Galeri

Kepada Tuan

Kepada Tuan,

yang menyakitkan bagi saya adalah saya tidak bisa berada di dekatnya,
adalah saya yang terlalu jauh dan tak setiap saat melihatnya.

Kepada Tuan,
yang memilukan bagi saya adalah saya yang hanya bisa mendengar kabarnya lewat udara,
adalah saya yang tak sedikitpun mampu menggenggamnya.

Namun Tuan,
ada yang menyenangkan.
Yang menyenangkan adalah dia yang semakin kuat.

***

Rupanya milkshake malam ini membuat pikiran berkelana.
Jauh, namun tak pernah sampai.
Setidaknya untuk saat ini.

***

Sydney, 12.02 am.

Vidia

Galeri

Hari Esok pun Saya Suka

Entah kenapa, saya suka dengan langit Sydney sore ini.
Biru-keunguan. Ada warna merah mudanya juga.
Hujannya pun saya suka.
Adem.
Sepertinya segala sesuatu yang akan ditinggalkan malah menunjukkan sisi terbaiknya.

Rupanya ada yang sedang menari-nari mengisi pikiran saya. Sesekali saya teringat konser Coldplay tahun kemarin tepat di bulan ini yang berhasil membuat saya susah move on. Like, seriously, it was too good! Secara tak sengaja, saya ingat bagaimana dulu ayah saya mengantarkan saya ke sekolah. Memakai sepeda dan saya duduk anteng di depan karena ayah saya sengaja menyiapkan kursi rotan kecil di belakang stang. Kursi boncengan ini rasanya dulu sempat menjadi primadona. Tetapi tidak untuk sekarang. Saya pun ingat bagaimana dulu saya ingin sekali pergi ke Melbourne untuk alasan yang saya pun ga tahu. Yang pasti saya ingin kesana. Sampai-sampai, saya menulis keinginan itu di sebuah buku. Dan tiga tahun kemudian saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di kota yang berhasil membuat saya terpesona. Bahkan beberapa bulan lalu saya kembali mengunjungi Melbourne walaupun untuk sebuah conference. 

Rupanya pula pikiran saya terlalu sibuk menari-nari. Ahh, sudahlah, beberapa jam lagi saya akan meninggalkan kota ini. Sudah saatnya saya kembali packing.

Hari esok pun pasti saya suka.

🙂

 

Salam,

Vidia

Galeri

Ada yang Menunggu

Miring

“Saya sudah penat dengan dunia yang mulai menggila, ga kondusif, dan penuh prasangka buruk.

Saya penat dengan orang-orang yang hobinya men-judge orang lain seenak jidat.

Saya muak dengan orang-orang yang bertingkah juga seenak jidat, ga pake mikir dulu. Kalaupun mikir, isi pikirannya miring semua!”

Ahhh, sudahlah, terlalu kesal rupanya.

Sibuk

Saya masih berkutat dengan sejumlah data yang mesti diproses. Masih duduk di kursi yang sama, satu jam pun belum. Mungkin akan masih disini untuk beberapa jam ke depan. Rutinitas. Setidaknya begitulah orang-orang sibuk itu menyebutnya. Berbicara tentang sibuk, terkadang saya kesal dengan mereka-mereka yang sibuknya bukan main. Mereka lupa segalanya. Tapi, tetap ada satu hal yang saya yakini, saya selalu bisa pulang dan bersandar. Seyakin bahwa akan selalu ada yang menunggu.

 

Bukankah begitu, Mas?

 

8.22 pm

Vidia

Galeri

Hujan

Labil

Malam ini (11 pm) Kingsford diguyur hujan. Kali ini, ramalan cuaca di ponsel saya sedang berfungsi dengan baik. Kebiasaan melihat prediksi cuaca di pagi hari sebelum beraktivitas menjadi salah satu dari sekian banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan di Indonesia. Alasannya? Hmm, cuaca disini cepat sekali berubah – labil.

Klise

Terkadang saya kesal dengan hujan. Apalagi hujan ditambah dengan angin yang cukup kencang. Tak ayal, payung apa adanya hanya akan berujung di tong sampah karena tak mampu memberikan perlawanan berarti. Tetapi bagi sebagian orang, hujan menjadi momentum yang paling ditunggu karena selepasnya pelangi akan melengkung di langit. Klise.

Hujan

Hujan – salah satu momentum yang paling mustajab untuk dikabulkannya doa. Kalau begitu, bolehkah saya berdoa? Berdoa agar tidak ada lagi bentuk intimidasi, kekerasan, ancaman, dan permusuhan. Berdoa agar tidak ada lagi orang-orang dengan pikiran yang sempit, close-minded, dan egosentris yang luar biasa.

Ahhh, tapi tetap saja ada yang mengganjal. Maka, Tuhan, bolehkah saya berdoa? Berdoa untuk dia yang sangat saya rindukan.

 

 

-Vidia-

 

 

photo_2017-10-22_19-56-14.jpg

Galeri

Pulang

Hari ini, Sabtu malam, 3 Juni 2017, 8.02 pm. Suhu Kingsford berhenti di angka 14 derajat. Musim dingin rupanya telah tiba.

Pesawat 5cm Di Atas Rumah

Bising. Kali ini, tiap malam selalu bising. Pertama, gegara pekerjaan konstruksi lintasan kereta api ringan (light rail transit; LRT) yang nantinya akan menghubungkan Circular Quay dengan Eastern suburb; Randwick dan Kingsford. Lintasan ini akan terbentang sepanjang 12 km. Walaupun mungkin saya ga akan bisa menggunakan transportasi ini karena LRT dijadwalkan mulai beroperasi di tahun 2019. Terkadang saya berpikir, seharusnya kami-kami ini diberikan kompensasi atas polusi suara yang ditimbulkan akibat pekerjaan konstruksi. Ahh, tapi ya sudah lah, lebih baik dinikmati saja. Kedua, gegara pesawat yang bersliweran di atas rumah. Sepertinya sudah musimnya. Hingga beberapa bulan ke depan, jumlah pesawat terbang yang melintas akan semakin banyak seperti tahun lalu. Tahun lalu, saya datang ke Sydney di bulan Juli, tepat di musim dingin. Sejak pertama saya datang hingga sekitar bulan September, kalo kurang kerjaan, dari jendela kamar saya suka liatin pesawat yang mondar-mandir. Jumlahnya banyak. Ga sedikit pesawat yang terbang rendah dengan suara sekian puluh desibel. Kadang, saya suka menakar berapa kira-kira jarak pesawat itu dengan atap rumah saya. Mungkin 5cm.

Pulang

Mungkin, sudah saatnya juga untuk pulang. Pulang kemana? Pulang untuk siapa?

Satu hal yang pasti, ada keluarga dan orang-orang yang rindu di rumah.

 

 

-Vidia-

Galeri

Chemical Weapon, Penistaan di Abad 21

Kesal, sedih, takut, malu…

Itu beberapa kata yang mungkin bisa menggambarkan perasaan saya ketika mengetahui serangan gas beracun di Provinsi Idlib, Suriah. Ratusan warga sipil tewas. Di satu rumah, seorang ayah harus kehilangan istri dan dua anak kembarnya. Sementara di rumah yang lain, seluruh anggota keluarga terbujur kaku dengan mata terbelalak. Di pinggiran jalan, anak-anak kecil tak berdosa hanya bisa meregang nyawa dengan mulut berbusa, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal untuk kedua orang tuanya.

Penyebabnya adalah gas sarin yang mungkin masih asing di telinga sebagian orang, termasuk saya. Lantas saya langsung mencari tahu apa sebenarnya gas sarin tersebut, bagaimana struktur dan efek sampingnya jika seseorang terpapar oleh gas sarin. Dan, waw! hasilnya cukup mengejutkan. Walaupun sebenarnya tak asing bagi saya mengetahui betapa berbahayanya zat-zat kimia yang sering saya gunakan untuk research dan terkadang efeknya baru bisa dirasakan setelah bertahun-tahun kemudian. Namun, efek super cepat dalam hitungan menit bahkan detik pun bisa saja dialami. Contoh sederhana yang pernah saya alami adalah bolongnya sepatu converse saya yang notabene masih baru (saat itu) hanya terkena satu tetes asam sulfat! Atau gatal-gatal di kulit setelah terkena natrium hidroksida (NaOH), pusing kepala setelah lama bekerja menggunakan pelarut dicholoromethane (DCM) atau chloroform sepertinya hal ter-simpel yang bisa dialami.

Kembali lagi berbicara mengenai gas sarin

Sarin (GB, O-isopropyl methylphosphonofluoridate) merupakan agen syaraf yang termasuk ke dalam golongan organofosfat (OP). Dalam dosis tinggi, sarin ini menyebakan tremor, kejang-kejang, dan hipotermia. Lebih lanjut lagi, senyawa ini menyebabkan penumpukan acetylcholin (Ach) di sistem syaraf pusat yang menyebabkan paralysis, sesak nafas, dan akhirnya berujung pada kematian.

Bukan yang pertama

Serangan di Suriah beberapa hari yang lalu bukanlah kali pertama penggunaan sarin sebagai chemical weapon. Setelah sebelumnya, di tahun 1994 dan 1995, zat yang sama digunakan di Matsumoto dan Tokyo, Jepang yang menyebabkan ribuan orang terkena paparan gas sarin dan tewasnya puluhan orang. Lebih kejamnya lagi, di tahun 2013 sekitar 1700 warga sipil meninggal akibat serangan gas sarin di Ghouta, Suriah.

Penistaan

Sebagai orang yang menekuni bidang kimia, saya sangat, amat, benar-benar kesal atas serangan yang entah itu mengatasnamakan politik, kekuasaan, atau apapun alasan-alasan yang saya gak bisa pahami. Kasarnya, ingin rasanya “ngegoblok-goblokin” pelaku, pengambil keputusan di balik semua serangan itu, walaupun sebenarnya ga ada gunanya. Tapi, helloooo, come on, chemicals as weapon dipake buat ngebunuh orang itu udah sangat biadab! Saya belajar banyak tentang kimia. Di satu sisi, saya terkagum-kagum karena manusia bisa mensintesis begitu banyak senyawa hingga akhirnya bisa digunakan untuk medication, cancer treatment. Tapi, di sisi yang lain, chemicals justru dipakai sebagai senjata pemusnah massal.Ga ada pembenaran atas apapun media yang digunakan untuk membunuh. Serangan Suriah kemarin itu benar-benar meruntuhkan kekaguman saya atas ilmu kimia yang sudah saya geluti dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Ini yang saya takutkan. Belajar suatu ilmu tapi ga dibarengi dengan iman yang kuat. Kasarnya, untuk sintesis bahan peledak atau zat beracun lain, saya pun bisa. Tapi, buat apa? Penggunaan ilmu yang ga sesuai sama koridornya menurut saya sudah termasuk ke dalam kategori penistaan. Entah kebobrokan seperti apa lagi yang akan disuguhkan oleh dunia, yang mengatasnamakan dirinya orang pintar.

Heal the world

Heal the world

make it a better place

for you and for me

and the entire human race

Reference:

Donia, M. B. A.; Siracuse, B.; Gupta, N.; Sokol, A. S. Crit. Rev. Toxicol. 2017, 46 (10), 845-875.

Salam perdamaian,

Vidia

Galeri

Fall

Fall…

Cuaca Sydney sedang tidak bersahabat rupanya.

Kemarin Sydney, lebih tepatnya Kingsford dan sekitarnya, diguyur hujan seharian. Suasana tambah gloomy dengan angin berkecepatan yang entah berapa mph. Satu hal yang pasti, badan ini rasanya ikut terseret (ini serius!). Payung antibadai harus sudah pasti jadi must-bring item ditambah jaket windbreaker.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk survive dari suhu Sydney yang perlahan mulai merosot sampai 17 C. Coklat panas di pagi hari bisa jadi salah satu pilihan yang pas. Alternatif lain ya nongkrong di library sambil mengerjakan segudang assignments.

Crystal Clear…

Satu hal yang gak aku notice setelah beberapa bulan tinggal di sini adalah warna langitnya yang biru terang. They said, it’s crystal clear sky! Makanya kerap kali beberapa orang melamar pasangannya dengan menuliskan “marry me” di langit. Sekalinya langit jadi gelap, karena memang akan turun hujan dan bukan karena asap-asap tebal kendaraan atau pabrik yang membumbung tinggi.

Akhir-akhir ini sederet lagu yang bikin baper masuk dalam playlist Spotify.

Tunggulah aku di Jakartamu

tempat labuhan semua mimpiku

Ya, itu salah satu penggalan lirik lagu generasi 90an yang dinyanyikan oleh Sheila On 7 dengan judul “Tunggu Aku di Jakartamu.” Lagu-lagu seperti ini sebenarnya sebagai salah satu cara untuk mengalihkan pikiran dari berbagai tugas dan rutinitas kuliah. Kalau otak lagi mandeg, baca jurnal atau nulis proposal pun ga akan bisa meskipun dipaksain. Tapi, kalau meresapi lirik lagu mah masih bisa dijabanin (baper tingkat lanjut, hee).

Anyway, tulisan ini hanya sebagai salah satu pembuka di saat suhu Sydney mulai dingin.

Stay warm!

Cheers,

Vidia

Galeri

Let the Purple-Blue Jacarandas Bloom!

Setelah Ling yang nge-post cerita pertama di blog ini, kali ini giliran aku yang nambah deretan cerita sepak terjang hidup di Sydney (ceilahhh heeee). Aku kebetulan kuliah di University of New South Wales (UNSW) dan biasanya aku jalan kaki sekitar 15-20 menit dari kost-an. Kalo cuaca lagi bagus, enak sih jalan kaki di sini. Suasananya tenang, udaranya bersih, ga banyak asap kendaraan, dan memang habit orang-orang di sini prefer untuk jalan kaki. So, you’ll never walk alone (loh? hehe). Tapi, sebenernya cuaca di sini agak abnormal. Sometimes, you can experience four seasons in a day! Which is, terkadang siang itu panas banget sampe lebih dari 30<sup>0</sup>C (so far, selama 4 bulan tinggal di sini, suhu tertinggi yang pernah kita alamin itu sekitar 33<sup>0</sup>C). Tapi, pas sore tiba-tiba bisa hujan dan dingin dengan suhu di bawah 12<sup>0</sup>C. Jadi, satu tips ampuh yang mungkin udah klise, selalu sedia payung sebelum hujan!

Anyway, ada satu hal yang sekarang mengalihkan pandangan aku (sumpah ini lebay, heee) tiap kali pergi atau pulang kuliah. Yap, Jacarandas! Its lovely and soft colour sometimes heals my bad mood that day. Jacaranda ini adalah pohon yang aslinya tumbuh di Brazil. However, it’s been growing well in Australia for more than a century. Warnanya yang kalem biasanya menghiasi pinggiran jalan dan pekarangan rumah. Soooo relaxing!

Hal unik lain dari Jacaranda adalah reminder buat para mahasiswa kalo exams sebentar lagi tiba (jreng jreng jreng!). Jacaranda biasanya mekar sepanjang bulan Oktober dan November. Yeahh, it means spring and in another way, exams are waiting! Exams untuk semester 2 biasanya dimulai pada Week 14 atau sekitar bulan November. Di saat itu pula, library akan sangat penuh dibandingkan hari-hari biasa. Meskipun pada dasarnya library di sini suka padat pengunjung. Tapi, kalo lagi peak season alias musim ujian, kita akan kehabisan tempat pewe buat belajar kalo datengnya telat. Ya, sekarang ini buat temen-temen yang ambil program Master by coursework (salah satunya admin cantik kita, heee, Ines)  adalah saat-saat yang cukup genting, bikin stress, dan under pressure karena belajar untuk exams yang biasanya dilaksanain selama 2 minggu. Tapi, ada beberapa fakultas (salah satunya fakultas nya Ling) yang ga ngadain exams. Sebagai gantinya, mereka bagaikan dihujani assignments yang tiada hentinya. Nah, lain lagi ceritanya kalo ambil program Master by Research (salah satunya aku). Ga ada exams, ga ada assignments. All you have to do is conducting your research (almost) everyday in the lab. Kebetulan aku baru 1 semester kuliah di sini. Penilaian untuk students by research (Masters atau PhD) itu dimulai di tahun pertama (setelah semester 2). Jadi, kita harus ngasih talk selama 10-12 menit mengenai research yang sedang dan akan dilaksanakan selama beberapa semester ke depan. Untuk tahun kedua dan selanjutnya berlaku annual review. Mungkin kita bisa bahas assignments, assessments, exams lebih lanjut di Vlog!

Yeahh, Jacarandas are still blooming. Semoga semester 1 ini bisa dilalui dengan baik dengan hasil yang memuaskan. Mohon doanya :))

 

NB: Please, leave us comment on what you wanna hear and know more from us 🙂

 

Cheers,

Vidia