Galeri

Penulis Yang Tak Pernah Menulis

Ya, ia memang tak pernah menulis, namun ia lah sang penulis. Lamunnya hasilkan karya-karya, tentang ragam hal, dalam banyak bahasa, di seluruh belahan dunia.

Lamunnya memang tak biasa, namun tak sekalipun ia guratkan sendiri. Karyanya, tercipta dengan tangan-tangan para asisten penurut. Sang penulis bukannya tak mampu, hanya saja ia rasa terlalu menjemukan.

Beberapa bukunya menjelma menjadi mahakarya. Dalam satu mahakarya ia mampu rangkum berbagai kisah, ilmu alam, teknik pengobatan, ilmu ekonomi, hingga lagu. Ya, dalam satu mahakarya

Dari mana ia dapatkan idenya adalah misteri. Tak satupun daftar referensi yang bisa dituju. Tak ada yang berani menyanggah idenya. Penyanggahan adalah ketidakpedulian. Mungkin ia memang sehebat itu

Karya-karyanya telah dinikmati dari generasi ke generasi oleh ratusan juta penggemarnya. Tua, muda, pria, wanita, semua cintai karyanya. Penggemar fanatiknya pun tak henti-henti gaungkan isinya searah.

Sayangnya, tiap penggemarnya tak terlalu tertarik dengan karya lainnya ketika mereka rasa telah nikmati satu.

Kini sang penulis telah berhenti menulis. Mungkin semua yang mampu dibahas telah dibahas, mungkin kejenuhan, mungkin ia telah tiada, mungkin ia masih menulis, namun tak sewahid karya-karya sebelumnya

Atau mungkin sekarangpun ia tengah duduk bersandar pada sebuah pohon elm di lapangan rumput yang luas, mendikte ide barunya kepada asistennya. Mungkin karya terkini telah rangkum, namun ia rasa belum saatnya.

Ya, ia memang tak pernah menulis, namun ia lah sang penulis.

Galeri

Melahirkan Anak Rohani

‘Anak, Anak-anak, Anak-anakan’

Mendefinisikan kata ‘anak’ adalah sesuatu yang unik; beberapa orang akan sesederhana mengatakan bahwa anak merupakan ‘buah cinta dari laki-laki dan wanita’, sementara yang lain dapat menggambarkan anak dengan kata-kata puitis menyentuh hati; harta paling berharga yang tidak bisa disamakan dengan hal indah lain di dunia.

Beberapa orang mengusahakan segala cara untuk bisa memiliki anak sendiri, sementara beberapa lainnya tega membuang anak begitu saja karena mereka tidak siap dan tidak menginginkannya. Sebagian orang terobsesi untuk cepat-cepat memiliki anak, sementara sebagian lainnya menunda kehadirannya dengan berbagai alasan.

Saya sendiri sejak dahulu benar-benar ingin memiliki anak. Tapi anak yang saya ingin miliki pada saat sekarang ini mungkin tidak seperti anak yang ingin dimiliki orang kebanyakan.

Saya ingin memiliki Anak Rohani. Atau begitulah orang biasa menyebutnya. 

Keinginan memiliki anak rohani ini sebenarnya sudah muncul sejak saya SD, tapi waktu itu saya belum mengerti bahwa itulah istilahnya. Ketika menginjak usia SMP, saya mulai mengakrabkan diri dengan anak-anak rohani orang lain (bahkan terobsesi pada salah satunya sampai sekarang). Ketika itu saya berpikir kalau nanti saya akan punya anak-anak rohani yang bisa bersanding dengan anak-anak orang lain ini. Parenting anak rohani ini tidak memiliki standar, masa konsepsi dan ‘mengandung’nya pun berbeda-beda untuk tiap orangtua. Orangtua dari anak-anak yang saya akrabi kala itu rata-rata bisa mengasuh lebih dari empat anak -dan semua anaknya dikenal dunia- pada saat yang bersamaan; pencapaian yang luar biasa mengagumkan bagi saya yang kala itu clueless mengenai parenting anak rohani ini.
Ketika saya beranjak SMA, lebih banyak lagi anak-anak rohani orang lain yang mampir pulang pergi ke tempat saya. Saya pun mulai memberanikan diri untuk mengkonsepsi anak saya sendiri. Saya merancang tingkahnya seperti apa, matanya, rambutnya, petualangannya. Anak itu mulai tumbuh tapi masih sekedar tumbuh, hilang muncul sesuka hati. Anak itu dulu saya namai Arwish, anak laki-laki yang hobi mencari jalan alternatif di tengah kemacetan. Arwish ada di berbagai macam petualangan yang kami rancang bersama, mulai dari melaporkan atasan yang korup hingga ia yang tersesat dalam mimpi berlapis. Arwish membayangi saya bertahun-tahun, meminta dilahirkan secara utuh dan bukan tercecer di sana sini. Saya membawa kekhawatiran yang bercokol di perut saya ke mana-mana, khawatir Arwish diambil orang lain tetapi saya sendiri belum mampu untuk mengandung dan melahirkannya. Arwish akhirnya menciut dan menghilang, sesekali masih menghantui mimpi-mimpi saya tapi tak menuntut lagi seperti dulu.

Ketika kuliah, saya melompat dari satu arena ke arena lain, masih berpikir untuk melahirkan anak tetapi kali ini saya memilih untuk mencoba mengasuh anak-anak tak bernama yang tidak akan menghantui saya seperti yang telah dilakukan oleh Arwish. Sampai akhirnya sekitar satu setengah tahun lalu, pikiran untuk memiliki anak rohani itu kembali muncul. Kali ini, saya disesatkan ke jalan yang benar oleh seseorang yang punya daya cipta jauh melebihi saya. Jika dulu Arwish saya rancang sebagai anak biasa di dunia biasa, maka anak rancangan kami kali ini memiliki dunianya sendiri. Parenting untuk anak seperti ini akan jadi jauh lebih berat, tapi partner saya mengatakan bahwa kali ini anak itu akan benar-benar kami lahirkan. Menanggung beban mengandung dan melahirkan berdua itu mungkin memang lebih mudah.

Anak ini, yang belum kami namai, sempat terdorong ke belakang pikiran kami masing-masing; ketika itu mungkin situasi sedang sulit untuk kami. Saya sendiri ketika itu sedang mengkonsep saudara Arwish, namanya Ale. Ale yang jadi muse saya sejak tahun lalu selalu protes tiap kali saya temui, karena Ale selalu menemui kesialan tiap kali berpetualang dengan saya. Ale memang tidak se-demanding Arwish, tapi saya merasa memilki tanggung jawab untuk melahirkan Ale secara utuh suatu hari nanti. Kesalahan yang saya lakukan pada Arwish saya harap tidak terjadi lagi pada Ale maupun pada anak saya (dan partner) nanti.

Kali ini kami kembali merancang masa depan si anak; rambutnya, matanya, sifatnya, petualangannya. Si Anak baru yang namanya masih kami cari-cari ini tampaknya harus menunggu sedikit lebih lama sampai saya men-submit semua assignment semester ini. Nantinya ketika anak ini lahir, saya harap anak ini bisa berteman baik dengan Harry, Ron, Hermione dan Frodo. Hehehe.

PS: Ketika saya menulis ini, Ale mengintip dari belakang dan berulang kali berbisik,”Jadi, apa itu artinya aku nyata? Apa Rae juga nyata?”

Haiya, Sudahlah nak. Aku belum siap memberikan kesialan lain untukmu. 

 

Sydney, 031117. 1439 AEST
_Ling_

 

Galeri

Chemical Weapon, Penistaan di Abad 21

Kesal, sedih, takut, malu…

Itu beberapa kata yang mungkin bisa menggambarkan perasaan saya ketika mengetahui serangan gas beracun di Provinsi Idlib, Suriah. Ratusan warga sipil tewas. Di satu rumah, seorang ayah harus kehilangan istri dan dua anak kembarnya. Sementara di rumah yang lain, seluruh anggota keluarga terbujur kaku dengan mata terbelalak. Di pinggiran jalan, anak-anak kecil tak berdosa hanya bisa meregang nyawa dengan mulut berbusa, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal untuk kedua orang tuanya.

Penyebabnya adalah gas sarin yang mungkin masih asing di telinga sebagian orang, termasuk saya. Lantas saya langsung mencari tahu apa sebenarnya gas sarin tersebut, bagaimana struktur dan efek sampingnya jika seseorang terpapar oleh gas sarin. Dan, waw! hasilnya cukup mengejutkan. Walaupun sebenarnya tak asing bagi saya mengetahui betapa berbahayanya zat-zat kimia yang sering saya gunakan untuk research dan terkadang efeknya baru bisa dirasakan setelah bertahun-tahun kemudian. Namun, efek super cepat dalam hitungan menit bahkan detik pun bisa saja dialami. Contoh sederhana yang pernah saya alami adalah bolongnya sepatu converse saya yang notabene masih baru (saat itu) hanya terkena satu tetes asam sulfat! Atau gatal-gatal di kulit setelah terkena natrium hidroksida (NaOH), pusing kepala setelah lama bekerja menggunakan pelarut dicholoromethane (DCM) atau chloroform sepertinya hal ter-simpel yang bisa dialami.

Kembali lagi berbicara mengenai gas sarin

Sarin (GB, O-isopropyl methylphosphonofluoridate) merupakan agen syaraf yang termasuk ke dalam golongan organofosfat (OP). Dalam dosis tinggi, sarin ini menyebakan tremor, kejang-kejang, dan hipotermia. Lebih lanjut lagi, senyawa ini menyebabkan penumpukan acetylcholin (Ach) di sistem syaraf pusat yang menyebabkan paralysis, sesak nafas, dan akhirnya berujung pada kematian.

Bukan yang pertama

Serangan di Suriah beberapa hari yang lalu bukanlah kali pertama penggunaan sarin sebagai chemical weapon. Setelah sebelumnya, di tahun 1994 dan 1995, zat yang sama digunakan di Matsumoto dan Tokyo, Jepang yang menyebabkan ribuan orang terkena paparan gas sarin dan tewasnya puluhan orang. Lebih kejamnya lagi, di tahun 2013 sekitar 1700 warga sipil meninggal akibat serangan gas sarin di Ghouta, Suriah.

Penistaan

Sebagai orang yang menekuni bidang kimia, saya sangat, amat, benar-benar kesal atas serangan yang entah itu mengatasnamakan politik, kekuasaan, atau apapun alasan-alasan yang saya gak bisa pahami. Kasarnya, ingin rasanya “ngegoblok-goblokin” pelaku, pengambil keputusan di balik semua serangan itu, walaupun sebenarnya ga ada gunanya. Tapi, helloooo, come on, chemicals as weapon dipake buat ngebunuh orang itu udah sangat biadab! Saya belajar banyak tentang kimia. Di satu sisi, saya terkagum-kagum karena manusia bisa mensintesis begitu banyak senyawa hingga akhirnya bisa digunakan untuk medication, cancer treatment. Tapi, di sisi yang lain, chemicals justru dipakai sebagai senjata pemusnah massal.Ga ada pembenaran atas apapun media yang digunakan untuk membunuh. Serangan Suriah kemarin itu benar-benar meruntuhkan kekaguman saya atas ilmu kimia yang sudah saya geluti dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Ini yang saya takutkan. Belajar suatu ilmu tapi ga dibarengi dengan iman yang kuat. Kasarnya, untuk sintesis bahan peledak atau zat beracun lain, saya pun bisa. Tapi, buat apa? Penggunaan ilmu yang ga sesuai sama koridornya menurut saya sudah termasuk ke dalam kategori penistaan. Entah kebobrokan seperti apa lagi yang akan disuguhkan oleh dunia, yang mengatasnamakan dirinya orang pintar.

Heal the world

Heal the world

make it a better place

for you and for me

and the entire human race

Reference:

Donia, M. B. A.; Siracuse, B.; Gupta, N.; Sokol, A. S. Crit. Rev. Toxicol. 2017, 46 (10), 845-875.

Salam perdamaian,

Vidia