Sketpro #7: mALEngering

Lelaki itu duduk di sebuah rumah minum, memandang mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalanan di luar. Di seberang rumah minum tempat ia duduk, ia melihat sebuah bangunan berwarna mencolok; didominasi kaca dengan bingkai warna biru cerah, dan dihiasi stiker pelangi besar di kacanya. Tempelan berbentuk hati berwarna pelangi dengan tulisan “Love is Love”, “Love needs No Reason” dan “We are Equal” juga terlihat meramaikan hiasan di kaca jendela besar itu. Melalui kaca, lelaki itu bisa melihat bahwa tempat itu juga adalah rumah minum, tetapi dengan jenis minuman yang berbeda.

Lelaki itu menyeruput kopinya sambil tetap memandang ke luar jendela. Suhu di luar hari ini mencapai 35 derajat celcius, dan ia enggan beranjak dari tempat ia duduk. Hari itu kering dan tidak berangin, padahal minggu lalu kota itu baru dilanda hujan badai. Sambil meletakkan cangkirnya kembali ke meja, ia berpikir mengenai apa yang terjadi padanya minggu lalu di hari hujan itu. Kilasan samar-samar tentang rumah minum teh, susu yang tertuang ke dalam minuman, pembicaraan membingungkan dan sosok bernama Rae. Yang ia ingat terakhir kali adalah wanita itu perlahan-lahan menghilang dari hadapannya sebelum ia sendiri merasa limbung dan pening. Berikutnya, ia sudah terbangun di kamarnya sendiri. Awalnya Ale berpikir bahwa mungkin ia pingsan lagi di rumah minum tersebut (dan Ale benci jika memang itu yang terjadi), lalu seseorang menggotongnya ke rumahnya. Tapi Ale kemudian menemukan bahwa kamarnya terkunci dari dalam dengan gerendel dalam terpasang dengan kuat. Ale pun tak melihat satu pun pesan dari Pie yang menggiringnya menuju The Manor. Ale lalu berpikir bahwa itu hanya mimpi, dan mulai melupakan kejadian itu. Namun pagi ini, Ale melihat jejak terakhir pemakaian kartu transportasi di aplikasi telepon genggamnya. Minggu lalu Ale ternyata menggunakan kartu itu untuk pergi ke halte dekat rumah minum. Ale kemudian mengecek rekam jejak kartu debitnya dan hatinya mencelos ketika melihat bahwa minggu lalu terdapat transaksi pembelian minuman di The Manor.

Aku sudah gila, pikirnya.

Pintu rumah minum terbuka, seorang wanita masuk dan langsung menuju counter untuk memesan minuman. Ale mengalihkan pandangannya dari jalanan ke wanita itu. Penampilannya tidak terlalu mencolok, tapi aroma parfumnya cukup tajam dan Ale merasa kenal dengan aroma itu. Ale berusaha mengingat-ingat lalu kemudian tersentak.

Melati. Seperti tisu beraroma melati yang ketika itu diberikan oleh seorang wanita di pesawat.

Ale berusaha meyakinkan diri bahwa aroma itu adalah aroma yang bisa saja digunakan oleh banyak orang, bukan hanya wanita itu. Wanita itu berbalik setelah selesai memesan dan matanya tertangkap oleh Ale.

Benar. Wanita itu, wanita yang sama dengan wanita yang Ale temui di pesawat. Wanita bernama Amber yang tak pernah lagi bertemu dengannya sejak kejadian di pesawat tempo hari.

Amber tersenyum menghampiri Ale, sementara Ale bingung harus berreaksi seperti apa. Wanita itu mengambil kursi di hadapan Ale dan bertanya, “Apa kabar?”

Ale bahkan tak bisa menjawab kecuali dengan tersenyum kaku. Kenapa semua hal yang ia anggap tak nyata tiba-tiba muncul dengan cara tak terduga.

“Ale, bukan?”

Ale ingin menjawab, tapi bahkan untuk menganggukkan kepala pun ia tak bisa. Badannya terasa dingin, jantungnya berdebar dan ia rasanya ingin muntah. Perasaannya mirip seperti orang yang sedang menghadapi ujian tapi lupa belajar sehari sebelumnya. Pandangannya memburam, dan ia merasa tak mampu menatap Amber.

“Kamu Ale, bukan?”

Ale memberanikan diri menatap Amber, dan seketika itu pula ia rasanya ingin pusing lalu pingsan. Atau sekalian saja kesurupan, pikirnya.

Amber tersenyum, “Ah, tampaknya kau sudah bertemu Rae. Benar kan? Kurasa sebentar lagi mereka akan datang. Iya, Amber dan Rae. Mereka akan datang menemuimu.”

Ale mendengus, ketakutannya kini beralasan. Wanita-wanita ini tampaknya berkaitan satu sama lain; Amber, Pie, Rae. Ale merasa seperti masuk ke dalam ruang sidang dengan tiga hakim tanpa ia tahu salahnya apa dan tanpa ia tahu hukuman macam apa yang menunggu di hadapannya.

Aku sudah gila, pikirnya lagi.

Ale menatap kopinya; ah, ingin rasanya ia menenggelamkan diri ke dalam cangkirnya.

 

syd, 141217, 1819 AEST
_Ling_

2 comments

  1. Things beyond our logic are annoyingly interesting yet creepy, aren’t those? I wish Ale enjoy being trapped and try not to loose the Gordian knot too soon. Or, is it me who actually enjoy this?

    Like

    • Aw thanks heaps,
      I also wish Ale doesn’t feel tired going around in my head~

      Well, leave the audience in suspense sometimes feel good, huh?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s