Galeri

Rigby

aku terus-menerus menghukum diriku
dengan mengingatmu dan sore di bangku taman

jalanan kembali bising
mobil-mobil lewat satu per satu
putih, hitam, merah, hijau tua, biru, kuning
motor-motor menderu
anak-anak berlarian

anak-anak tak terlihat
berlarian dan tertabrak bolak-balik
bola dan balon yang mereka dapatkan dari penjual ayam di ujung gang sedang mereka mainkan berramai-ramai
balon-balon serupa warna mobil
putih, hitam, merah, hijau tua, biru, kuning

“rupa-rupa warnanya,” kenangmu kala itu
di bangku taman, sore itu tak kunjung berakhir
tapi aku dan wanita batu itu sama-sama tau siapa yang menginginkan akhir

matahari terbenam pukul sepuluh malam
ah, persetan.
Eleanor Rigby masih saja bungkam.

 

dps, 170618, 2333
Amorita

Galeri

Sketpro #5: Rae dan Pie

Lelaki itu bahkan tidak mau menampakkan dirinya di hadapan Rae. Tidak lewat suara maupun tulisan. Rae sebenarnya sudah tidak terlalu peduli, jika saja ia tak berulang kali memimpikan lelaki itu. Rae sembuh, lebih sembuh dari sebelum-sebelumnya. Tapi apa yang ia lihat belakangan ini mau tak mau membuatnya panas dingin.

Rae sudah melewati masa-masa mual muntah karena lelah dan sesak memikirkan kemungkinan-kemungkinan di hadapannya. Sekalipun ia tau bahwa sesaknya lebih dikarenakan ekspektasinya, tapi tetap saja sesekali Rae mengkhawatirkan lelaki yang tak berkabar itu. Rae buta akan semua kesalahan yang (mungkin) lelaki itu lakukan dan tuli terhadap apa yang dikatakan orang tentang lelaki itu. Kini Rae memilih untuk bisu, menahan kata-kata yang mungkin bisa ia keluarkan untuk melampiaskan sesaknya.

Rae meraih telepon genggamnya, melirik sekilas layarnya dan meletakkannya kembali ke atas nakas. Pukul sepuluh pagi. Rae harusnya sudah berjalan menuju working space-nya yang terletak di pusat kota asing itu. Asing, karena Rae tak berasal dari sana. Asing, karena Rae tau kota ini padat luar biasa tapi ia merasa seperti tidak mengenal siapa-siapa. Namun hari ini Rae memilih untuk mengurung diri, tidak ada yang menunggunya datang; mereka hanya menunggu hasil kerja Rae yang sudah selesai. Rae menyusun rencana untuk menghibur diri sepanjang hari ini. Berbelanja (jus apel, yogurt, chips, susu), ke salon; rambutnya perlu ganti warna, mungkin warna gold. Atau burgundi. Atau biru cerah. Atau…

Telepon genggamnya bergetar. Satu notifikasi masuk mengusik kegiatannya menyusun rencana di kepala. Rupanya notifikasi dari salah satu rekan kerjanya. “Meet me at The Manor. 11.30 a.m. Thanks.”

Tidak biasanya rekannya semendadak itu. Rae membalas pesannya,”You just ruined my me-time plan, Pie -.- What’s the matter?” Rae menekan tombol send lalu mulai bangun dari tempat tidurnya. Rae harus mandi kalau begini ceritanya.

Telepon genggamnya bergetar lagi dan Rae segera membuka pesan yang masuk. “It’s not a work-related thing, dear. You won’t regret this. Trust me~

Baik, ini di luar kebiasaan Pie. Tidak biasanya Pie serba rahasia dan semendadak ini. Aneh. Tapi, ah, apa salahnya kalau Rae menuruti apapun yang direncanakan Pie? Sepertinya ini lebih seru daripada mengganti warna cat rambut.

Pukul 11; Rae sudah siap ke luar rumah menuju The Manor, sebuah rumah minum teh tempat Pie meminta ia datang. Apa pun yang disiapkan oleh anak itu pasti sesuatu yang menyenangkan, karena bahkan ia tak mau mengatakan sedikit clue pun pada Rae. Masih belum paham kenapa dirinya bisa se-impulsif ini, Rae menaiki bus pertama yang berhenti di halte depan rumahnya.

Di perjalanan, Rae melewati sebuah tempat ibadah yang dua bulan sebelumnya menjadi tempatnya menangis hingga sesak. Rae tertawa; betapa ia pernah merasa sejatuh itu. Ketika Rae memutuskan untuk benar-benar lepas dan pasrah, ia ternyata tak lagi sesak, tak lagi merasa mual dan mulai bisa menertawakan dirinya sendiri. Pengurus rumah ibadah itu pun sampai menghadiahi Rae dengan sebuah buku tentang terus bernapas. Bernapas dengan benar. Bernapas…

Bus yang Rae tumpangi berhenti di halte dekat The Manor. Rae turun dan mengingatkan dirinya lagi untuk bernapas, lalu merasa geli sendiri. Selama ini ia bernapas dengan otomatis, akhir-akhir ini ia baru menyadari bahwa terkadang ia memang harus diingatkan untuk bernapas.

Rae berjalan di belokan terakhir menuju The Manor. Sesampainya di ujung jalan, ia tertegun. Matanya pasti salah lihat. Pikirannya pasti sedang bermain-main dengannya.

Lelaki itu berdiri tepat di depan The Manor. Lelaki yang sama yang tak pernah menampakkan dirinya, yang selama ini menghantui mimpi-mimpi Rae. Berdiri di sana, utuh, masih persis seperti yang Rae ingat.

Rae mulai membisikkan “bernapas, Rae, bernapas,” berulang-ulang sambil berjalan mendekati tempat lelaki itu berdiri. Rae masih tak habis pikir. Rae merasa semua tak masuk akal. Rae setengah berharap lelaki itu tidak nyata ketika lelaki itu menoleh ke arahnya dan membeku.

Jika ini adalah komik romantis, maka sudah bisa dipastikan akan ada angin berhembus membawa guguran daun melintas di antara mereka. Tapi sayangnya, ini bukan komik. Manusia-manusia di sekitar mereka masih berlalu lalang tanpa peduli kalau dunia kecil Rae sedang berhenti.

Bernapas, Rae.

Lelaki itu membuka suara, “Rae?”

Lelaki itu nyata. Rae mengingatkan dirinya untuk bernapas lagi sebelum mengkonfirmasi identitas lelaki itu.

“Ale?”

Lelaki itu mengangguk. Pandangan Rae tetiba gelap.

 

 

-syd, 280817, 0017-
Ling

 

Galeri

Sketpro #4: Ale dan Pie

Ale terduduk di tengah kebun (yang ia yakini sebagai kebun teh), dan menyaksikan perdu-perdu teh itu berkembang dengan sendirinya. Beberapa tangkainya memanjang serupa sulur, merayap menuju kaki Ale, lalu menggelitiki telapak kakinya. Ale tertawa geli, lalu terbahak. Seketika Ale terbahak, seketika itu juga sulur-sulur the itu menjerat kakinya. Tawanya berubah menjadi teriakan ketika ia terseret ke dalam kubangan lumpur yang berpendar hijau. Lumpur itu mengubah tangannya menjadi elastis serupa tentakel tetapi berkuku panjang seperti cakar. Kaki kanannya mulai bersisik, sedangkan kaki kirinya ditumbuhi bulu lebat. Kubangan yang berpendar hijau itupun mulai mendidih, menguarkan aroma amis. Beberapa detik kemudian, Ale kehilangan suaranya; teriakannya berubah menjadi serupa ringkikan kuda. Ale takut terhadap dirinya sendiri. Ale berenang menuju tepi kubangan ketika ia menyadari ada sesuatu yang menariknya lebih dalam…

Ale terbangun. Berkeringat dingin dan terengah-engah, Ale melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keberadaannya. Tangan Ale gemetar, dan Ale berulang kali memastikan jumlah jarinya (Total masih sepuluh dan berwarna kulit). Ale pun berulang kali melihat kakinya, memastikan bahwa kaki itu tetap kaki; bukan ekor duyung atau tentakel gurita. Seorang pramugari mendatangi Ale dengan tatapan cemas sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang diterima Ale dengan lega. Setelah pramugari tersebut memastikan bahwa penumpangnya itu baik-baik saja, Ale meneguk separuh habis air mineralnya dalam sekali minum. Ale melempar pandangan ke luar jendela, memastikan bahwa sayap pesawat yang sekarang ia lihat adalah sayap pesawat yang sama dengan yang tadi ia lihat sebelum jatuh tertidur.

Teh lagi. Sial, pikirnya.

Ale baru saja mengalami salah satu mimpi paling aneh dalam hidupnya. Sejauh yang bisa ia ingat, mimpi aneh terakhir yang masih membekas adalah mimpi tertimpa gajah hijau tua yang seluruh tubuhnya dikerubuti semut biru ketika Ale kelas 1 SMP. Yang Ale ingat, mimpi itu muncul setelah Ale menonton Jumanji, Smurf dan Kera Sakti di hari pertama liburan sekolah. Mimpi itu membekaskan rasa ngeri di benak Ale setiap kali melihat semut bergerombol hingga ia memasuki masa SMA. Tapi sekarang, mimpi aneh yang ia alami rasanya berbeda. Ale tau akhir-akhir ini ia terlalu overthinking, paranoid, merasa diawasi, merasa diteror, atau apapun itu istilahnya. Ale sadar bahwa mimpi ini mungkin saja bagian dari ekspresi ketakutannya. Tapi tetap saja, bermimpi begini di tengah perjalanan menuju daerah antah berantah bukan merupakan suatu hal yang bagus.

“Kamu berkeringat. Silakan pakai ini.” Wanita yang duduk di sebelah Ale, penumpang yang ia tak tau namanya, mengulurkan selembar tisu kepadanya. Ale tersenyum simpul dan menerimanya. Penerbangan panjang ini ternyata tak cocok baginya. Total waktu penerbangannya 18 jam, ditambah transit luar biasa lama di Vietnam membuat Ale merasa pegal dan mual; kehilangan koordinasi dan kesadaran terhadap waktu. Jendela pesawat gelap, tapi pikirannya membuncah penuh energi; dan ketika jendela pesawat terang, Ale merasakan kantuk yang teramat sangat. mungkin lelah itu juga yang membuat mimpi Ale terasa begitu nyata. Ale melap keringat dengan tisu pemberian wanita di sebelahnya ketika menyadari aromanya berbeda. Aroma melati.

Wanita itu tersenyum,”Aromanya menyenangkan ya? Untuk yang baru saja bermimpi buruk, aroma ini katanya bisa menenangkan. Saya masih ada yang lain kalau kamu mau.”

Mau tak mau, Ale tersenyum lagi sambil mengucapkan terima kasih. Ale seperti mengenal wanita itu, tapi susah mengingat di mana dan kapan. Wanita itu memandang Ale dan kemudian mengulurkan tangan, “Pie.”

“Maaf?” kata Ale, “Pie?”

“Iya, namaku Pie,” wanita itu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lucu, seperti anak kecil.

Ale membalas uluran tangannya, “Ale.”

“Pertama kali penerbangan panjang ya?” tanyanya lagi; dan kalimat itu menjadi kalimat pembuka percakapan mereka.

Ini adalah kali pertama Ale merasa senang ada yang mengajak ia mengobrol di pesawat. Obrolan mereka mengalir, tentang tujuan, pekerjaan, asal, lalu entah bagaimana, perbincangan itu kembali mengarah ke selembar tisu beraroma melati ketika pesawat bersiap untuk mendarat.

“Kenapa melati?” tanya Ale.

“Itu seperti menanyakan ‘kenapa namamu Pie?’. Well, aku tak pernah paham. mungkin karena aromanya tidak memaksa.”

“Memaksa?”

“Ya. Aromanya tidak menyengat, sedikit-sedikit saja tapi berkelanjutan. Mengalir terus tapi tak pernah sangat menusuk. Aku juga suka rasanya ketika dicampur dengan teh, apalagi sekarang kita sedang menuju tempat yang memang khas dengan tehnya kan…”

Teh lagi. Ale sampai lupa bahwa tempat yang ia kunjungi ini adalah negeri pecinta teh nomor satu. Teh. Jangan-jangan…

Lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah padam; Pesawat telah mendarat di Heathrow Airport, London.

Ale bersiap turun dari pesawat ketika Pie berkata padanya,”Hati-hati dengan Earl Grey ya…”
Pie kemudian menyelinap di antara penumpang yang lain tanpa memberi Ale kesempatan untuk menjawab. Pie berhenti sejenak dan melanjutkan,”Jangan lupa kartu posnya!”

Kartu pos?

Pie tak bisa ia temukan di antara kerumunan yang mengantri bagasi dan antrian imigrasi. Ale merutuk karena mereka juga tak bertukar kontak. Seketika itu, Ale ingat bahwa ia belum mengabari penjemput dari kantornya. Ale menyalakan ponselnya, lalu menghubungkannya dengan WiFi airport. Ponselnya langsung penuh notifikasi yang kemudian ia cek satu-satu sambil menunggu jemputan. Notifikasi email kantor, chatgroup, notifikasi Facebook, Twitter, dan..

Satu notifikasi yang rasanya janggal tertangkap olehnya. Notifikasi Instagram.

“pieamber.pie started following you”

Ale terdiam. Amber lagi?

 

Vietnam, 180717; 1915
Ling

Ale Pie