama Ale merasa senang ada yang mengajak ia mengobrol di pesawat. Obrolan mereka mengalir, tentang tujuan, pekerjaan, asal, lalu entah bagaimana, perbincangan itu kembali mengarah ke selembar tisu beraroma melati ketika pesawat bersiap untuk mendarat.

“Kenapa melati?” tanya Ale.

“Itu seperti menanyakan ‘kenapa namamu Pie?’. Well, aku tak pernah paham. mungkin karena aromanya tidak memaksa.”

“Memaksa?”

“Ya. Aromanya tidak menyengat, sedikit-sedikit saja tapi berkelanjutan. Mengalir terus tapi tak pernah sangat menusuk. Aku juga suka rasanya ketika dicampur dengan teh, apalagi sekarang kita sedang menuju tempat yang memang khas dengan tehnya kan…”

Teh lagi. Ale sampai lupa bahwa tempat yang ia kunjungi ini adalah negeri pecinta teh nomor satu. Teh. Jangan-jangan…

Lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah padam; Pesawat telah mendarat di Heathrow Airport, London.

Ale bersiap turun dari pesawat ketika Pie berkata padanya,”Hati-hati dengan Earl Grey ya…”
Pie kemudian menyelinap di antara penumpang yang lain tanpa memberi Ale kesempatan untuk menjawab. Pie berhenti sejenak dan melanjutkan,”Jangan lupa kartu posnya!”

Kartu pos?

Pie tak bisa ia temukan di antara kerumunan yang mengantri bagasi dan antrian imigrasi. Ale merutuk karena mereka juga tak bertukar kontak. Seketika itu, Ale ingat bahwa ia belum mengabari penjemput dari kantornya. Ale menyalakan ponselnya, lalu menghubungkannya dengan WiFi airport. Ponselnya langsung penuh notifikasi yang kemudian ia cek satu-satu sambil menunggu jemputan. Notifikasi email kantor, chatgroup, notifikasi Facebook, Twitter, dan..

Satu notifikasi yang rasanya janggal tertangkap olehnya. Notifikasi Instagram.

“pieamber.pie started following you”

Ale terdiam. Amber lagi?

 

Vietnam, 180717; 1915
Ling

Ale Pie

Galeri

Linimasa

Ada yang mau mengkudeta Tuhan
Mempertanyakan kesahihanNya
Memberikan cap mana yang benar mana yang salah
Seenak udelnya

toleran pada intoleransi
intoleran pada toleransi
apa pula ini

sesorean,
langit mendung dan berpikir ulang

dulu aku membayangkanMu sesederhana main petak umpet bersama, lalu menyalakan api unggun dan bernyanyi pelangi-pelangi
atau naik bianglala dan main perosotan bersama-sama

Tuhan mau dikudeta
Astaga.

Entahlah.
Mungkin mereka kurang piknik.
: yuk nyanyi pelangi-pelangi.

Syd, 250117. 1730
_Ling_

PS: tulisan ini saya buat setelah membaca linimasa sosial media twitter dan facebook yang penuh silang pendapat, terutama terkait Pilkada DKI Jakarta. Saya tidak mengerti mengapa ini bisa menjadi isu masif yang mewabah di hampir seluruh penjuru Indonesia. Apa karena DKI Jakarta ibukota? Atau karena terlalu banyak sorotan media yang berpusat di sana? 

Saya hanya lelah. Saya merasa ini memang peristiwa besar, tapi jika peristiwa ini sampai membuat orang terpecah belah, mengelompokkan dan melabeli orang berdasarkan preferensi paslon pilihannya, saya rasa ini sudah keterlaluan. 

Meminjam istilah orang-orang, ‘yang minum-minum itu di Jakarta, tapi yang mabuk seluruh Indonesia’. 

Saya hanya berharap semua keriweuhan ini cepat selesai dan linimasa saya kembali aman damai sejahtera. Saya sih jauh lebih ikhlas melihat linimasa yang dipenuhi unggahan foto pernikahan dan bayi-bayi lucu menggemaskan ketimbang unggahan foto atau meme provokatif. Aman tenang damai sentosa. 

Palingan endingnya baper aja sih ketika menyadari bahwa orang-orang yang unggah foto-foto itu adalah teman-teman seangkatan saya… *sembunyi di pojokan* 

have a good day!