Galeri

Lelaki Bernama Bulan (2)

Matahari terik, lalu hujan

Pelangi melintang; petir membujur

Lalu apa lagi yang bisa kau keluhkan?
botol-botol kosong itu tak lagi berbunyi
hanya karena angin berhenti bertiup

Kau kenakan lagi boots cokelat tua yang dulu pernah kau buang
kau sisipkan bunga di ujungnya,
yang sore kemarin masih bertangkai
yang pagi tadi masih berduri

Amorita
dps, 260318, 1443 WITA

Galeri

Sketpro #7: mALEngering

Lelaki itu duduk di sebuah rumah minum, memandang mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalanan di luar. Di seberang rumah minum tempat ia duduk, ia melihat sebuah bangunan berwarna mencolok; didominasi kaca dengan bingkai warna biru cerah, dan dihiasi stiker pelangi besar di kacanya. Tempelan berbentuk hati berwarna pelangi dengan tulisan “Love is Love”, “Love needs No Reason” dan “We are Equal” juga terlihat meramaikan hiasan di kaca jendela besar itu. Melalui kaca, lelaki itu bisa melihat bahwa tempat itu juga adalah rumah minum, tetapi dengan jenis minuman yang berbeda.

Lelaki itu menyeruput kopinya sambil tetap memandang ke luar jendela. Suhu di luar hari ini mencapai 35 derajat celcius, dan ia enggan beranjak dari tempat ia duduk. Hari itu kering dan tidak berangin, padahal minggu lalu kota itu baru dilanda hujan badai. Sambil meletakkan cangkirnya kembali ke meja, ia berpikir mengenai apa yang terjadi padanya minggu lalu di hari hujan itu. Kilasan samar-samar tentang rumah minum teh, susu yang tertuang ke dalam minuman, pembicaraan membingungkan dan sosok bernama Rae. Yang ia ingat terakhir kali adalah wanita itu perlahan-lahan menghilang dari hadapannya sebelum ia sendiri merasa limbung dan pening. Berikutnya, ia sudah terbangun di kamarnya sendiri. Awalnya Ale berpikir bahwa mungkin ia pingsan lagi di rumah minum tersebut (dan Ale benci jika memang itu yang terjadi), lalu seseorang menggotongnya ke rumahnya. Tapi Ale kemudian menemukan bahwa kamarnya terkunci dari dalam dengan gerendel dalam terpasang dengan kuat. Ale pun tak melihat satu pun pesan dari Pie yang menggiringnya menuju The Manor. Ale lalu berpikir bahwa itu hanya mimpi, dan mulai melupakan kejadian itu. Namun pagi ini, Ale melihat jejak terakhir pemakaian kartu transportasi di aplikasi telepon genggamnya. Minggu lalu Ale ternyata menggunakan kartu itu untuk pergi ke halte dekat rumah minum. Ale kemudian mengecek rekam jejak kartu debitnya dan hatinya mencelos ketika melihat bahwa minggu lalu terdapat transaksi pembelian minuman di The Manor.

Aku sudah gila, pikirnya.

Pintu rumah minum terbuka, seorang wanita masuk dan langsung menuju counter untuk memesan minuman. Ale mengalihkan pandangannya dari jalanan ke wanita itu. Penampilannya tidak terlalu mencolok, tapi aroma parfumnya cukup tajam dan Ale merasa kenal dengan aroma itu. Ale berusaha mengingat-ingat lalu kemudian tersentak.

Melati. Seperti tisu beraroma melati yang ketika itu diberikan oleh seorang wanita di pesawat.

Ale berusaha meyakinkan diri bahwa aroma itu adalah aroma yang bisa saja digunakan oleh banyak orang, bukan hanya wanita itu. Wanita itu berbalik setelah selesai memesan dan matanya tertangkap oleh Ale.

Benar. Wanita itu, wanita yang sama dengan wanita yang Ale temui di pesawat. Wanita bernama Amber yang tak pernah lagi bertemu dengannya sejak kejadian di pesawat tempo hari.

Amber tersenyum menghampiri Ale, sementara Ale bingung harus berreaksi seperti apa. Wanita itu mengambil kursi di hadapan Ale dan bertanya, “Apa kabar?”

Ale bahkan tak bisa menjawab kecuali dengan tersenyum kaku. Kenapa semua hal yang ia anggap tak nyata tiba-tiba muncul dengan cara tak terduga.

“Ale, bukan?”

Ale ingin menjawab, tapi bahkan untuk menganggukkan kepala pun ia tak bisa. Badannya terasa dingin, jantungnya berdebar dan ia rasanya ingin muntah. Perasaannya mirip seperti orang yang sedang menghadapi ujian tapi lupa belajar sehari sebelumnya. Pandangannya memburam, dan ia merasa tak mampu menatap Amber.

“Kamu Ale, bukan?”

Ale memberanikan diri menatap Amber, dan seketika itu pula ia rasanya ingin pusing lalu pingsan. Atau sekalian saja kesurupan, pikirnya.

Amber tersenyum, “Ah, tampaknya kau sudah bertemu Rae. Benar kan? Kurasa sebentar lagi mereka akan datang. Iya, Amber dan Rae. Mereka akan datang menemuimu.”

Ale mendengus, ketakutannya kini beralasan. Wanita-wanita ini tampaknya berkaitan satu sama lain; Amber, Pie, Rae. Ale merasa seperti masuk ke dalam ruang sidang dengan tiga hakim tanpa ia tahu salahnya apa dan tanpa ia tahu hukuman macam apa yang menunggu di hadapannya.

Aku sudah gila, pikirnya lagi.

Ale menatap kopinya; ah, ingin rasanya ia menenggelamkan diri ke dalam cangkirnya.

 

syd, 141217, 1819 AEST
_Ling_

Galeri

Melahirkan Anak Rohani

‘Anak, Anak-anak, Anak-anakan’

Mendefinisikan kata ‘anak’ adalah sesuatu yang unik; beberapa orang akan sesederhana mengatakan bahwa anak merupakan ‘buah cinta dari laki-laki dan wanita’, sementara yang lain dapat menggambarkan anak dengan kata-kata puitis menyentuh hati; harta paling berharga yang tidak bisa disamakan dengan hal indah lain di dunia.

Beberapa orang mengusahakan segala cara untuk bisa memiliki anak sendiri, sementara beberapa lainnya tega membuang anak begitu saja karena mereka tidak siap dan tidak menginginkannya. Sebagian orang terobsesi untuk cepat-cepat memiliki anak, sementara sebagian lainnya menunda kehadirannya dengan berbagai alasan.

Saya sendiri sejak dahulu benar-benar ingin memiliki anak. Tapi anak yang saya ingin miliki pada saat sekarang ini mungkin tidak seperti anak yang ingin dimiliki orang kebanyakan.

Saya ingin memiliki Anak Rohani. Atau begitulah orang biasa menyebutnya. 

Keinginan memiliki anak rohani ini sebenarnya sudah muncul sejak saya SD, tapi waktu itu saya belum mengerti bahwa itulah istilahnya. Ketika menginjak usia SMP, saya mulai mengakrabkan diri dengan anak-anak rohani orang lain (bahkan terobsesi pada salah satunya sampai sekarang). Ketika itu saya berpikir kalau nanti saya akan punya anak-anak rohani yang bisa bersanding dengan anak-anak orang lain ini. Parenting anak rohani ini tidak memiliki standar, masa konsepsi dan ‘mengandung’nya pun berbeda-beda untuk tiap orangtua. Orangtua dari anak-anak yang saya akrabi kala itu rata-rata bisa mengasuh lebih dari empat anak -dan semua anaknya dikenal dunia- pada saat yang bersamaan; pencapaian yang luar biasa mengagumkan bagi saya yang kala itu clueless mengenai parenting anak rohani ini.
Ketika saya beranjak SMA, lebih banyak lagi anak-anak rohani orang lain yang mampir pulang pergi ke tempat saya. Saya pun mulai memberanikan diri untuk mengkonsepsi anak saya sendiri. Saya merancang tingkahnya seperti apa, matanya, rambutnya, petualangannya. Anak itu mulai tumbuh tapi masih sekedar tumbuh, hilang muncul sesuka hati. Anak itu dulu saya namai Arwish, anak laki-laki yang hobi mencari jalan alternatif di tengah kemacetan. Arwish ada di berbagai macam petualangan yang kami rancang bersama, mulai dari melaporkan atasan yang korup hingga ia yang tersesat dalam mimpi berlapis. Arwish membayangi saya bertahun-tahun, meminta dilahirkan secara utuh dan bukan tercecer di sana sini. Saya membawa kekhawatiran yang bercokol di perut saya ke mana-mana, khawatir Arwish diambil orang lain tetapi saya sendiri belum mampu untuk mengandung dan melahirkannya. Arwish akhirnya menciut dan menghilang, sesekali masih menghantui mimpi-mimpi saya tapi tak menuntut lagi seperti dulu.

Ketika kuliah, saya melompat dari satu arena ke arena lain, masih berpikir untuk melahirkan anak tetapi kali ini saya memilih untuk mencoba mengasuh anak-anak tak bernama yang tidak akan menghantui saya seperti yang telah dilakukan oleh Arwish. Sampai akhirnya sekitar satu setengah tahun lalu, pikiran untuk memiliki anak rohani itu kembali muncul. Kali ini, saya disesatkan ke jalan yang benar oleh seseorang yang punya daya cipta jauh melebihi saya. Jika dulu Arwish saya rancang sebagai anak biasa di dunia biasa, maka anak rancangan kami kali ini memiliki dunianya sendiri. Parenting untuk anak seperti ini akan jadi jauh lebih berat, tapi partner saya mengatakan bahwa kali ini anak itu akan benar-benar kami lahirkan. Menanggung beban mengandung dan melahirkan berdua itu mungkin memang lebih mudah.

Anak ini, yang belum kami namai, sempat terdorong ke belakang pikiran kami masing-masing; ketika itu mungkin situasi sedang sulit untuk kami. Saya sendiri ketika itu sedang mengkonsep saudara Arwish, namanya Ale. Ale yang jadi muse saya sejak tahun lalu selalu protes tiap kali saya temui, karena Ale selalu menemui kesialan tiap kali berpetualang dengan saya. Ale memang tidak se-demanding Arwish, tapi saya merasa memilki tanggung jawab untuk melahirkan Ale secara utuh suatu hari nanti. Kesalahan yang saya lakukan pada Arwish saya harap tidak terjadi lagi pada Ale maupun pada anak saya (dan partner) nanti.

Kali ini kami kembali merancang masa depan si anak; rambutnya, matanya, sifatnya, petualangannya. Si Anak baru yang namanya masih kami cari-cari ini tampaknya harus menunggu sedikit lebih lama sampai saya men-submit semua assignment semester ini. Nantinya ketika anak ini lahir, saya harap anak ini bisa berteman baik dengan Harry, Ron, Hermione dan Frodo. Hehehe.

PS: Ketika saya menulis ini, Ale mengintip dari belakang dan berulang kali berbisik,”Jadi, apa itu artinya aku nyata? Apa Rae juga nyata?”

Haiya, Sudahlah nak. Aku belum siap memberikan kesialan lain untukmu. 

 

Sydney, 031117. 1439 AEST
_Ling_

 

Galeri

Sketpro #6: Ale dan Rae

Ale tak ingin mempercayai matanya. Wanita itu benar-benar ada di depan matanya sekarang. Wanita itu duduk di hadapan Ale, di sebuah meja di sudut The Manor, mengaduk pelan earl grey yang masih mengepulkan uap tipis. Ale menggeser cangkirnya mendekat, mencelupkan sendok lalu mulai mengaduk teh melati pesanannya. Bunga melati segar di dalamnya masih mengambang, gula yang Ale tuangkan ke dalamnya pun tak juga larut. Wanita di hadapannya menambahkan susu ke dalam tehnya, sudah tuangan ketiga sejak pesanan mereka datang.

Setengah jam berlalu penuh keheningan. Ale ingin lari dari tempat ini; tapi pandangan mata wanita itu terlalu menusuk untuk dia abaikan. Sosok yang selama ini Ale berusaha hindari karena rasanya terlalu imajiner itu ternyata benar-benar ada. Solid dan nyata. Sosok imajiner tidak mungkin bisa mengaduk teh, bukan?

“Ale..,” sosok itu membuka suara.

Benar, pikir Ale. Rae adalah nyata dan Ale bisa mendengar suaranya.

“Ale..,” kata Rae lagi,”Kebetulan macam apa yang bisa mempertemukan kita di sini?”

Ale pun bingung dan merasa mendadak gagu. Ya, kebetulan macam apa?

“Ale, aku tak pernah berani menganggap kamu adalah nyata,”lanjut Rae,”aku menghabiskan waktu sejauh ini, menghindar dari segala hal yang bisa membawa jalanku kembali kepadamu; aku berusaha menganggap kamu adalah tidak nyata…”

Harusnya aku yang berkata begitu, pikir Ale.

“Kenapa kamu bisa sampai di sini?” tanya Rae.

“Seorang teman mengundangku untuk datang ke rumah minum ini, tapi ternyata dia sendiri tidak datang,” sahut Ale.

Rae mendadak mematung, dan Ale menyadari perubahannya yang mendadak. “Kenapa?” tanyanya.

Pandangan Rae menerawang, lalu ia menghela napas dan memejamkan mata.”Pie?” bisik Rae.

Giliran Ale yang diam. Rae mengenal Pie, jadi Rae memang benar-benar senyata itu.

“Jadi, selama ini kamu adalah nyata?” tanya Ale.

Rae memandang Ale, lalu memandang cangkir Ale. Ale masih mengaduk teh melatinya dengan gerakan memutar. “Lalu, menurutmu aku tak pernah nyata?”sahut Rae.

Ale menghindari memandang mata Rae yang menusuk, dan lebih memilih memandang tangan Rae yang kali ini menuangkan susu pada tehnya lagi. Ini tuangan yang ke empat.

Tangan yang mengaduk teh itu perlahan memudar. Tangan lain yang menuangkan susu itu perlahan menjadi bayangan.

Meja di sudut itu sedari tadi kosong.

 

Syd, 161017,1934 AEST.
_Ling_

 

 

Galeri

Sketpro #5: Rae dan Pie

Lelaki itu bahkan tidak mau menampakkan dirinya di hadapan Rae. Tidak lewat suara maupun tulisan. Rae sebenarnya sudah tidak terlalu peduli, jika saja ia tak berulang kali memimpikan lelaki itu. Rae sembuh, lebih sembuh dari sebelum-sebelumnya. Tapi apa yang ia lihat belakangan ini mau tak mau membuatnya panas dingin.

Rae sudah melewati masa-masa mual muntah karena lelah dan sesak memikirkan kemungkinan-kemungkinan di hadapannya. Sekalipun ia tau bahwa sesaknya lebih dikarenakan ekspektasinya, tapi tetap saja sesekali Rae mengkhawatirkan lelaki yang tak berkabar itu. Rae buta akan semua kesalahan yang (mungkin) lelaki itu lakukan dan tuli terhadap apa yang dikatakan orang tentang lelaki itu. Kini Rae memilih untuk bisu, menahan kata-kata yang mungkin bisa ia keluarkan untuk melampiaskan sesaknya.

Rae meraih telepon genggamnya, melirik sekilas layarnya dan meletakkannya kembali ke atas nakas. Pukul sepuluh pagi. Rae harusnya sudah berjalan menuju working space-nya yang terletak di pusat kota asing itu. Asing, karena Rae tak berasal dari sana. Asing, karena Rae tau kota ini padat luar biasa tapi ia merasa seperti tidak mengenal siapa-siapa. Namun hari ini Rae memilih untuk mengurung diri, tidak ada yang menunggunya datang; mereka hanya menunggu hasil kerja Rae yang sudah selesai. Rae menyusun rencana untuk menghibur diri sepanjang hari ini. Berbelanja (jus apel, yogurt, chips, susu), ke salon; rambutnya perlu ganti warna, mungkin warna gold. Atau burgundi. Atau biru cerah. Atau…

Telepon genggamnya bergetar. Satu notifikasi masuk mengusik kegiatannya menyusun rencana di kepala. Rupanya notifikasi dari salah satu rekan kerjanya. “Meet me at The Manor. 11.30 a.m. Thanks.”

Tidak biasanya rekannya semendadak itu. Rae membalas pesannya,”You just ruined my me-time plan, Pie -.- What’s the matter?” Rae menekan tombol send lalu mulai bangun dari tempat tidurnya. Rae harus mandi kalau begini ceritanya.

Telepon genggamnya bergetar lagi dan Rae segera membuka pesan yang masuk. “It’s not a work-related thing, dear. You won’t regret this. Trust me~

Baik, ini di luar kebiasaan Pie. Tidak biasanya Pie serba rahasia dan semendadak ini. Aneh. Tapi, ah, apa salahnya kalau Rae menuruti apapun yang direncanakan Pie? Sepertinya ini lebih seru daripada mengganti warna cat rambut.

Pukul 11; Rae sudah siap ke luar rumah menuju The Manor, sebuah rumah minum teh tempat Pie meminta ia datang. Apa pun yang disiapkan oleh anak itu pasti sesuatu yang menyenangkan, karena bahkan ia tak mau mengatakan sedikit clue pun pada Rae. Masih belum paham kenapa dirinya bisa se-impulsif ini, Rae menaiki bus pertama yang berhenti di halte depan rumahnya.

Di perjalanan, Rae melewati sebuah tempat ibadah yang dua bulan sebelumnya menjadi tempatnya menangis hingga sesak. Rae tertawa; betapa ia pernah merasa sejatuh itu. Ketika Rae memutuskan untuk benar-benar lepas dan pasrah, ia ternyata tak lagi sesak, tak lagi merasa mual dan mulai bisa menertawakan dirinya sendiri. Pengurus rumah ibadah itu pun sampai menghadiahi Rae dengan sebuah buku tentang terus bernapas. Bernapas dengan benar. Bernapas…

Bus yang Rae tumpangi berhenti di halte dekat The Manor. Rae turun dan mengingatkan dirinya lagi untuk bernapas, lalu merasa geli sendiri. Selama ini ia bernapas dengan otomatis, akhir-akhir ini ia baru menyadari bahwa terkadang ia memang harus diingatkan untuk bernapas.

Rae berjalan di belokan terakhir menuju The Manor. Sesampainya di ujung jalan, ia tertegun. Matanya pasti salah lihat. Pikirannya pasti sedang bermain-main dengannya.

Lelaki itu berdiri tepat di depan The Manor. Lelaki yang sama yang tak pernah menampakkan dirinya, yang selama ini menghantui mimpi-mimpi Rae. Berdiri di sana, utuh, masih persis seperti yang Rae ingat.

Rae mulai membisikkan “bernapas, Rae, bernapas,” berulang-ulang sambil berjalan mendekati tempat lelaki itu berdiri. Rae masih tak habis pikir. Rae merasa semua tak masuk akal. Rae setengah berharap lelaki itu tidak nyata ketika lelaki itu menoleh ke arahnya dan membeku.

Jika ini adalah komik romantis, maka sudah bisa dipastikan akan ada angin berhembus membawa guguran daun melintas di antara mereka. Tapi sayangnya, ini bukan komik. Manusia-manusia di sekitar mereka masih berlalu lalang tanpa peduli kalau dunia kecil Rae sedang berhenti.

Bernapas, Rae.

Lelaki itu membuka suara, “Rae?”

Lelaki itu nyata. Rae mengingatkan dirinya untuk bernapas lagi sebelum mengkonfirmasi identitas lelaki itu.

“Ale?”

Lelaki itu mengangguk. Pandangan Rae tetiba gelap.

 

 

-syd, 280817, 0017-
Ling

 

Galeri

Oliver Brown

kopi dan donat
notion dan semiotika
berdampingan dan berjalan

tanpa sadar,

aku mengenakan semiotika dalam setiap pilihan kata
kera-kera yang berlarian di kepala
hingga lelampu yang dikejar kala

aku mengenakan notion dalam setiap larik
meyakini akar dari rima
mengakari yakin dari koma hingga titik

aku menatap jalanan
menghitung satu demi satu;
mobil, sepeda, bus, manusia…
kedai mie, rumah teh, salon, café kopi…
pagar besi, lampu lalu lintas, telepon umum…

aku menunduk,
mengingat satu demi satu
Alé, Pie, Amber, Roya…
wabah, pencegahan, penanggulangan, perencanaan…

Retrovertigo mengalun,
kepalaku berputar

Aku perlu kopi

 

Syd, 290717, 2042
Ling

*hasil perbincangan panjang dengan Eve mengenai ‘notion and semiotics in material’, sepulang dari menggelandang ke sebuah gallery* 

photo_2017-07-29_20-46-52

Galeri

Sketpro #4: Ale dan Pie

Ale terduduk di tengah kebun (yang ia yakini sebagai kebun teh), dan menyaksikan perdu-perdu teh itu berkembang dengan sendirinya. Beberapa tangkainya memanjang serupa sulur, merayap menuju kaki Ale, lalu menggelitiki telapak kakinya. Ale tertawa geli, lalu terbahak. Seketika Ale terbahak, seketika itu juga sulur-sulur the itu menjerat kakinya. Tawanya berubah menjadi teriakan ketika ia terseret ke dalam kubangan lumpur yang berpendar hijau. Lumpur itu mengubah tangannya menjadi elastis serupa tentakel tetapi berkuku panjang seperti cakar. Kaki kanannya mulai bersisik, sedangkan kaki kirinya ditumbuhi bulu lebat. Kubangan yang berpendar hijau itupun mulai mendidih, menguarkan aroma amis. Beberapa detik kemudian, Ale kehilangan suaranya; teriakannya berubah menjadi serupa ringkikan kuda. Ale takut terhadap dirinya sendiri. Ale berenang menuju tepi kubangan ketika ia menyadari ada sesuatu yang menariknya lebih dalam…

Ale terbangun. Berkeringat dingin dan terengah-engah, Ale melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keberadaannya. Tangan Ale gemetar, dan Ale berulang kali memastikan jumlah jarinya (Total masih sepuluh dan berwarna kulit). Ale pun berulang kali melihat kakinya, memastikan bahwa kaki itu tetap kaki; bukan ekor duyung atau tentakel gurita. Seorang pramugari mendatangi Ale dengan tatapan cemas sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang diterima Ale dengan lega. Setelah pramugari tersebut memastikan bahwa penumpangnya itu baik-baik saja, Ale meneguk separuh habis air mineralnya dalam sekali minum. Ale melempar pandangan ke luar jendela, memastikan bahwa sayap pesawat yang sekarang ia lihat adalah sayap pesawat yang sama dengan yang tadi ia lihat sebelum jatuh tertidur.

Teh lagi. Sial, pikirnya.

Ale baru saja mengalami salah satu mimpi paling aneh dalam hidupnya. Sejauh yang bisa ia ingat, mimpi aneh terakhir yang masih membekas adalah mimpi tertimpa gajah hijau tua yang seluruh tubuhnya dikerubuti semut biru ketika Ale kelas 1 SMP. Yang Ale ingat, mimpi itu muncul setelah Ale menonton Jumanji, Smurf dan Kera Sakti di hari pertama liburan sekolah. Mimpi itu membekaskan rasa ngeri di benak Ale setiap kali melihat semut bergerombol hingga ia memasuki masa SMA. Tapi sekarang, mimpi aneh yang ia alami rasanya berbeda. Ale tau akhir-akhir ini ia terlalu overthinking, paranoid, merasa diawasi, merasa diteror, atau apapun itu istilahnya. Ale sadar bahwa mimpi ini mungkin saja bagian dari ekspresi ketakutannya. Tapi tetap saja, bermimpi begini di tengah perjalanan menuju daerah antah berantah bukan merupakan suatu hal yang bagus.

“Kamu berkeringat. Silakan pakai ini.” Wanita yang duduk di sebelah Ale, penumpang yang ia tak tau namanya, mengulurkan selembar tisu kepadanya. Ale tersenyum simpul dan menerimanya. Penerbangan panjang ini ternyata tak cocok baginya. Total waktu penerbangannya 18 jam, ditambah transit luar biasa lama di Vietnam membuat Ale merasa pegal dan mual; kehilangan koordinasi dan kesadaran terhadap waktu. Jendela pesawat gelap, tapi pikirannya membuncah penuh energi; dan ketika jendela pesawat terang, Ale merasakan kantuk yang teramat sangat. mungkin lelah itu juga yang membuat mimpi Ale terasa begitu nyata. Ale melap keringat dengan tisu pemberian wanita di sebelahnya ketika menyadari aromanya berbeda. Aroma melati.

Wanita itu tersenyum,”Aromanya menyenangkan ya? Untuk yang baru saja bermimpi buruk, aroma ini katanya bisa menenangkan. Saya masih ada yang lain kalau kamu mau.”

Mau tak mau, Ale tersenyum lagi sambil mengucapkan terima kasih. Ale seperti mengenal wanita itu, tapi susah mengingat di mana dan kapan. Wanita itu memandang Ale dan kemudian mengulurkan tangan, “Pie.”

“Maaf?” kata Ale, “Pie?”

“Iya, namaku Pie,” wanita itu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lucu, seperti anak kecil.

Ale membalas uluran tangannya, “Ale.”

“Pertama kali penerbangan panjang ya?” tanyanya lagi; dan kalimat itu menjadi kalimat pembuka percakapan mereka.

Ini adalah kali pertama Ale merasa senang ada yang mengajak ia mengobrol di pesawat. Obrolan mereka mengalir, tentang tujuan, pekerjaan, asal, lalu entah bagaimana, perbincangan itu kembali mengarah ke selembar tisu beraroma melati ketika pesawat bersiap untuk mendarat.

“Kenapa melati?” tanya Ale.

“Itu seperti menanyakan ‘kenapa namamu Pie?’. Well, aku tak pernah paham. mungkin karena aromanya tidak memaksa.”

“Memaksa?”

“Ya. Aromanya tidak menyengat, sedikit-sedikit saja tapi berkelanjutan. Mengalir terus tapi tak pernah sangat menusuk. Aku juga suka rasanya ketika dicampur dengan teh, apalagi sekarang kita sedang menuju tempat yang memang khas dengan tehnya kan…”

Teh lagi. Ale sampai lupa bahwa tempat yang ia kunjungi ini adalah negeri pecinta teh nomor satu. Teh. Jangan-jangan…

Lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah padam; Pesawat telah mendarat di Heathrow Airport, London.

Ale bersiap turun dari pesawat ketika Pie berkata padanya,”Hati-hati dengan Earl Grey ya…”
Pie kemudian menyelinap di antara penumpang yang lain tanpa memberi Ale kesempatan untuk menjawab. Pie berhenti sejenak dan melanjutkan,”Jangan lupa kartu posnya!”

Kartu pos?

Pie tak bisa ia temukan di antara kerumunan yang mengantri bagasi dan antrian imigrasi. Ale merutuk karena mereka juga tak bertukar kontak. Seketika itu, Ale ingat bahwa ia belum mengabari penjemput dari kantornya. Ale menyalakan ponselnya, lalu menghubungkannya dengan WiFi airport. Ponselnya langsung penuh notifikasi yang kemudian ia cek satu-satu sambil menunggu jemputan. Notifikasi email kantor, chatgroup, notifikasi Facebook, Twitter, dan..

Satu notifikasi yang rasanya janggal tertangkap olehnya. Notifikasi Instagram.

“pieamber.pie started following you”

Ale terdiam. Amber lagi?

 

Vietnam, 180717; 1915
Ling

Ale Pie

Galeri

Sketpro #3: Alé dan Amber

Sudah dua kali, pikir Ale, dan kedua kejadian itu berakhir dengan memalukan. Yang pertama, Ale hanya bisa menangkap kilatan cahaya sebelum akhirnya semua gelap. Setelahnya, ia terbangun di ruang istirahat pegawai di café tempatnya kehilangan kesadaran. Dia ditolong oleh pemilik café yang wajahnya lebih dari sekedar lega ketika melihat Ale akhirnya terbangun. Setelah berulang kali meyakinkan ia baik-baik saja dan menolak diantarkan pulang, Ale pun dipesankan taksi yang mengantarkannya ke rumah. Semalaman itu pun ia menyalakan semua lampu yang ada di rumahnya, dan terjaga hingga pagi. Seperti itu terus; terus menerus selama hampir seminggu. Ujungnya? Ia harus dirawat di rumah sakit.

Pada kejadian kedua, Ale merasa cukup kuat untuk tidak tumbang lagi seperti sebelumnya.  Ale juga merasa cukup kuat untuk tidak berteriak. Ia berdiri cukup lama, menyaksikan lumpur itu menggenang dan merambat menuju kakinya. Ia mencoba meyakinkan bahwa ini hanya ada di kepalanya dan tidak benar-benar terjadi. Tapi ternyata ia tak sekuat bayangannya. Ale mual, lalu muntah sejadi-jadinya. Tepat ketika Ale limbung, tetangga kakaknya keluar dari rumahnya dan sempat menahan Ale agar tidak terjatuh. Gerbang terbuka dan Ale melihat sosok yang benar-benar kakaknya, mendengar suara-suara panik dari dalam rumah, melihat genangan lumpur di dekatnya lenyap perlahan, lalu kemudian… well, dia tidak sadarkan diri lagi.

Dua kali, pikirnya lagi. Bagaimana bisa?

Sehari setelah kejadian kedua, Ale melakukan full check up di Rumah Sakit dekat kantornya. Ia melakukan segala macam tes fisik dan mental, berharap apa yang dia alami beberapa waktu ke belakang murni adalah hasil dari error yang ada di tubuhnya. Hasilnya nihil. Semua aspek normal. But how normal can it be?

Jam setengah dua pagi; Ale tau bahwa malam ini ia tidak seharusnya begadang. Esok pagi-pagi sekali ia harus menemui klien kantornya langsung di perkebunan teh milik si klien untuk membicarakan rencana kerjasama. Tapi ia merasa terganggu dan ingin mengetahui sebab dari semua ketidakberuntungan yang terjadi padanya. Sejak kapan hal-hal aneh ini mulai datang padanya? Pertemuan dengan anak-anak lumpur itu terjadi dua minggu lalu; penghujung bulan April. Kemunculan gadis pemilik cafe itu adalah sebulan sebelumnya. Sebelum tanggal-tanggal itu, Ale merasa hidupnya aman dan baik-baik saja. Kecuali…

Ah, iya. Sepertinya, sejak saat itu. Sejak Ale mengenal perempuan bernama Amber yang berulang kali mengatakan bahwa mata Ale mirip mata kucing. Perempuan bernama Amber ini Ale temui tanpa sengaja di sebuah kantor pos ketika mereka sama-sama membeli perangko untuk mengirimkan kartu pos. Selama ini Ale merasa dirinya unik; autentik; jarang ada manusia modern yang masih memilih cara konvensional berkomunikasi menggunakan surat dan kartu pos. Namun ketika dia menemukan seseorang yang memiliki kesamaan dengannya, girangnya bukan main. Mereka bertukar alamat dan memutuskan untuk saling berkirim kartupos.

Sejauh ini, mereka tak pernah bertemu lagi dan komunikasi mereka hanya terbatas pada kartu pos-kartu pos yang dikirim dalam jangka waktu tidak tentu. Ale telah mengirim tiga, dan Amber juga telah mengirim tiga. Ketiga kartu pos yang Amber kirim berasal dari negara yang berbeda; dan selalu diakhiri dengan kalimat,”Matamu seperti mata kucing, Le. Hati-hati ya.”

Jika pada awalnya Ale merasa itu sebagai lelucon, maka kini ia mulai merasa takut. Seketika itu juga Ale mengambil seluruh kartu pos dari Amber dan mulai menelisiknya satu per satu.

Kartu pos pertama berasal dari Aceh, dengan gambar segelas kopi dilatari dataran tinggi Gayo. Kartu pos kedua dari Brazil, bergambar anak-anak yang bermain sepakbola. Kartu pos ketiga..

Tunggu.

Ada yang janggal.

Ale menatap lagi kartu posnya, lalu tertegun. Segelas kopi dan kejadian di cafe. Anak-anak yang bermain bola dengan anak-anak yang berubah menjadi lumpur.

Tangannya mendingin ketika melihat kembali kartu pos ketiga.

Kartu pos dari Bandung. Bergambar perkebunan teh.

Ale menghela napas. Mampus, pikirnya.

Sydney, 130517, 0247 AEST
_Ling_

 

Ale1