Galeri

Tengah Kota

Sajak tanah asing menunggu hujan
Langit mengabu, menggumpalkan biru
Biru 
: yang kemudian lari dari cawannya
yang lalu pergi, menyisakan abu

Kotaku tak pernah sama
ribuan keluh dan pertanyaan
: ya dan tidak

Mengapung kembali ke tepian
Meringkuk di sudut jalan 
aku masih tak paham
pada kabut di musim panas
dan hujan di bawah terik

Syd, 250117, 1611

Galeri

Nama Siapa?

mengapa kau mengganti namamu?

ada sesak yang menggenang di akhir tiap kalimatmu
“perempuan itu,” katamu, “meninggalkan tinta hitam di sudut meja.”

aku memandangmu
“Perempuan itu,” katamu lagi, “pergi dengan lelaki itu.”

aku menggenggam tanganmu
“Perempuan itu,” katamu sekali lagi, “tak kutemukan lagi kata untuk menggambarkan perempuan itu.”

yang kau katakan hanya tentang perempuan itu
ia kah alasan kau mengganti namamu?

 

Amorita
dps 041219 2303

Galeri

Rigby

aku terus-menerus menghukum diriku
dengan mengingatmu dan sore di bangku taman

jalanan kembali bising
mobil-mobil lewat satu per satu
putih, hitam, merah, hijau tua, biru, kuning
motor-motor menderu
anak-anak berlarian

anak-anak tak terlihat
berlarian dan tertabrak bolak-balik
bola dan balon yang mereka dapatkan dari penjual ayam di ujung gang sedang mereka mainkan berramai-ramai
balon-balon serupa warna mobil
putih, hitam, merah, hijau tua, biru, kuning

“rupa-rupa warnanya,” kenangmu kala itu
di bangku taman, sore itu tak kunjung berakhir
tapi aku dan wanita batu itu sama-sama tau siapa yang menginginkan akhir

matahari terbenam pukul sepuluh malam
ah, persetan.
Eleanor Rigby masih saja bungkam.

 

dps, 170618, 2333
Amorita

Galeri

Kepada Tuan

Kepada Tuan,

yang menyakitkan bagi saya adalah saya tidak bisa berada di dekatnya,
adalah saya yang terlalu jauh dan tak setiap saat melihatnya.

Kepada Tuan,
yang memilukan bagi saya adalah saya yang hanya bisa mendengar kabarnya lewat udara,
adalah saya yang tak sedikitpun mampu menggenggamnya.

Namun Tuan,
ada yang menyenangkan.
Yang menyenangkan adalah dia yang semakin kuat.

***

Rupanya milkshake malam ini membuat pikiran berkelana.
Jauh, namun tak pernah sampai.
Setidaknya untuk saat ini.

***

Sydney, 12.02 am.

Vidia

Galeri

Lelaki Bernama Bulan (2)

Matahari terik, lalu hujan

Pelangi melintang; petir membujur

Lalu apa lagi yang bisa kau keluhkan?
botol-botol kosong itu tak lagi berbunyi
hanya karena angin berhenti bertiup

Kau kenakan lagi boots cokelat tua yang dulu pernah kau buang
kau sisipkan bunga di ujungnya,
yang sore kemarin masih bertangkai
yang pagi tadi masih berduri

Amorita
dps, 260318, 1443 WITA

Galeri

Oliver Brown

kopi dan donat
notion dan semiotika
berdampingan dan berjalan

tanpa sadar,

aku mengenakan semiotika dalam setiap pilihan kata
kera-kera yang berlarian di kepala
hingga lelampu yang dikejar kala

aku mengenakan notion dalam setiap larik
meyakini akar dari rima
mengakari yakin dari koma hingga titik

aku menatap jalanan
menghitung satu demi satu;
mobil, sepeda, bus, manusia…
kedai mie, rumah teh, salon, café kopi…
pagar besi, lampu lalu lintas, telepon umum…

aku menunduk,
mengingat satu demi satu
Alé, Pie, Amber, Roya…
wabah, pencegahan, penanggulangan, perencanaan…

Retrovertigo mengalun,
kepalaku berputar

Aku perlu kopi

 

Syd, 290717, 2042
Ling

*hasil perbincangan panjang dengan Eve mengenai ‘notion and semiotics in material’, sepulang dari menggelandang ke sebuah gallery* 

photo_2017-07-29_20-46-52

Galeri

Sketpro #1 : Ale dan café

Pukul delapan malam dan hujan deras. Ale berlari menuju coffeeshop langganannnya yang terletak di ujung jalan tempat ia tinggal. Ia masuk dan mendapati pojok favoritnya diisi orang lain; Seorang wanita dengan blus krem dan rok bunga-bunga yang seketika mendongak ketika melihat Ale masuk.

Wanita itu, seperti segala yang ada di café langganannya ini, adalah hal yang dia akrabi tanpa ia pernah tau siapa dan darimana. Wanita yang selalu disuguhi latte dan pancake tanpa topping. Wanita yang selalu memakai rok bunga-bunga. Wanita yang selalu mengikat rambutnya dengan pita putih.

Ale menepi, bermaksud mencari meja lain. Tetapi wanita itu tersenyum, menunjukkan gesture tidak keberatan untuk berbagi meja. Mereka berhadapan dalam diam, dengan Ale yang berulang kali menoleh ke counter menunggu pesanannya datang.

Ketika long black Ale datang ke meja, wanita itu sudah menghabiskan setengah pancakenya sambil membaca sebuah buku. Baru kali ini mereka ada dalam jarak sedekat itu. Ale memperhatikannya diam-diam ; jemari kurus kuning langsat tanpa tanda-tanda cincin pernikahan atau pertunangan, rambut lurus kecokelatan sepanjang siku, dan alis yang tebal dan rapi. Bukunya hari ini adalah “Pride and Prejudice” oleh Jane Austen.

Ale mengumpulkan keberanian untuk menyapa dan mengajak wanita ini mengobrol. Tapi membicarakan apa? Siapa dia?

Wanita itu menutup bukunya, ganti memandang Ale yang sedang berusaha mengumpulkan keberanian. Wanita itu tersenyum, memasukkan bukunya ke dalam tas dan berdiri. “Terima kasih selalu datang,” katanya, lalu berjalan ke luar café.

Ale tercabik antara keinginan untuk mengejar atau tetap diam dan melupakan kejadian barusan. Rasanya terlambat, wanita itu pasti sudah cukup jauh untuk dikejar. Ah, tapi wanita itu sering datang kan? Pelayan café pasti tau siapa dia.

Ale menghela napas, menghabiskan sisa kopinya dan berjalan ke counter untuk menanyakan tentang wanita tadi. Detik itu juga matanya menangkap pemandangan sebuah bingkai foto dengan wajah wanita itu di dekat mesin kasir.

“Itu foto siapa?” tanyanya.

Pelayan café merendahkan suaranya dan menjawab, “Itu Helena, anak pemilik café. Dia meninggal dua tahun lalu. Sayang sekali, padahal masih sangat muda.”

Ale tersentak dan berusaha menguatkan diri. Ia berbalik menuju pintu keluar dan tertegun.

Wanita itu menunggunya di depan pintu.

030417. 1708 AEST.
_Ling_

P_20151220_114223.jpg

Galeri

(Mungkin) Karena Saya Lapar

Kesepian merembes sepanjang jalan
Membentuk hari yang lalu pergi
Lepas itu aku sadar
Di bawah sana kau mengendap serupa parasit

Kau tawarkan adonan anggur
Berlapis sari ceri
Yang kulumat dalam kepalamu

Kepala parasit
Tok. Tok.
Larikan loyang-loyang dan panggangan!

Selai kacang dan gula batu
menempel di lelangit mulut
ambil kendali atas mulutmu
Tuangkan rum dan arak
pada perapian yang meminta dedaunan
memaksamu memuntahkan ramuan tadi pagi
bit, akar gurdy, eucalyptus, lily hutan dan daun jengkol
sisakan pias pada wajah eskrim berry birumu

masih mengendap
“Gulali gulala gulalu,” katamu
Kupeluk setumpuk gula kapas
“aku masih lapar,” kataku
131114.2047

PS: tulisan ini saya buat november 2014 lalu, ketika saya harus lembur dan tidak bisa keluar kantor karena hujan. tulisan ini saya benahi lagi hari ini karena keadaannya sama : lembur dan tertahan hujan.
bedanya saya dulu lembur kerjaan, sekarang lembur mengerjakan tugas kuliah. nasib mahasiswa :’)

judul aslinya Eliksir Kamis, tapi sekarang ini masih senin dini hari. 

dan saya juga (tampaknya) lapar…

_Ling_

P_20151208_201836.jpg