Galeri

Storiette #1: Wanita Tua dan Jalanan

Pukul satu pagi… 

Rum terbangun di kamarnya yang gelap di lantai 2. Sesaat, ia belum menyadari apa yang membuatnya terbangun. Matanya masih mengerjap menatap langit-langit yang gelap lalu ia dikejutkan oleh suara teriakan seorang wanita di jalanan di bawah. Wanita di luar terdengar meracau dan berteriak-teriak seperti orang mabuk. Kamar Rum terletak di atas sebuah restoran yang lokasinya persis di tepi jalan besar, sehingga apapun yang terjadi di jalan hampir selalu terdengar dari kamarnya. Biasanya Rum akan mengabaikan suara-suara di jalanan, tapi kali ini ia merasa tertarik untuk mengamati dan membuka tirainya lebar-lebar.

Wanita di jalanan tadi masih meracau tidak jelas dari tempatnya duduk di trotoar. Rambutnya putih dan kusut, pakaiannya berlapis-lapis. Wanita itu membawa botol di tangan kanannya, dengan tas selempang besar tersampir di bahu kirinya. Ia tampak meluruskan kakinya sebelum bersenandung serak dan mengumpati mobil-mobil yang lewat di hadapannya. Homeless, mungkin ia mabuk, pikir Rum. Rum lalu mengalihkan matanya dari jalanan dan mulai membaringkan badannya kembali. Matanya mulai mengatup dan ia mulai tertidur.

Pukul dua pagi…

Rum terbangun lagi, dan kali ini ia tahu apa yang membuatnya terbangun. Suara pecahan kaca dan tiang jalanan yang dipukul berulang-ulang terdengar jelas dari kamarnya. Rum memandang jalan dan melihat wanita mabuk tadi sekarang duduk bersandar di tiang bus stop dan memukul tiang itu sambil memaki dan meracau. Di seberang jalan, seorang wanita pirang berjalan cepat-cepat ke arah parkiran, mencoba menghindari kontak mata dengan wanita yang mabuk tadi. Si wanita mabuk berteriak memanggilnya dengan kata-kata kasar, dan ketika ia menyadari bahwa wanita pirang itu tak menoleh, ia berteriak semakin keras. Wanita mabuk itu mengambil batu dan melempar tepat mengenai kepala si wanita pirang. Kedua wanita itu saling berbalas umpatan; wanita pirang lalu lari menuju mobilnya sementara wanita yang mabuk tadi tertawa sempoyongan.

Rum mendekatkan pandangannya ke jendela, membatin betapa mengerikannya jalanan kota asing itu di malam hari. Ia melihat ke seberang jalan lagi dan melihat tiga orang laki-laki berseragam polisi mendekati wanita tua itu. Wanita itu terlihat memberontak ketika salah satu polisi memegang lengannya. Wanita itu berteriak dan menggigit tangan polisi tadi. Dua polisi lainnya mencoba meredakan emosi si wanita, tapi tantrumnya makin menjadi-jadi. Ia melemparkan batu-batu, pecahan botol dan potongan kayu kepada mereka. Lemparan itu mengenai wajah, perut dan kaki para polisi. Polisi-polisi itu pun berjalan menjauh dan sayup-sayup terdengar akan mendatangkan penjemput lainnya. Suasana hening lagi, yang terdengar hanya samar-samar suara wanita tadi bersenandung sendiri. Pertunjukan selesai, pikir Rum. Ia pun kembali membaringkan badannya dan tertidur.

Tapi tidur Rum tidak tenang. Ia memimpikan wanita tua yang mabuk di pinggir jalan, memimpikannya menari di jalanan yang berubah menjadi danau es bersana seorang lelaki muda tampan berrambut seperti Elvis. Mereka menari dalam tempo cepat yang membuat danau es mulai bergolak. Wanita itu kembali meneriakkan kata-kata tak jelas yang ditelan suara ombak danau es yang mencair. Lelaki muda yang menari bersamanya mulai mengeluarkan belati perak sambil mendekati wanita tua tadi. Mereka menari, mengapung di tengah danau dan lelaki itu mengiris pipi si wanita tua. Belati itu kemudian merobek perutnya. Darahnya menetes ke danau, mengubah danau menjadi merah. Danau merah itu meluas, tangan-tangan muncul dari dalamnya dan mulai mengejar Rum. Suara tawa si wanita tua terdengar nyaring dan dingin dan Rum berlari sekencang-kencangnya. Danau merah itu tiba-tiba mendidih dan pandangan Rum tiba-tiba silau.

Pukul enam pagi…

Suara teriakan panik bersahut-sahutan di jalan di bawah. Rum terbangun untuk ketiga kalinya dan kali ini ia benar-benar terjaga. Rum menatap ke luar melalui jendelanya, lalu melihat kerumunan orang berkumpul di depan tempat tinggalnya.

Rum mengenakan jubah kamar dan turun ke arah jalanan, ingin memastikan apa yang terjadi di depan tempat tinggalnya itu. Ia menyeruak kerumunan; apa yang ia lihat bukan hal yang menyenangkan.

Wanita tua yang semalam mabuk itu kini terbaring kaku di jalan. Ada bekas lebam di kepala, wajah dan kakinya; bekas gigitan berdarah di tangannya, dan luka sayatan di pipinya. Sisa badannya ditutupi koran bekas sementara orang-orang menunggu polisi dan ambulan datang. Beberapa orang bertukar bisikan tentang apa yang mereka lihat ketika jasad wanita itu baru ditemukan dan belum ditutupi koran. Rum mendengarkan dengan seksama dan terkesiap;

Wanita itu pagi tadi ditemukan dengan luka menganga pada perutnya dan belati perak di tangan kanannya.

Sydney, 211217, 2226
_Ling_

Galeri

Sketpro #5: Rae dan Pie

Lelaki itu bahkan tidak mau menampakkan dirinya di hadapan Rae. Tidak lewat suara maupun tulisan. Rae sebenarnya sudah tidak terlalu peduli, jika saja ia tak berulang kali memimpikan lelaki itu. Rae sembuh, lebih sembuh dari sebelum-sebelumnya. Tapi apa yang ia lihat belakangan ini mau tak mau membuatnya panas dingin.

Rae sudah melewati masa-masa mual muntah karena lelah dan sesak memikirkan kemungkinan-kemungkinan di hadapannya. Sekalipun ia tau bahwa sesaknya lebih dikarenakan ekspektasinya, tapi tetap saja sesekali Rae mengkhawatirkan lelaki yang tak berkabar itu. Rae buta akan semua kesalahan yang (mungkin) lelaki itu lakukan dan tuli terhadap apa yang dikatakan orang tentang lelaki itu. Kini Rae memilih untuk bisu, menahan kata-kata yang mungkin bisa ia keluarkan untuk melampiaskan sesaknya.

Rae meraih telepon genggamnya, melirik sekilas layarnya dan meletakkannya kembali ke atas nakas. Pukul sepuluh pagi. Rae harusnya sudah berjalan menuju working space-nya yang terletak di pusat kota asing itu. Asing, karena Rae tak berasal dari sana. Asing, karena Rae tau kota ini padat luar biasa tapi ia merasa seperti tidak mengenal siapa-siapa. Namun hari ini Rae memilih untuk mengurung diri, tidak ada yang menunggunya datang; mereka hanya menunggu hasil kerja Rae yang sudah selesai. Rae menyusun rencana untuk menghibur diri sepanjang hari ini. Berbelanja (jus apel, yogurt, chips, susu), ke salon; rambutnya perlu ganti warna, mungkin warna gold. Atau burgundi. Atau biru cerah. Atau…

Telepon genggamnya bergetar. Satu notifikasi masuk mengusik kegiatannya menyusun rencana di kepala. Rupanya notifikasi dari salah satu rekan kerjanya. “Meet me at The Manor. 11.30 a.m. Thanks.”

Tidak biasanya rekannya semendadak itu. Rae membalas pesannya,”You just ruined my me-time plan, Pie -.- What’s the matter?” Rae menekan tombol send lalu mulai bangun dari tempat tidurnya. Rae harus mandi kalau begini ceritanya.

Telepon genggamnya bergetar lagi dan Rae segera membuka pesan yang masuk. “It’s not a work-related thing, dear. You won’t regret this. Trust me~

Baik, ini di luar kebiasaan Pie. Tidak biasanya Pie serba rahasia dan semendadak ini. Aneh. Tapi, ah, apa salahnya kalau Rae menuruti apapun yang direncanakan Pie? Sepertinya ini lebih seru daripada mengganti warna cat rambut.

Pukul 11; Rae sudah siap ke luar rumah menuju The Manor, sebuah rumah minum teh tempat Pie meminta ia datang. Apa pun yang disiapkan oleh anak itu pasti sesuatu yang menyenangkan, karena bahkan ia tak mau mengatakan sedikit clue pun pada Rae. Masih belum paham kenapa dirinya bisa se-impulsif ini, Rae menaiki bus pertama yang berhenti di halte depan rumahnya.

Di perjalanan, Rae melewati sebuah tempat ibadah yang dua bulan sebelumnya menjadi tempatnya menangis hingga sesak. Rae tertawa; betapa ia pernah merasa sejatuh itu. Ketika Rae memutuskan untuk benar-benar lepas dan pasrah, ia ternyata tak lagi sesak, tak lagi merasa mual dan mulai bisa menertawakan dirinya sendiri. Pengurus rumah ibadah itu pun sampai menghadiahi Rae dengan sebuah buku tentang terus bernapas. Bernapas dengan benar. Bernapas…

Bus yang Rae tumpangi berhenti di halte dekat The Manor. Rae turun dan mengingatkan dirinya lagi untuk bernapas, lalu merasa geli sendiri. Selama ini ia bernapas dengan otomatis, akhir-akhir ini ia baru menyadari bahwa terkadang ia memang harus diingatkan untuk bernapas.

Rae berjalan di belokan terakhir menuju The Manor. Sesampainya di ujung jalan, ia tertegun. Matanya pasti salah lihat. Pikirannya pasti sedang bermain-main dengannya.

Lelaki itu berdiri tepat di depan The Manor. Lelaki yang sama yang tak pernah menampakkan dirinya, yang selama ini menghantui mimpi-mimpi Rae. Berdiri di sana, utuh, masih persis seperti yang Rae ingat.

Rae mulai membisikkan “bernapas, Rae, bernapas,” berulang-ulang sambil berjalan mendekati tempat lelaki itu berdiri. Rae masih tak habis pikir. Rae merasa semua tak masuk akal. Rae setengah berharap lelaki itu tidak nyata ketika lelaki itu menoleh ke arahnya dan membeku.

Jika ini adalah komik romantis, maka sudah bisa dipastikan akan ada angin berhembus membawa guguran daun melintas di antara mereka. Tapi sayangnya, ini bukan komik. Manusia-manusia di sekitar mereka masih berlalu lalang tanpa peduli kalau dunia kecil Rae sedang berhenti.

Bernapas, Rae.

Lelaki itu membuka suara, “Rae?”

Lelaki itu nyata. Rae mengingatkan dirinya untuk bernapas lagi sebelum mengkonfirmasi identitas lelaki itu.

“Ale?”

Lelaki itu mengangguk. Pandangan Rae tetiba gelap.

 

 

-syd, 280817, 0017-
Ling

 

Galeri

Sketpro #4: Ale dan Pie

Ale terduduk di tengah kebun (yang ia yakini sebagai kebun teh), dan menyaksikan perdu-perdu teh itu berkembang dengan sendirinya. Beberapa tangkainya memanjang serupa sulur, merayap menuju kaki Ale, lalu menggelitiki telapak kakinya. Ale tertawa geli, lalu terbahak. Seketika Ale terbahak, seketika itu juga sulur-sulur the itu menjerat kakinya. Tawanya berubah menjadi teriakan ketika ia terseret ke dalam kubangan lumpur yang berpendar hijau. Lumpur itu mengubah tangannya menjadi elastis serupa tentakel tetapi berkuku panjang seperti cakar. Kaki kanannya mulai bersisik, sedangkan kaki kirinya ditumbuhi bulu lebat. Kubangan yang berpendar hijau itupun mulai mendidih, menguarkan aroma amis. Beberapa detik kemudian, Ale kehilangan suaranya; teriakannya berubah menjadi serupa ringkikan kuda. Ale takut terhadap dirinya sendiri. Ale berenang menuju tepi kubangan ketika ia menyadari ada sesuatu yang menariknya lebih dalam…

Ale terbangun. Berkeringat dingin dan terengah-engah, Ale melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keberadaannya. Tangan Ale gemetar, dan Ale berulang kali memastikan jumlah jarinya (Total masih sepuluh dan berwarna kulit). Ale pun berulang kali melihat kakinya, memastikan bahwa kaki itu tetap kaki; bukan ekor duyung atau tentakel gurita. Seorang pramugari mendatangi Ale dengan tatapan cemas sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang diterima Ale dengan lega. Setelah pramugari tersebut memastikan bahwa penumpangnya itu baik-baik saja, Ale meneguk separuh habis air mineralnya dalam sekali minum. Ale melempar pandangan ke luar jendela, memastikan bahwa sayap pesawat yang sekarang ia lihat adalah sayap pesawat yang sama dengan yang tadi ia lihat sebelum jatuh tertidur.

Teh lagi. Sial, pikirnya.

Ale baru saja mengalami salah satu mimpi paling aneh dalam hidupnya. Sejauh yang bisa ia ingat, mimpi aneh terakhir yang masih membekas adalah mimpi tertimpa gajah hijau tua yang seluruh tubuhnya dikerubuti semut biru ketika Ale kelas 1 SMP. Yang Ale ingat, mimpi itu muncul setelah Ale menonton Jumanji, Smurf dan Kera Sakti di hari pertama liburan sekolah. Mimpi itu membekaskan rasa ngeri di benak Ale setiap kali melihat semut bergerombol hingga ia memasuki masa SMA. Tapi sekarang, mimpi aneh yang ia alami rasanya berbeda. Ale tau akhir-akhir ini ia terlalu overthinking, paranoid, merasa diawasi, merasa diteror, atau apapun itu istilahnya. Ale sadar bahwa mimpi ini mungkin saja bagian dari ekspresi ketakutannya. Tapi tetap saja, bermimpi begini di tengah perjalanan menuju daerah antah berantah bukan merupakan suatu hal yang bagus.

“Kamu berkeringat. Silakan pakai ini.” Wanita yang duduk di sebelah Ale, penumpang yang ia tak tau namanya, mengulurkan selembar tisu kepadanya. Ale tersenyum simpul dan menerimanya. Penerbangan panjang ini ternyata tak cocok baginya. Total waktu penerbangannya 18 jam, ditambah transit luar biasa lama di Vietnam membuat Ale merasa pegal dan mual; kehilangan koordinasi dan kesadaran terhadap waktu. Jendela pesawat gelap, tapi pikirannya membuncah penuh energi; dan ketika jendela pesawat terang, Ale merasakan kantuk yang teramat sangat. mungkin lelah itu juga yang membuat mimpi Ale terasa begitu nyata. Ale melap keringat dengan tisu pemberian wanita di sebelahnya ketika menyadari aromanya berbeda. Aroma melati.

Wanita itu tersenyum,”Aromanya menyenangkan ya? Untuk yang baru saja bermimpi buruk, aroma ini katanya bisa menenangkan. Saya masih ada yang lain kalau kamu mau.”

Mau tak mau, Ale tersenyum lagi sambil mengucapkan terima kasih. Ale seperti mengenal wanita itu, tapi susah mengingat di mana dan kapan. Wanita itu memandang Ale dan kemudian mengulurkan tangan, “Pie.”

“Maaf?” kata Ale, “Pie?”

“Iya, namaku Pie,” wanita itu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lucu, seperti anak kecil.

Ale membalas uluran tangannya, “Ale.”

“Pertama kali penerbangan panjang ya?” tanyanya lagi; dan kalimat itu menjadi kalimat pembuka percakapan mereka.

Ini adalah kali pertama Ale merasa senang ada yang mengajak ia mengobrol di pesawat. Obrolan mereka mengalir, tentang tujuan, pekerjaan, asal, lalu entah bagaimana, perbincangan itu kembali mengarah ke selembar tisu beraroma melati ketika pesawat bersiap untuk mendarat.

“Kenapa melati?” tanya Ale.

“Itu seperti menanyakan ‘kenapa namamu Pie?’. Well, aku tak pernah paham. mungkin karena aromanya tidak memaksa.”

“Memaksa?”

“Ya. Aromanya tidak menyengat, sedikit-sedikit saja tapi berkelanjutan. Mengalir terus tapi tak pernah sangat menusuk. Aku juga suka rasanya ketika dicampur dengan teh, apalagi sekarang kita sedang menuju tempat yang memang khas dengan tehnya kan…”

Teh lagi. Ale sampai lupa bahwa tempat yang ia kunjungi ini adalah negeri pecinta teh nomor satu. Teh. Jangan-jangan…

Lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah padam; Pesawat telah mendarat di Heathrow Airport, London.

Ale bersiap turun dari pesawat ketika Pie berkata padanya,”Hati-hati dengan Earl Grey ya…”
Pie kemudian menyelinap di antara penumpang yang lain tanpa memberi Ale kesempatan untuk menjawab. Pie berhenti sejenak dan melanjutkan,”Jangan lupa kartu posnya!”

Kartu pos?

Pie tak bisa ia temukan di antara kerumunan yang mengantri bagasi dan antrian imigrasi. Ale merutuk karena mereka juga tak bertukar kontak. Seketika itu, Ale ingat bahwa ia belum mengabari penjemput dari kantornya. Ale menyalakan ponselnya, lalu menghubungkannya dengan WiFi airport. Ponselnya langsung penuh notifikasi yang kemudian ia cek satu-satu sambil menunggu jemputan. Notifikasi email kantor, chatgroup, notifikasi Facebook, Twitter, dan..

Satu notifikasi yang rasanya janggal tertangkap olehnya. Notifikasi Instagram.

“pieamber.pie started following you”

Ale terdiam. Amber lagi?

 

Vietnam, 180717; 1915
Ling

Ale Pie

Galeri

Sketpro #3: Alé dan Amber

Sudah dua kali, pikir Ale, dan kedua kejadian itu berakhir dengan memalukan. Yang pertama, Ale hanya bisa menangkap kilatan cahaya sebelum akhirnya semua gelap. Setelahnya, ia terbangun di ruang istirahat pegawai di café tempatnya kehilangan kesadaran. Dia ditolong oleh pemilik café yang wajahnya lebih dari sekedar lega ketika melihat Ale akhirnya terbangun. Setelah berulang kali meyakinkan ia baik-baik saja dan menolak diantarkan pulang, Ale pun dipesankan taksi yang mengantarkannya ke rumah. Semalaman itu pun ia menyalakan semua lampu yang ada di rumahnya, dan terjaga hingga pagi. Seperti itu terus; terus menerus selama hampir seminggu. Ujungnya? Ia harus dirawat di rumah sakit.

Pada kejadian kedua, Ale merasa cukup kuat untuk tidak tumbang lagi seperti sebelumnya.  Ale juga merasa cukup kuat untuk tidak berteriak. Ia berdiri cukup lama, menyaksikan lumpur itu menggenang dan merambat menuju kakinya. Ia mencoba meyakinkan bahwa ini hanya ada di kepalanya dan tidak benar-benar terjadi. Tapi ternyata ia tak sekuat bayangannya. Ale mual, lalu muntah sejadi-jadinya. Tepat ketika Ale limbung, tetangga kakaknya keluar dari rumahnya dan sempat menahan Ale agar tidak terjatuh. Gerbang terbuka dan Ale melihat sosok yang benar-benar kakaknya, mendengar suara-suara panik dari dalam rumah, melihat genangan lumpur di dekatnya lenyap perlahan, lalu kemudian… well, dia tidak sadarkan diri lagi.

Dua kali, pikirnya lagi. Bagaimana bisa?

Sehari setelah kejadian kedua, Ale melakukan full check up di Rumah Sakit dekat kantornya. Ia melakukan segala macam tes fisik dan mental, berharap apa yang dia alami beberapa waktu ke belakang murni adalah hasil dari error yang ada di tubuhnya. Hasilnya nihil. Semua aspek normal. But how normal can it be?

Jam setengah dua pagi; Ale tau bahwa malam ini ia tidak seharusnya begadang. Esok pagi-pagi sekali ia harus menemui klien kantornya langsung di perkebunan teh milik si klien untuk membicarakan rencana kerjasama. Tapi ia merasa terganggu dan ingin mengetahui sebab dari semua ketidakberuntungan yang terjadi padanya. Sejak kapan hal-hal aneh ini mulai datang padanya? Pertemuan dengan anak-anak lumpur itu terjadi dua minggu lalu; penghujung bulan April. Kemunculan gadis pemilik cafe itu adalah sebulan sebelumnya. Sebelum tanggal-tanggal itu, Ale merasa hidupnya aman dan baik-baik saja. Kecuali…

Ah, iya. Sepertinya, sejak saat itu. Sejak Ale mengenal perempuan bernama Amber yang berulang kali mengatakan bahwa mata Ale mirip mata kucing. Perempuan bernama Amber ini Ale temui tanpa sengaja di sebuah kantor pos ketika mereka sama-sama membeli perangko untuk mengirimkan kartu pos. Selama ini Ale merasa dirinya unik; autentik; jarang ada manusia modern yang masih memilih cara konvensional berkomunikasi menggunakan surat dan kartu pos. Namun ketika dia menemukan seseorang yang memiliki kesamaan dengannya, girangnya bukan main. Mereka bertukar alamat dan memutuskan untuk saling berkirim kartupos.

Sejauh ini, mereka tak pernah bertemu lagi dan komunikasi mereka hanya terbatas pada kartu pos-kartu pos yang dikirim dalam jangka waktu tidak tentu. Ale telah mengirim tiga, dan Amber juga telah mengirim tiga. Ketiga kartu pos yang Amber kirim berasal dari negara yang berbeda; dan selalu diakhiri dengan kalimat,”Matamu seperti mata kucing, Le. Hati-hati ya.”

Jika pada awalnya Ale merasa itu sebagai lelucon, maka kini ia mulai merasa takut. Seketika itu juga Ale mengambil seluruh kartu pos dari Amber dan mulai menelisiknya satu per satu.

Kartu pos pertama berasal dari Aceh, dengan gambar segelas kopi dilatari dataran tinggi Gayo. Kartu pos kedua dari Brazil, bergambar anak-anak yang bermain sepakbola. Kartu pos ketiga..

Tunggu.

Ada yang janggal.

Ale menatap lagi kartu posnya, lalu tertegun. Segelas kopi dan kejadian di cafe. Anak-anak yang bermain bola dengan anak-anak yang berubah menjadi lumpur.

Tangannya mendingin ketika melihat kembali kartu pos ketiga.

Kartu pos dari Bandung. Bergambar perkebunan teh.

Ale menghela napas. Mampus, pikirnya.

Sydney, 130517, 0247 AEST
_Ling_

 

Ale1

Galeri

(Mungkin) Karena Saya Lapar

Kesepian merembes sepanjang jalan
Membentuk hari yang lalu pergi
Lepas itu aku sadar
Di bawah sana kau mengendap serupa parasit

Kau tawarkan adonan anggur
Berlapis sari ceri
Yang kulumat dalam kepalamu

Kepala parasit
Tok. Tok.
Larikan loyang-loyang dan panggangan!

Selai kacang dan gula batu
menempel di lelangit mulut
ambil kendali atas mulutmu
Tuangkan rum dan arak
pada perapian yang meminta dedaunan
memaksamu memuntahkan ramuan tadi pagi
bit, akar gurdy, eucalyptus, lily hutan dan daun jengkol
sisakan pias pada wajah eskrim berry birumu

masih mengendap
“Gulali gulala gulalu,” katamu
Kupeluk setumpuk gula kapas
“aku masih lapar,” kataku
131114.2047

PS: tulisan ini saya buat november 2014 lalu, ketika saya harus lembur dan tidak bisa keluar kantor karena hujan. tulisan ini saya benahi lagi hari ini karena keadaannya sama : lembur dan tertahan hujan.
bedanya saya dulu lembur kerjaan, sekarang lembur mengerjakan tugas kuliah. nasib mahasiswa :’)

judul aslinya Eliksir Kamis, tapi sekarang ini masih senin dini hari. 

dan saya juga (tampaknya) lapar…

_Ling_

P_20151208_201836.jpg

Galeri

Linimasa

Ada yang mau mengkudeta Tuhan
Mempertanyakan kesahihanNya
Memberikan cap mana yang benar mana yang salah
Seenak udelnya

toleran pada intoleransi
intoleran pada toleransi
apa pula ini

sesorean,
langit mendung dan berpikir ulang

dulu aku membayangkanMu sesederhana main petak umpet bersama, lalu menyalakan api unggun dan bernyanyi pelangi-pelangi
atau naik bianglala dan main perosotan bersama-sama

Tuhan mau dikudeta
Astaga.

Entahlah.
Mungkin mereka kurang piknik.
: yuk nyanyi pelangi-pelangi.

Syd, 250117. 1730
_Ling_

PS: tulisan ini saya buat setelah membaca linimasa sosial media twitter dan facebook yang penuh silang pendapat, terutama terkait Pilkada DKI Jakarta. Saya tidak mengerti mengapa ini bisa menjadi isu masif yang mewabah di hampir seluruh penjuru Indonesia. Apa karena DKI Jakarta ibukota? Atau karena terlalu banyak sorotan media yang berpusat di sana? 

Saya hanya lelah. Saya merasa ini memang peristiwa besar, tapi jika peristiwa ini sampai membuat orang terpecah belah, mengelompokkan dan melabeli orang berdasarkan preferensi paslon pilihannya, saya rasa ini sudah keterlaluan. 

Meminjam istilah orang-orang, ‘yang minum-minum itu di Jakarta, tapi yang mabuk seluruh Indonesia’. 

Saya hanya berharap semua keriweuhan ini cepat selesai dan linimasa saya kembali aman damai sejahtera. Saya sih jauh lebih ikhlas melihat linimasa yang dipenuhi unggahan foto pernikahan dan bayi-bayi lucu menggemaskan ketimbang unggahan foto atau meme provokatif. Aman tenang damai sentosa. 

Palingan endingnya baper aja sih ketika menyadari bahwa orang-orang yang unggah foto-foto itu adalah teman-teman seangkatan saya… *sembunyi di pojokan* 

have a good day!