Galeri

Istirahat

mata itu,
serupa mata kucing
terang, awas, hening

cerita yang mengalir dan kata yang terlontar
ribuan ‘kalau saja’, puluhan ribu hela napas

jika, jika, jika
ada sesak pada tiap kata
mata itu kehilangan teduhnya

 

Amorita
dps 04111343

Galeri

Penulis Yang Tak Pernah Menulis

Ya, ia memang tak pernah menulis, namun ia lah sang penulis. Lamunnya hasilkan karya-karya, tentang ragam hal, dalam banyak bahasa, di seluruh belahan dunia.

Lamunnya memang tak biasa, namun tak sekalipun ia guratkan sendiri. Karyanya, tercipta dengan tangan-tangan para asisten penurut. Sang penulis bukannya tak mampu, hanya saja ia rasa terlalu menjemukan.

Beberapa bukunya menjelma menjadi mahakarya. Dalam satu mahakarya ia mampu rangkum berbagai kisah, ilmu alam, teknik pengobatan, ilmu ekonomi, hingga lagu. Ya, dalam satu mahakarya

Dari mana ia dapatkan idenya adalah misteri. Tak satupun daftar referensi yang bisa dituju. Tak ada yang berani menyanggah idenya. Penyanggahan adalah ketidakpedulian. Mungkin ia memang sehebat itu

Karya-karyanya telah dinikmati dari generasi ke generasi oleh ratusan juta penggemarnya. Tua, muda, pria, wanita, semua cintai karyanya. Penggemar fanatiknya pun tak henti-henti gaungkan isinya searah.

Sayangnya, tiap penggemarnya tak terlalu tertarik dengan karya lainnya ketika mereka rasa telah nikmati satu.

Kini sang penulis telah berhenti menulis. Mungkin semua yang mampu dibahas telah dibahas, mungkin kejenuhan, mungkin ia telah tiada, mungkin ia masih menulis, namun tak sewahid karya-karya sebelumnya

Atau mungkin sekarangpun ia tengah duduk bersandar pada sebuah pohon elm di lapangan rumput yang luas, mendikte ide barunya kepada asistennya. Mungkin karya terkini telah rangkum, namun ia rasa belum saatnya.

Ya, ia memang tak pernah menulis, namun ia lah sang penulis.

Galeri

Sehari di Kehidupan Seorang Pekerja

Satu hari yang panas di daerah ibu kota, seperti hari-hari pada umumnya, Bharuna Sasuno berjalan dari salah satu restoran, balik menuju kantor yang ia tinggalkan satu setengah jam lalu demi hangatnya makanan khas daerah timur. Sambil berjalan, Bharuna merapikan kemeja biru langit ke dalam celana kain hitamnya dan membersihkan debu di sepatunya yang hitam mengkilat. Sangat mengkilat, seperti sepasang sepatu yang baru saja dikeluarkan dari kotaknya setelah sepatu tersebut sampe di rumah melalui jasa sebuah pengiriman barang. Dia mengapit jas di tangan sebelah kiri, membebaskan tangan kanannya untuk sewaktu-waktu ingin meraih telepon genggam dari dalam kantong. Tas punggung yang hanya dikenakan di sebelah kirinya berisikan inisial namanya, BS. Konon tas itu dipesannya, khusus dengan inisial, langsung dari sebuah perusahaan tas ternama di Amerika.

Sudah hampir setengah jalan Bharuna melangkah balik menuju gedung kantor, ketika cret! Bharuna berdiri tertegun, merasakan substansi lembut dan kenyal di bawah kaki kanannya yang tak sesuai dengan substansi trotoar. Ia tak sengaja menginjak kotoran hewan! Jelas tak sengaja, orang normal mana yang mungkin sengaja menginjak hasil akhir perjalanan makanan makhluk hidup?

’Hm kan’ ujar Bharuna dalam hati, mengakui kesialannya.

Seketika Bharuna mengangkat kaki kanannya dan menggosok-gosokkan sol sepatunya di sudut trotoar. Ia berusaha meraih tisu, untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang masih tertinggal, yang terletak di suatu sudut dalam tasnya. Sesaat kemudian ia sadar bahwa dirinya tak memiliki tisu. Ia kemudian mengeluarkan saputangan yang berisikan inisial BS dari saku belakang celana kainnya dan membersihkan sisa-sisa kotoran di sepatunya.

’Kalo kecium di ruangan kan bahaya ya, bisa dikatain berbulan-bulan’ pikirnya sambil membersihkan sisa kotoran.

Muka Bharuna terlihat sangat kelelahan dan kusam. Raut kelelahan di wajahnya, tidak salah lagi, merupakan efek samping dari pekerjaan yang ia geluti. Tak jarang ia belum meninggalkan gedung kantornya hingga pukul 3 dinihari! Sedangkan kusam berasal dari asap kendaraan di jalanan yang ia lewati yang tak terhitung jumlahnya. Wajahnya terlihat makin buruk karena diliputi perasaan kesal yang ia rasakan saat kaki kanannya berjumpa dengan substansi lembut barusan.

Memang tidak bisa dipungkiri, bekerja di salah satu cabang perusahaan konsultan paling terkemuka di dunia menuntut para pekerjanya untuk bekerja hingga merasa setengah mati. Entah sudah berapa lama Bharuna menggeluti pekerjaan tersebut. Sepanjang yang ia ingat, hanya pekerjaan itulah memori yang ada di kepalanya. Ia merindukan semangat yang ada ketika berada di awal karirnya di perusahaan itu. Enerjik, penuh semangat, berapi-api, namun kini semua itu entah ada di mana. Apabila tidak demi gaji besar yang ditawarkan, mungkin sudah lama dia akan meninggalkan pekerjaan itu. Kadang terlewat dalam benaknya untuk melakukan pekerjaan lain. Tapi hal itu sudah terlambat, ia sudah nyaman dengan jumlah bayaran yang diberikan sehingga terlalu takut untuk memulai dari jumlah yang lebih kecil dari yang sekarang ia dapatkan. Lamunnya sambil melihat ke atas dengan sebelah kaki masi terangkat dan tangan dengan saputangan masi menyentuh sol sepatu.

”Siang mas Bharuna!” sapa respsionis kantornya, sembari melemparkan senyum profesional khas pekerja terdepan, saat Bharuna memasuki gedung kantor.

”Siang mba” sapa Bharuna sekedarnya, sambil berjalan ke arah lift.

Bharuna berdiri di depan lift, menanti lift yang memang terasa sedikit lambat apabila ditunggu. Hidungnya terasa gatal akibat debu-debu jalanan dan asap kendaraan tadi. Sensasi yang tak bisa dilawan muncul ketika ia secara sadar tak sadar mengarahkan salah satu jari tangan kanannya ke arah lubang pernafasan. Ting! pintu lift terbuka. Belum selesai Bharuna menggali ketika matanya bertemu mata orang-orang yang keluar dari dalam lift. Dalam posisi canggung, Bharuna berusaha agar terlihat tidak menggali, dan berusaha terlihat seperti sedang menggaruk bagian luar hidungnya. Masuk ke dalam lift, Bharuna menekan lantai 25, lantai di mana ia bekerja.

Ting! pintu terbuka di lantai 25, dan saat yang bersamaan pula Bharuna telah menyelesaikan ekskavasi dadakannya. Ia berjalan menuju sebuah meja yang terletak tepat di sudut kiri ruangan dari arah lift. Meja itu menghadap ke arah utara, di sebelah kiri meja adalah jendela besar khas gedung pencakar langit. Bharuna bisa melihat hiruk pikuk ibu kota dari mejanya, sesekali apabila ia bosan dengan telepon genggamnya di masa senggang bekerja, ia akan melihat ke arah luar jendela, terpaku tak berpikir.

Di detik Bharuna merebahkan badannya di kursi, seketika itu juga ia disapa oleh rekannya, Radit Simanjuntak. Radit adalah teman seperjuangan Bharuna di perusahaan ini, mereka memulai bekerja di tahun dan periode yang sama, sama-sama lulusan Business School terkemuka dunia, dan sama-sama konsultan yang handal.

”Liat nih siapa yang baru kelar makan siang jam segini???” ujar Radit sembari merekam Bharuno yang duduk di kursi melalui telepon genggamnya untuk diunggah ke salah satu media sosial paling kekinian. Bharuna tersenyum ke arah kamera, senyum kaget seolah-olah direkam untuk media sosial oleh Radit merupakan hal yang baru pertama kali ia alami. Demi Tuhan, hal ini sudah terjadi berulang-ulang sejak hari pertama mereka mulai bekerja!

Edited, Posted! Selesai mengunggah hasil rekamannya, Radit berjalan ke arah meja Bharuna. Dia menepuk pundak Bharuna sedikit memijat.

”Gimana kata orang minyak yang kemarin?” tanya Radit.

”Baru juga gue selesai makan siang, nyet. Kasi nafas dulu lah. Lima menit lagi gue cek emailnya.” jawab Bharuna santai, padahal tidak juga.

”Gue ditanyain bos sih barusan pas lo keluar, kayanya ga boleh lepas banget sih client yang ini, No.”

”Iya gue tau, tar deh sorean gue ngomong sama bos. Udah sana balik, lo ga ada kerjaan apa?!” kata Bharuna sedikit jengkel bercanda.

“Hm, lo nyium bau-bauan aneh ga si?” tanya Radit sambil sambil membuat suara mengendus.

‘Mampus, saputangan di kantong belakang belum gue cuci’ pikir Bharuna.

”Iya nih bau apa banget ya, mual gue jadinya.” balas Bharuna.

”Baunya familiar si tapi gue gatau apaan.” kata Radit.

“Asli gue mual banget, mana baru kelar makan. Gue ke kemar mandu dulu ya, ga kuat gue.” ujar Bharuna sambil beranjak dari kursinya menuju kamar mandi.

Di kamar mandi, Bharuna menyiramkan air dan sabun ke saputangannya berharap bau dari kotoran tadi bisa tersamarkan. Sambil mencuci, terlintas di benak Bharuna tentang teman-temannya, bekas pasangannya, dan kenalan-kenalannya.

’Gimana mereka bisa nikmatin hidup dengan gaji segituan ya, heh, manusia-manusia aneh.’ Pikir dalam benaknya. Kurang lebih itulah yang selalu ia pikirkan apabila dia ingat dengan pekerjaannya yang sangat menyibukkan dan memakan waktu yang luar biasa banyak.

‘Emang beda kelas aja mau gimana lagi.’ lanjutnya dalam benak.

Ketika Bharuna kembali dari kamar mandi, Radit sudah di mejanya. Bharuna meraih tas punggungnya, mengeluarkan tempat kacamata, menyiapkan laptopnya dan mouse barunya di meja, diikuti beberapa buku catatan, dua buah pulpen, dan earphone kabel dengan merk ternama. Dia membuka laman perusahaannya di mesin pencari terpopuler, memasukkan akun dan kata sandi ke dalamnya. Dengan cekatan dan tingkat penghafalan yang luar biasa seketika dia telah menekan belasan tombol yes dan no sebelum masuk ke bagian yang harus dikerjakannya hari itu. Sebelum memulai pekerjaannya, dia membuka aplikasi musik online di laptopnya dan memutar lagu penyemangatnya, Rise Up dari Pennywise.

Saat itu juga Bharuna mencium lagi bau substansi lunak di trotoar tadi. Tanpa ia sadari, beberapa titik kotoran telah menempel di saku celana tempat ia meletakkan saputangan. Sadar akan bau yang masih menempel, Bharuna menoleh ke kanan untuk melihat rekan-rekan kerjanya yang lain. Beberapa orang telah melakukan gerakan mengusir lalat di depan hidung, satu orang terbatuk sopan, satu orang memasang wajah bingung, dan Radit, Radit dengan tatapan tajam melihat ke arah Bharuna. Bharuna, tidak ingin dicurigai, melaksanakan beberapa batuk heran sambil melihat-lihat ke depan dan belakang.

‘Santai, santai. Ga ada yang tau ini lo’ kata Bharuna dalam hati, sambil berakting senatural mungkin dengan situasi terkini ruangannya.

‘Ah jangan sampai lupa email dari orang minyak!’ tegur Bharuna dalam kepala.

Dia membuka laman pesan elektronik di mesin pencari di sebuah tab baru di sebelah laman pekerjaannya. Dia mengubah akun email dari akun pribadi ke akun bisnisnya, merefresh emailnya beberapa kali untuk menampilkan pesan terbaru. Dan benar saja, sebuah email baru dari perusahaan minyak pun muncul teratas di laman emailnya.

Seketika ia membuka halaman itu, membacanya berulang kali, dan lagi, lagi, dan lagi. Dia tertegun, dirinya tak mempercayai matanya.

What? Dibatalkan? Kerjasamanya dibatalkan?’ pikirnya sambil berulang kali membuka menutup mata seakan-akan tak percaya.

Tiba-tiba saja Bharuna meragukan kemampuan bahasa asingnya, ya email dari perusahaan minyak itu ditulis dalam bahasa asing. Namun berulang kali dibacapun pengertian kata-kata ’we can proceed to terminate the partnership agreement’ tidak menjadi lebih positif.

Sebuah pintu ruangan kecil di depan terbuka, dan sesosok laki-laki dengan wibawa kelas wahid berdiri di ambang pintu.

”Bharuna, bisa ke ruangan saya sekarang?” perintah bos Bharuna.

Bharuna, sadar dengan apa yang terjadi, bangkit dari kursi dan berjalan ke ruangan bosnya secara otomatis. Wajahnya lesu, seakan-akan semua penopang hidupnya ambruk.

”Pak” sapa Bharuna ke bosnya.

”Iya, silahkan duduk Bharuna. Saya yakin kamu sudah tau kenapa dipanggil kan?”

”Sudah, pak”

”Uhuk, uhuk, uhuk-uhuk. Kok ada aroma aneh ya? Kamu ngeh juga ga?”

Bharuna, tak berani menjawab, hanya terdiam dan tertunduk. Lima belas menit kiranya pikiran Bharuna melayang tak karuan. Apa kabar cicilan rumah? Mobil? Pernikahan? Kira-kira hal itu yang berulang kali terbesit di benaknya. Bharuna mulai mendapatkan kesadarannya ketika bosnya mempersilahkan ia untuk keluar ruangan.

Sampai lagi di kursinya, Bharuna mengambil nafas yang panjang, mengeluarkannya lewat mulut, jemari tangannya memutar lagu di aplikasi musik laptopnya, Three Little Bird dari Bob Marley. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Ia bisa merasakan keringatnya menjadi dingin di sudut-sudut wajahnya.

“Diare sih tu orang” kata Radit ke salah satu rekan kerja di sebelahnya.

“Baunya ga nahan si” balas rekannya.

Seketika orang-orang di lantai 25 membicarakan wajah Bharuna yang pucat dan mengasosiasikannya dengan diare, sakit perut, dan kawan-kawan. Lupa dengan fakta bahwa Bharuna baru saja dipanggil ke dalam ruangan bos.

Bharuna, kini lebih tenang, melipat kedua tangan di belakang kepalanya, bersandar ke kursi kerjanya, memejamkan kedua matanya, dan dia pun tertidur. Hari itu merupakan hari terakhir Bharuna bekerja di perusahaan itu.

Galeri

The Finding

It felt like the divine had opened the door for him.

For he had no fear about anything, literally.

He thought, ‘If this is how you’re going to prove that You exist, I cannot imagine or envisage anything greater than this’.

He looked forward, smiling calmly, and then he said “I love you. But it feels like every single word in that phrase mean something different”.

“I know”, she responded, “for I too feel what you feel”.

They held each other hands, looked each other in the eyes, and they smiled.

At that very moment, they knew.

 

Galeri

Penugasan

Rembulan kian pucat
dedaunan belum lagi kuning

titik debu di sudut kacamata
singgah lalu lewat
sayap abu meretih di puncak wattle
memanggil angin

Apa yang kau nanti?

hening
hening lagi
riuh
riuh menari
Musim tanam dan tuai
masa menabur dan menyanyi
langit abu pekat
musim gugur datang terlambat

Amorita
syd, PGL UNSW – 240317, 1612 AEDT

Galeri

Lelaki Bernama Bulan (2)

Matahari terik, lalu hujan

Pelangi melintang; petir membujur

Lalu apa lagi yang bisa kau keluhkan?
botol-botol kosong itu tak lagi berbunyi
hanya karena angin berhenti bertiup

Kau kenakan lagi boots cokelat tua yang dulu pernah kau buang
kau sisipkan bunga di ujungnya,
yang sore kemarin masih bertangkai
yang pagi tadi masih berduri

Amorita
dps, 260318, 1443 WITA

Galeri

Lelaki Bernama Bulan (1)

dari Rae tentang Ale (bagian satu)

 

yang ia minta padaku hanya cerita,
mengundang semu merah di cuping telinga dan bukit pipi

kadang ia meminta waktuku.
kadang ia meminta kartu pos,
tapi sesekali, ia meminta dedaunan. hanya dedaunan.

meja di sudut,
tempat ia biasa memesan secangkir kopi dan sesisir roti
roti selai srikaya dan cokelat
lalu ditutup dengan es krim yang juga cokelat

lelaki itu muncul dan menghilang
lelampu yang mengikutinya pun timbul tenggelam.

 

dps, 060218
_Ling_

Galeri

Ada yang Menunggu

Miring

“Saya sudah penat dengan dunia yang mulai menggila, ga kondusif, dan penuh prasangka buruk.

Saya penat dengan orang-orang yang hobinya men-judge orang lain seenak jidat.

Saya muak dengan orang-orang yang bertingkah juga seenak jidat, ga pake mikir dulu. Kalaupun mikir, isi pikirannya miring semua!”

Ahhh, sudahlah, terlalu kesal rupanya.

Sibuk

Saya masih berkutat dengan sejumlah data yang mesti diproses. Masih duduk di kursi yang sama, satu jam pun belum. Mungkin akan masih disini untuk beberapa jam ke depan. Rutinitas. Setidaknya begitulah orang-orang sibuk itu menyebutnya. Berbicara tentang sibuk, terkadang saya kesal dengan mereka-mereka yang sibuknya bukan main. Mereka lupa segalanya. Tapi, tetap ada satu hal yang saya yakini, saya selalu bisa pulang dan bersandar. Seyakin bahwa akan selalu ada yang menunggu.

 

Bukankah begitu, Mas?

 

8.22 pm

Vidia

Galeri

Sketpro #4: Ale dan Pie

Ale terduduk di tengah kebun (yang ia yakini sebagai kebun teh), dan menyaksikan perdu-perdu teh itu berkembang dengan sendirinya. Beberapa tangkainya memanjang serupa sulur, merayap menuju kaki Ale, lalu menggelitiki telapak kakinya. Ale tertawa geli, lalu terbahak. Seketika Ale terbahak, seketika itu juga sulur-sulur the itu menjerat kakinya. Tawanya berubah menjadi teriakan ketika ia terseret ke dalam kubangan lumpur yang berpendar hijau. Lumpur itu mengubah tangannya menjadi elastis serupa tentakel tetapi berkuku panjang seperti cakar. Kaki kanannya mulai bersisik, sedangkan kaki kirinya ditumbuhi bulu lebat. Kubangan yang berpendar hijau itupun mulai mendidih, menguarkan aroma amis. Beberapa detik kemudian, Ale kehilangan suaranya; teriakannya berubah menjadi serupa ringkikan kuda. Ale takut terhadap dirinya sendiri. Ale berenang menuju tepi kubangan ketika ia menyadari ada sesuatu yang menariknya lebih dalam…

Ale terbangun. Berkeringat dingin dan terengah-engah, Ale melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keberadaannya. Tangan Ale gemetar, dan Ale berulang kali memastikan jumlah jarinya (Total masih sepuluh dan berwarna kulit). Ale pun berulang kali melihat kakinya, memastikan bahwa kaki itu tetap kaki; bukan ekor duyung atau tentakel gurita. Seorang pramugari mendatangi Ale dengan tatapan cemas sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang diterima Ale dengan lega. Setelah pramugari tersebut memastikan bahwa penumpangnya itu baik-baik saja, Ale meneguk separuh habis air mineralnya dalam sekali minum. Ale melempar pandangan ke luar jendela, memastikan bahwa sayap pesawat yang sekarang ia lihat adalah sayap pesawat yang sama dengan yang tadi ia lihat sebelum jatuh tertidur.

Teh lagi. Sial, pikirnya.

Ale baru saja mengalami salah satu mimpi paling aneh dalam hidupnya. Sejauh yang bisa ia ingat, mimpi aneh terakhir yang masih membekas adalah mimpi tertimpa gajah hijau tua yang seluruh tubuhnya dikerubuti semut biru ketika Ale kelas 1 SMP. Yang Ale ingat, mimpi itu muncul setelah Ale menonton Jumanji, Smurf dan Kera Sakti di hari pertama liburan sekolah. Mimpi itu membekaskan rasa ngeri di benak Ale setiap kali melihat semut bergerombol hingga ia memasuki masa SMA. Tapi sekarang, mimpi aneh yang ia alami rasanya berbeda. Ale tau akhir-akhir ini ia terlalu overthinking, paranoid, merasa diawasi, merasa diteror, atau apapun itu istilahnya. Ale sadar bahwa mimpi ini mungkin saja bagian dari ekspresi ketakutannya. Tapi tetap saja, bermimpi begini di tengah perjalanan menuju daerah antah berantah bukan merupakan suatu hal yang bagus.

“Kamu berkeringat. Silakan pakai ini.” Wanita yang duduk di sebelah Ale, penumpang yang ia tak tau namanya, mengulurkan selembar tisu kepadanya. Ale tersenyum simpul dan menerimanya. Penerbangan panjang ini ternyata tak cocok baginya. Total waktu penerbangannya 18 jam, ditambah transit luar biasa lama di Vietnam membuat Ale merasa pegal dan mual; kehilangan koordinasi dan kesadaran terhadap waktu. Jendela pesawat gelap, tapi pikirannya membuncah penuh energi; dan ketika jendela pesawat terang, Ale merasakan kantuk yang teramat sangat. mungkin lelah itu juga yang membuat mimpi Ale terasa begitu nyata. Ale melap keringat dengan tisu pemberian wanita di sebelahnya ketika menyadari aromanya berbeda. Aroma melati.

Wanita itu tersenyum,”Aromanya menyenangkan ya? Untuk yang baru saja bermimpi buruk, aroma ini katanya bisa menenangkan. Saya masih ada yang lain kalau kamu mau.”

Mau tak mau, Ale tersenyum lagi sambil mengucapkan terima kasih. Ale seperti mengenal wanita itu, tapi susah mengingat di mana dan kapan. Wanita itu memandang Ale dan kemudian mengulurkan tangan, “Pie.”

“Maaf?” kata Ale, “Pie?”

“Iya, namaku Pie,” wanita itu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lucu, seperti anak kecil.

Ale membalas uluran tangannya, “Ale.”

“Pertama kali penerbangan panjang ya?” tanyanya lagi; dan kalimat itu menjadi kalimat pembuka percakapan mereka.

Ini adalah kali pertama Ale merasa senang ada yang mengajak ia mengobrol di pesawat. Obrolan mereka mengalir, tentang tujuan, pekerjaan, asal, lalu entah bagaimana, perbincangan itu kembali mengarah ke selembar tisu beraroma melati ketika pesawat bersiap untuk mendarat.

“Kenapa melati?” tanya Ale.

“Itu seperti menanyakan ‘kenapa namamu Pie?’. Well, aku tak pernah paham. mungkin karena aromanya tidak memaksa.”

“Memaksa?”

“Ya. Aromanya tidak menyengat, sedikit-sedikit saja tapi berkelanjutan. Mengalir terus tapi tak pernah sangat menusuk. Aku juga suka rasanya ketika dicampur dengan teh, apalagi sekarang kita sedang menuju tempat yang memang khas dengan tehnya kan…”

Teh lagi. Ale sampai lupa bahwa tempat yang ia kunjungi ini adalah negeri pecinta teh nomor satu. Teh. Jangan-jangan…

Lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah padam; Pesawat telah mendarat di Heathrow Airport, London.

Ale bersiap turun dari pesawat ketika Pie berkata padanya,”Hati-hati dengan Earl Grey ya…”
Pie kemudian menyelinap di antara penumpang yang lain tanpa memberi Ale kesempatan untuk menjawab. Pie berhenti sejenak dan melanjutkan,”Jangan lupa kartu posnya!”

Kartu pos?

Pie tak bisa ia temukan di antara kerumunan yang mengantri bagasi dan antrian imigrasi. Ale merutuk karena mereka juga tak bertukar kontak. Seketika itu, Ale ingat bahwa ia belum mengabari penjemput dari kantornya. Ale menyalakan ponselnya, lalu menghubungkannya dengan WiFi airport. Ponselnya langsung penuh notifikasi yang kemudian ia cek satu-satu sambil menunggu jemputan. Notifikasi email kantor, chatgroup, notifikasi Facebook, Twitter, dan..

Satu notifikasi yang rasanya janggal tertangkap olehnya. Notifikasi Instagram.

“pieamber.pie started following you”

Ale terdiam. Amber lagi?

 

Vietnam, 180717; 1915
Ling

Ale Pie

Galeri

Hujan

Labil

Malam ini (11 pm) Kingsford diguyur hujan. Kali ini, ramalan cuaca di ponsel saya sedang berfungsi dengan baik. Kebiasaan melihat prediksi cuaca di pagi hari sebelum beraktivitas menjadi salah satu dari sekian banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan di Indonesia. Alasannya? Hmm, cuaca disini cepat sekali berubah – labil.

Klise

Terkadang saya kesal dengan hujan. Apalagi hujan ditambah dengan angin yang cukup kencang. Tak ayal, payung apa adanya hanya akan berujung di tong sampah karena tak mampu memberikan perlawanan berarti. Tetapi bagi sebagian orang, hujan menjadi momentum yang paling ditunggu karena selepasnya pelangi akan melengkung di langit. Klise.

Hujan

Hujan – salah satu momentum yang paling mustajab untuk dikabulkannya doa. Kalau begitu, bolehkah saya berdoa? Berdoa agar tidak ada lagi bentuk intimidasi, kekerasan, ancaman, dan permusuhan. Berdoa agar tidak ada lagi orang-orang dengan pikiran yang sempit, close-minded, dan egosentris yang luar biasa.

Ahhh, tapi tetap saja ada yang mengganjal. Maka, Tuhan, bolehkah saya berdoa? Berdoa untuk dia yang sangat saya rindukan.

 

 

-Vidia-

 

 

photo_2017-10-22_19-56-14.jpg