Taut

Autumn in Sydney

Sejauh ini, musim gugur bisa dikatakan sebagai musim favorit saya. Sesederhana karena warnanya, mungkin. Warna-warna tanah; gradasi cokelat hingga kuning, ditambah merah di beberapa sisi. Meskipun tidak di semua tempat, warna-warna kecokelatan yang nemplok di sudut-sudut kampus lumayan bikin saya merasa hangat-hangat gimana gitu haha..

Apa cuma karena warna cokelat?

Ya. Mungkin saja. Eh, tapi… Entahlah.

Padahal saya seringkali ngomel-ngomel gara-gara angin musim gugur yang sering keterlaluan kencangnya, hujan tengah hari di hari yang tadinya cerah, lalu matahari yang munculnya sesuka hati.

Padahal saya sering merutuk karena hari bermatahari makin lama rasanya makin pendek.

Padahal saya juga jadi sering mengurung diri di library atau di kamar karena dinginnya mulai menggigit.photo_2017-05-09_15-30-23

Tapi saya tetap suka.

Mungkin karena panasnya tidak seterik summer (yang kalau di sini di beberapa daerah bisa mencapai 45derajat Celcius). Mungkin karena dinginnya tidak sebeku winter. Mungkin juga karena hujannya tidak sesering spring.

Ah, mungkin karena saya akan merindukan cuaca swing-swing ini ketika sudah pulang nanti.

Sydney, 090517, 2352AEST
_Ling_

Galeri

Sketpro #2: Alé dan Raré

          “Lurus, belok kanan, lurus lagi sampai rumah warna hijau, cari gang nomor empat, rumah biru di ujung kiri. Lurus, belok kanan…” kata Ale berulang-ulang. Sore hari itu ia terpaksa harus berjalan kaki menuju alamat kakaknya karena sepedanya dicuri orang di parkiran kantor. Awalnya ia ingin memesan ojek online, namun niatnya ia urungkan ketika ia menyadari bahwa dompetnya tertinggal di rumah dan telepon genggamnya kehabisan daya. Dengan sisa uang di saku yang hanya cukup untuk membeli dua bungkus permen karet, akhirnya ia memutuskan untuk mencari bantuan ke tempat terdekat yang terlintas di pikirannya: rumah baru kakaknya.

Rumah itu memang hanya sepuluh menit berjalan kaki dari kantornya dan merupakan rumah yang mudah diingat ; cat serba biru dengan pagar biru langit. Yang membebani Ale hanya satu; rumah itu terletak di belantara gang yang sambung menyambung seperti labirin. Ale bukan pengingat jalan yang baik, dan ia tau ia hampir pasti tersesat. Tapi bagaimanapun, itu satu-satunya tempat yang bisa ia datangi saat ini.

Ale berjalan lagi dan menghela napas lega ketika sampai di depan rumah hijau. Kali ini ia tersenyum puas, merasa bahwa ingatannya akan jalan sudah bisa diandalkan. Pandangannya berkeliling, dia sekarang hanya perlu mencari gang nomor empat…

Plak! Sesuatu menubruk belakang kepala Ale. Sebuah bola; pasti anak-anak yang sedang main sepakbola di dalam gang, pikirnya. Ia kemudian menunduk mengambil bola sepak yang terlempar ke jalanan sambil mengusap-usap belakang kepalanya ketika empat anak laki-laki berlari ke arahnya sambil meneriakkan permintaan maaf.

 Keempat anak itu terengah ketika sampai di hadapannya, meminta maaf dan meminta bola mereka. Mereka lebih seperti anak-anak yang baru selesai bergulat di lumpur sawah daripada bermain bola di gang. Ale tersenyum pada anak-anak itu dan mengembalikan bolanya. Salah satu dari mereka bertanya, “Oom mau ke mana?”

Mereka ini anak lokal, pikir Ale, mereka pasti tau alamat yang Ale cari.

Ale menerangkan alamat tujuannya dan meminta tolong anak-anak itu untuk menunjukkan jalan. Keempat anak itu berpandangan, salah satunya bertanya lagi, “Oom kenapa mau ke sana? Mau cari siapa?”

“Itu rumah kakak oom, kebetulan Oom ada urusan…” Ale berhenti sejenak, “Memangnya kenapa dik?”

Anak berbaju kuning menatap Ale dengan pandangan menyelidik,”Oom yakin itu rumah kakaknya? Ngga salah alamat kan?”

Ini mulai aneh, pikir Ale. Memangnya ada apa di sana?

“Oom ngga tau ya, rumah itu ada hantunya,” lanjut anak paling tinggi.

Ale diam sejenak, menimbang-nimbang apakah anak-anak ini bergurau atau serius; memikirkan kemungkinan mencari jalannya sendiri ketika akhirnya anak yang berperawakan paling besar membuka suara,”Yaudah deh Oom, kami anterin. Tapi nanti apapun yang terjadi jangan salahin kami yaaa.”

Ale tertawa kecil dan menyetujuinya. Sambil berjalan, ia mulai berpikir bahwa anak-anak ini tadi memang bergurau. Ah, anak-anak jaman sekarang…

Mereka berjalan beriringan sambil sesekali anak-anak itu mencuri pandang ke arah Ale dan tertawa geli. Menganggap ini bagian dari gurauan mereka, Ale ikut tertawa dengan anak-anak itu sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah serba biru dengan pagar biru langit. Nah, ini benar. Persis.

Ale berjalan mendekati pagar dan memencet bel, sementara empat anak tadi berdiri di seberang jalan. Katanya, mereka takut karena rumah itu ada hantunya. Ale tertawa geli, pikirnya, anak-anak itu masih mencoba memainkan gurauan mereka.

Pintu terbuka dan seorang lelaki keluar dari dalam rumah. Raut mukanya berubah pucat ketika memandang anak-anak di seberang jalan.

Anak-anak itu berteriak histeris sambil menutup telinga mereka.

Ale tertegun. Di depan matanya, mereka meleleh; menjadi genangan lumpur.

Sydney, 270417, 2343
Ling

 

rare

Galeri

(Mungkin) Karena Saya Lapar

Kesepian merembes sepanjang jalan
Membentuk hari yang lalu pergi
Lepas itu aku sadar
Di bawah sana kau mengendap serupa parasit

Kau tawarkan adonan anggur
Berlapis sari ceri
Yang kulumat dalam kepalamu

Kepala parasit
Tok. Tok.
Larikan loyang-loyang dan panggangan!

Selai kacang dan gula batu
menempel di lelangit mulut
ambil kendali atas mulutmu
Tuangkan rum dan arak
pada perapian yang meminta dedaunan
memaksamu memuntahkan ramuan tadi pagi
bit, akar gurdy, eucalyptus, lily hutan dan daun jengkol
sisakan pias pada wajah eskrim berry birumu

masih mengendap
“Gulali gulala gulalu,” katamu
Kupeluk setumpuk gula kapas
“aku masih lapar,” kataku
131114.2047

PS: tulisan ini saya buat november 2014 lalu, ketika saya harus lembur dan tidak bisa keluar kantor karena hujan. tulisan ini saya benahi lagi hari ini karena keadaannya sama : lembur dan tertahan hujan.
bedanya saya dulu lembur kerjaan, sekarang lembur mengerjakan tugas kuliah. nasib mahasiswa :’)

judul aslinya Eliksir Kamis, tapi sekarang ini masih senin dini hari. 

dan saya juga (tampaknya) lapar…

_Ling_

P_20151208_201836.jpg

Galeri

Linimasa

Ada yang mau mengkudeta Tuhan
Mempertanyakan kesahihanNya
Memberikan cap mana yang benar mana yang salah
Seenak udelnya

toleran pada intoleransi
intoleran pada toleransi
apa pula ini

sesorean,
langit mendung dan berpikir ulang

dulu aku membayangkanMu sesederhana main petak umpet bersama, lalu menyalakan api unggun dan bernyanyi pelangi-pelangi
atau naik bianglala dan main perosotan bersama-sama

Tuhan mau dikudeta
Astaga.

Entahlah.
Mungkin mereka kurang piknik.
: yuk nyanyi pelangi-pelangi.

Syd, 250117. 1730
_Ling_

PS: tulisan ini saya buat setelah membaca linimasa sosial media twitter dan facebook yang penuh silang pendapat, terutama terkait Pilkada DKI Jakarta. Saya tidak mengerti mengapa ini bisa menjadi isu masif yang mewabah di hampir seluruh penjuru Indonesia. Apa karena DKI Jakarta ibukota? Atau karena terlalu banyak sorotan media yang berpusat di sana? 

Saya hanya lelah. Saya merasa ini memang peristiwa besar, tapi jika peristiwa ini sampai membuat orang terpecah belah, mengelompokkan dan melabeli orang berdasarkan preferensi paslon pilihannya, saya rasa ini sudah keterlaluan. 

Meminjam istilah orang-orang, ‘yang minum-minum itu di Jakarta, tapi yang mabuk seluruh Indonesia’. 

Saya hanya berharap semua keriweuhan ini cepat selesai dan linimasa saya kembali aman damai sejahtera. Saya sih jauh lebih ikhlas melihat linimasa yang dipenuhi unggahan foto pernikahan dan bayi-bayi lucu menggemaskan ketimbang unggahan foto atau meme provokatif. Aman tenang damai sentosa. 

Palingan endingnya baper aja sih ketika menyadari bahwa orang-orang yang unggah foto-foto itu adalah teman-teman seangkatan saya… *sembunyi di pojokan* 

have a good day!