Sehari di Kehidupan Seorang Pekerja

Satu hari yang panas di daerah ibu kota, seperti hari-hari pada umumnya, Bharuna Sasuno berjalan dari salah satu restoran, balik menuju kantor yang ia tinggalkan satu setengah jam lalu demi hangatnya makanan khas daerah timur. Sambil berjalan, Bharuna merapikan kemeja biru langit ke dalam celana kain hitamnya dan membersihkan debu di sepatunya yang hitam mengkilat. Sangat mengkilat, seperti sepasang sepatu yang baru saja dikeluarkan dari kotaknya setelah sepatu tersebut sampe di rumah melalui jasa sebuah pengiriman barang. Dia mengapit jas di tangan sebelah kiri, membebaskan tangan kanannya untuk sewaktu-waktu ingin meraih telepon genggam dari dalam kantong. Tas punggung yang hanya dikenakan di sebelah kirinya berisikan inisial namanya, BS. Konon tas itu dipesannya, khusus dengan inisial, langsung dari sebuah perusahaan tas ternama di Amerika.

Sudah hampir setengah jalan Bharuna melangkah balik menuju gedung kantor, ketika cret! Bharuna berdiri tertegun, merasakan substansi lembut dan kenyal di bawah kaki kanannya yang tak sesuai dengan substansi trotoar. Ia tak sengaja menginjak kotoran hewan! Jelas tak sengaja, orang normal mana yang mungkin sengaja menginjak hasil akhir perjalanan makanan makhluk hidup?

’Hm kan’ ujar Bharuna dalam hati, mengakui kesialannya.

Seketika Bharuna mengangkat kaki kanannya dan menggosok-gosokkan sol sepatunya di sudut trotoar. Ia berusaha meraih tisu, untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang masih tertinggal, yang terletak di suatu sudut dalam tasnya. Sesaat kemudian ia sadar bahwa dirinya tak memiliki tisu. Ia kemudian mengeluarkan saputangan yang berisikan inisial BS dari saku belakang celana kainnya dan membersihkan sisa-sisa kotoran di sepatunya.

’Kalo kecium di ruangan kan bahaya ya, bisa dikatain berbulan-bulan’ pikirnya sambil membersihkan sisa kotoran.

Muka Bharuna terlihat sangat kelelahan dan kusam. Raut kelelahan di wajahnya, tidak salah lagi, merupakan efek samping dari pekerjaan yang ia geluti. Tak jarang ia belum meninggalkan gedung kantornya hingga pukul 3 dinihari! Sedangkan kusam berasal dari asap kendaraan di jalanan yang ia lewati yang tak terhitung jumlahnya. Wajahnya terlihat makin buruk karena diliputi perasaan kesal yang ia rasakan saat kaki kanannya berjumpa dengan substansi lembut barusan.

Memang tidak bisa dipungkiri, bekerja di salah satu cabang perusahaan konsultan paling terkemuka di dunia menuntut para pekerjanya untuk bekerja hingga merasa setengah mati. Entah sudah berapa lama Bharuna menggeluti pekerjaan tersebut. Sepanjang yang ia ingat, hanya pekerjaan itulah memori yang ada di kepalanya. Ia merindukan semangat yang ada ketika berada di awal karirnya di perusahaan itu. Enerjik, penuh semangat, berapi-api, namun kini semua itu entah ada di mana. Apabila tidak demi gaji besar yang ditawarkan, mungkin sudah lama dia akan meninggalkan pekerjaan itu. Kadang terlewat dalam benaknya untuk melakukan pekerjaan lain. Tapi hal itu sudah terlambat, ia sudah nyaman dengan jumlah bayaran yang diberikan sehingga terlalu takut untuk memulai dari jumlah yang lebih kecil dari yang sekarang ia dapatkan. Lamunnya sambil melihat ke atas dengan sebelah kaki masi terangkat dan tangan dengan saputangan masi menyentuh sol sepatu.

”Siang mas Bharuna!” sapa respsionis kantornya, sembari melemparkan senyum profesional khas pekerja terdepan, saat Bharuna memasuki gedung kantor.

”Siang mba” sapa Bharuna sekedarnya, sambil berjalan ke arah lift.

Bharuna berdiri di depan lift, menanti lift yang memang terasa sedikit lambat apabila ditunggu. Hidungnya terasa gatal akibat debu-debu jalanan dan asap kendaraan tadi. Sensasi yang tak bisa dilawan muncul ketika ia secara sadar tak sadar mengarahkan salah satu jari tangan kanannya ke arah lubang pernafasan. Ting! pintu lift terbuka. Belum selesai Bharuna menggali ketika matanya bertemu mata orang-orang yang keluar dari dalam lift. Dalam posisi canggung, Bharuna berusaha agar terlihat tidak menggali, dan berusaha terlihat seperti sedang menggaruk bagian luar hidungnya. Masuk ke dalam lift, Bharuna menekan lantai 25, lantai di mana ia bekerja.

Ting! pintu terbuka di lantai 25, dan saat yang bersamaan pula Bharuna telah menyelesaikan ekskavasi dadakannya. Ia berjalan menuju sebuah meja yang terletak tepat di sudut kiri ruangan dari arah lift. Meja itu menghadap ke arah utara, di sebelah kiri meja adalah jendela besar khas gedung pencakar langit. Bharuna bisa melihat hiruk pikuk ibu kota dari mejanya, sesekali apabila ia bosan dengan telepon genggamnya di masa senggang bekerja, ia akan melihat ke arah luar jendela, terpaku tak berpikir.

Di detik Bharuna merebahkan badannya di kursi, seketika itu juga ia disapa oleh rekannya, Radit Simanjuntak. Radit adalah teman seperjuangan Bharuna di perusahaan ini, mereka memulai bekerja di tahun dan periode yang sama, sama-sama lulusan Business School terkemuka dunia, dan sama-sama konsultan yang handal.

”Liat nih siapa yang baru kelar makan siang jam segini???” ujar Radit sembari merekam Bharuno yang duduk di kursi melalui telepon genggamnya untuk diunggah ke salah satu media sosial paling kekinian. Bharuna tersenyum ke arah kamera, senyum kaget seolah-olah direkam untuk media sosial oleh Radit merupakan hal yang baru pertama kali ia alami. Demi Tuhan, hal ini sudah terjadi berulang-ulang sejak hari pertama mereka mulai bekerja!

Edited, Posted! Selesai mengunggah hasil rekamannya, Radit berjalan ke arah meja Bharuna. Dia menepuk pundak Bharuna sedikit memijat.

”Gimana kata orang minyak yang kemarin?” tanya Radit.

”Baru juga gue selesai makan siang, nyet. Kasi nafas dulu lah. Lima menit lagi gue cek emailnya.” jawab Bharuna santai, padahal tidak juga.

”Gue ditanyain bos sih barusan pas lo keluar, kayanya ga boleh lepas banget sih client yang ini, No.”

”Iya gue tau, tar deh sorean gue ngomong sama bos. Udah sana balik, lo ga ada kerjaan apa?!” kata Bharuna sedikit jengkel bercanda.

“Hm, lo nyium bau-bauan aneh ga si?” tanya Radit sambil sambil membuat suara mengendus.

‘Mampus, saputangan di kantong belakang belum gue cuci’ pikir Bharuna.

”Iya nih bau apa banget ya, mual gue jadinya.” balas Bharuna.

”Baunya familiar si tapi gue gatau apaan.” kata Radit.

“Asli gue mual banget, mana baru kelar makan. Gue ke kemar mandu dulu ya, ga kuat gue.” ujar Bharuna sambil beranjak dari kursinya menuju kamar mandi.

Di kamar mandi, Bharuna menyiramkan air dan sabun ke saputangannya berharap bau dari kotoran tadi bisa tersamarkan. Sambil mencuci, terlintas di benak Bharuna tentang teman-temannya, bekas pasangannya, dan kenalan-kenalannya.

’Gimana mereka bisa nikmatin hidup dengan gaji segituan ya, heh, manusia-manusia aneh.’ Pikir dalam benaknya. Kurang lebih itulah yang selalu ia pikirkan apabila dia ingat dengan pekerjaannya yang sangat menyibukkan dan memakan waktu yang luar biasa banyak.

‘Emang beda kelas aja mau gimana lagi.’ lanjutnya dalam benak.

Ketika Bharuna kembali dari kamar mandi, Radit sudah di mejanya. Bharuna meraih tas punggungnya, mengeluarkan tempat kacamata, menyiapkan laptopnya dan mouse barunya di meja, diikuti beberapa buku catatan, dua buah pulpen, dan earphone kabel dengan merk ternama. Dia membuka laman perusahaannya di mesin pencari terpopuler, memasukkan akun dan kata sandi ke dalamnya. Dengan cekatan dan tingkat penghafalan yang luar biasa seketika dia telah menekan belasan tombol yes dan no sebelum masuk ke bagian yang harus dikerjakannya hari itu. Sebelum memulai pekerjaannya, dia membuka aplikasi musik online di laptopnya dan memutar lagu penyemangatnya, Rise Up dari Pennywise.

Saat itu juga Bharuna mencium lagi bau substansi lunak di trotoar tadi. Tanpa ia sadari, beberapa titik kotoran telah menempel di saku celana tempat ia meletakkan saputangan. Sadar akan bau yang masih menempel, Bharuna menoleh ke kanan untuk melihat rekan-rekan kerjanya yang lain. Beberapa orang telah melakukan gerakan mengusir lalat di depan hidung, satu orang terbatuk sopan, satu orang memasang wajah bingung, dan Radit, Radit dengan tatapan tajam melihat ke arah Bharuna. Bharuna, tidak ingin dicurigai, melaksanakan beberapa batuk heran sambil melihat-lihat ke depan dan belakang.

‘Santai, santai. Ga ada yang tau ini lo’ kata Bharuna dalam hati, sambil berakting senatural mungkin dengan situasi terkini ruangannya.

‘Ah jangan sampai lupa email dari orang minyak!’ tegur Bharuna dalam kepala.

Dia membuka laman pesan elektronik di mesin pencari di sebuah tab baru di sebelah laman pekerjaannya. Dia mengubah akun email dari akun pribadi ke akun bisnisnya, merefresh emailnya beberapa kali untuk menampilkan pesan terbaru. Dan benar saja, sebuah email baru dari perusahaan minyak pun muncul teratas di laman emailnya.

Seketika ia membuka halaman itu, membacanya berulang kali, dan lagi, lagi, dan lagi. Dia tertegun, dirinya tak mempercayai matanya.

What? Dibatalkan? Kerjasamanya dibatalkan?’ pikirnya sambil berulang kali membuka menutup mata seakan-akan tak percaya.

Tiba-tiba saja Bharuna meragukan kemampuan bahasa asingnya, ya email dari perusahaan minyak itu ditulis dalam bahasa asing. Namun berulang kali dibacapun pengertian kata-kata ’we can proceed to terminate the partnership agreement’ tidak menjadi lebih positif.

Sebuah pintu ruangan kecil di depan terbuka, dan sesosok laki-laki dengan wibawa kelas wahid berdiri di ambang pintu.

”Bharuna, bisa ke ruangan saya sekarang?” perintah bos Bharuna.

Bharuna, sadar dengan apa yang terjadi, bangkit dari kursi dan berjalan ke ruangan bosnya secara otomatis. Wajahnya lesu, seakan-akan semua penopang hidupnya ambruk.

”Pak” sapa Bharuna ke bosnya.

”Iya, silahkan duduk Bharuna. Saya yakin kamu sudah tau kenapa dipanggil kan?”

”Sudah, pak”

”Uhuk, uhuk, uhuk-uhuk. Kok ada aroma aneh ya? Kamu ngeh juga ga?”

Bharuna, tak berani menjawab, hanya terdiam dan tertunduk. Lima belas menit kiranya pikiran Bharuna melayang tak karuan. Apa kabar cicilan rumah? Mobil? Pernikahan? Kira-kira hal itu yang berulang kali terbesit di benaknya. Bharuna mulai mendapatkan kesadarannya ketika bosnya mempersilahkan ia untuk keluar ruangan.

Sampai lagi di kursinya, Bharuna mengambil nafas yang panjang, mengeluarkannya lewat mulut, jemari tangannya memutar lagu di aplikasi musik laptopnya, Three Little Bird dari Bob Marley. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Ia bisa merasakan keringatnya menjadi dingin di sudut-sudut wajahnya.

“Diare sih tu orang” kata Radit ke salah satu rekan kerja di sebelahnya.

“Baunya ga nahan si” balas rekannya.

Seketika orang-orang di lantai 25 membicarakan wajah Bharuna yang pucat dan mengasosiasikannya dengan diare, sakit perut, dan kawan-kawan. Lupa dengan fakta bahwa Bharuna baru saja dipanggil ke dalam ruangan bos.

Bharuna, kini lebih tenang, melipat kedua tangan di belakang kepalanya, bersandar ke kursi kerjanya, memejamkan kedua matanya, dan dia pun tertidur. Hari itu merupakan hari terakhir Bharuna bekerja di perusahaan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s