Galeri

Storiette #1: Wanita Tua dan Jalanan

Pukul satu pagi… 

Rum terbangun di kamarnya yang gelap di lantai 2. Sesaat, ia belum menyadari apa yang membuatnya terbangun. Matanya masih mengerjap menatap langit-langit yang gelap lalu ia dikejutkan oleh suara teriakan seorang wanita di jalanan di bawah. Wanita di luar terdengar meracau dan berteriak-teriak seperti orang mabuk. Kamar Rum terletak di atas sebuah restoran yang lokasinya persis di tepi jalan besar, sehingga apapun yang terjadi di jalan hampir selalu terdengar dari kamarnya. Biasanya Rum akan mengabaikan suara-suara di jalanan, tapi kali ini ia merasa tertarik untuk mengamati dan membuka tirainya lebar-lebar.

Wanita di jalanan tadi masih meracau tidak jelas dari tempatnya duduk di trotoar. Rambutnya putih dan kusut, pakaiannya berlapis-lapis. Wanita itu membawa botol di tangan kanannya, dengan tas selempang besar tersampir di bahu kirinya. Ia tampak meluruskan kakinya sebelum bersenandung serak dan mengumpati mobil-mobil yang lewat di hadapannya. Homeless, mungkin ia mabuk, pikir Rum. Rum lalu mengalihkan matanya dari jalanan dan mulai membaringkan badannya kembali. Matanya mulai mengatup dan ia mulai tertidur.

Pukul dua pagi…

Rum terbangun lagi, dan kali ini ia tahu apa yang membuatnya terbangun. Suara pecahan kaca dan tiang jalanan yang dipukul berulang-ulang terdengar jelas dari kamarnya. Rum memandang jalan dan melihat wanita mabuk tadi sekarang duduk bersandar di tiang bus stop dan memukul tiang itu sambil memaki dan meracau. Di seberang jalan, seorang wanita pirang berjalan cepat-cepat ke arah parkiran, mencoba menghindari kontak mata dengan wanita yang mabuk tadi. Si wanita mabuk berteriak memanggilnya dengan kata-kata kasar, dan ketika ia menyadari bahwa wanita pirang itu tak menoleh, ia berteriak semakin keras. Wanita mabuk itu mengambil batu dan melempar tepat mengenai kepala si wanita pirang. Kedua wanita itu saling berbalas umpatan; wanita pirang lalu lari menuju mobilnya sementara wanita yang mabuk tadi tertawa sempoyongan.

Rum mendekatkan pandangannya ke jendela, membatin betapa mengerikannya jalanan kota asing itu di malam hari. Ia melihat ke seberang jalan lagi dan melihat tiga orang laki-laki berseragam polisi mendekati wanita tua itu. Wanita itu terlihat memberontak ketika salah satu polisi memegang lengannya. Wanita itu berteriak dan menggigit tangan polisi tadi. Dua polisi lainnya mencoba meredakan emosi si wanita, tapi tantrumnya makin menjadi-jadi. Ia melemparkan batu-batu, pecahan botol dan potongan kayu kepada mereka. Lemparan itu mengenai wajah, perut dan kaki para polisi. Polisi-polisi itu pun berjalan menjauh dan sayup-sayup terdengar akan mendatangkan penjemput lainnya. Suasana hening lagi, yang terdengar hanya samar-samar suara wanita tadi bersenandung sendiri. Pertunjukan selesai, pikir Rum. Ia pun kembali membaringkan badannya dan tertidur.

Tapi tidur Rum tidak tenang. Ia memimpikan wanita tua yang mabuk di pinggir jalan, memimpikannya menari di jalanan yang berubah menjadi danau es bersana seorang lelaki muda tampan berrambut seperti Elvis. Mereka menari dalam tempo cepat yang membuat danau es mulai bergolak. Wanita itu kembali meneriakkan kata-kata tak jelas yang ditelan suara ombak danau es yang mencair. Lelaki muda yang menari bersamanya mulai mengeluarkan belati perak sambil mendekati wanita tua tadi. Mereka menari, mengapung di tengah danau dan lelaki itu mengiris pipi si wanita tua. Belati itu kemudian merobek perutnya. Darahnya menetes ke danau, mengubah danau menjadi merah. Danau merah itu meluas, tangan-tangan muncul dari dalamnya dan mulai mengejar Rum. Suara tawa si wanita tua terdengar nyaring dan dingin dan Rum berlari sekencang-kencangnya. Danau merah itu tiba-tiba mendidih dan pandangan Rum tiba-tiba silau.

Pukul enam pagi…

Suara teriakan panik bersahut-sahutan di jalan di bawah. Rum terbangun untuk ketiga kalinya dan kali ini ia benar-benar terjaga. Rum menatap ke luar melalui jendelanya, lalu melihat kerumunan orang berkumpul di depan tempat tinggalnya.

Rum mengenakan jubah kamar dan turun ke arah jalanan, ingin memastikan apa yang terjadi di depan tempat tinggalnya itu. Ia menyeruak kerumunan; apa yang ia lihat bukan hal yang menyenangkan.

Wanita tua yang semalam mabuk itu kini terbaring kaku di jalan. Ada bekas lebam di kepala, wajah dan kakinya; bekas gigitan berdarah di tangannya, dan luka sayatan di pipinya. Sisa badannya ditutupi koran bekas sementara orang-orang menunggu polisi dan ambulan datang. Beberapa orang bertukar bisikan tentang apa yang mereka lihat ketika jasad wanita itu baru ditemukan dan belum ditutupi koran. Rum mendengarkan dengan seksama dan terkesiap;

Wanita itu pagi tadi ditemukan dengan luka menganga pada perutnya dan belati perak di tangan kanannya.

Sydney, 211217, 2226
_Ling_

Galeri

Hari Esok pun Saya Suka

Entah kenapa, saya suka dengan langit Sydney sore ini.
Biru-keunguan. Ada warna merah mudanya juga.
Hujannya pun saya suka.
Adem.
Sepertinya segala sesuatu yang akan ditinggalkan malah menunjukkan sisi terbaiknya.

Rupanya ada yang sedang menari-nari mengisi pikiran saya. Sesekali saya teringat konser Coldplay tahun kemarin tepat di bulan ini yang berhasil membuat saya susah move on. Like, seriously, it was too good! Secara tak sengaja, saya ingat bagaimana dulu ayah saya mengantarkan saya ke sekolah. Memakai sepeda dan saya duduk anteng di depan karena ayah saya sengaja menyiapkan kursi rotan kecil di belakang stang. Kursi boncengan ini rasanya dulu sempat menjadi primadona. Tetapi tidak untuk sekarang. Saya pun ingat bagaimana dulu saya ingin sekali pergi ke Melbourne untuk alasan yang saya pun ga tahu. Yang pasti saya ingin kesana. Sampai-sampai, saya menulis keinginan itu di sebuah buku. Dan tiga tahun kemudian saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di kota yang berhasil membuat saya terpesona. Bahkan beberapa bulan lalu saya kembali mengunjungi Melbourne walaupun untuk sebuah conference. 

Rupanya pula pikiran saya terlalu sibuk menari-nari. Ahh, sudahlah, beberapa jam lagi saya akan meninggalkan kota ini. Sudah saatnya saya kembali packing.

Hari esok pun pasti saya suka.

🙂

 

Salam,

Vidia

Galeri

Sketpro #7: mALEngering

Lelaki itu duduk di sebuah rumah minum, memandang mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalanan di luar. Di seberang rumah minum tempat ia duduk, ia melihat sebuah bangunan berwarna mencolok; didominasi kaca dengan bingkai warna biru cerah, dan dihiasi stiker pelangi besar di kacanya. Tempelan berbentuk hati berwarna pelangi dengan tulisan “Love is Love”, “Love needs No Reason” dan “We are Equal” juga terlihat meramaikan hiasan di kaca jendela besar itu. Melalui kaca, lelaki itu bisa melihat bahwa tempat itu juga adalah rumah minum, tetapi dengan jenis minuman yang berbeda.

Lelaki itu menyeruput kopinya sambil tetap memandang ke luar jendela. Suhu di luar hari ini mencapai 35 derajat celcius, dan ia enggan beranjak dari tempat ia duduk. Hari itu kering dan tidak berangin, padahal minggu lalu kota itu baru dilanda hujan badai. Sambil meletakkan cangkirnya kembali ke meja, ia berpikir mengenai apa yang terjadi padanya minggu lalu di hari hujan itu. Kilasan samar-samar tentang rumah minum teh, susu yang tertuang ke dalam minuman, pembicaraan membingungkan dan sosok bernama Rae. Yang ia ingat terakhir kali adalah wanita itu perlahan-lahan menghilang dari hadapannya sebelum ia sendiri merasa limbung dan pening. Berikutnya, ia sudah terbangun di kamarnya sendiri. Awalnya Ale berpikir bahwa mungkin ia pingsan lagi di rumah minum tersebut (dan Ale benci jika memang itu yang terjadi), lalu seseorang menggotongnya ke rumahnya. Tapi Ale kemudian menemukan bahwa kamarnya terkunci dari dalam dengan gerendel dalam terpasang dengan kuat. Ale pun tak melihat satu pun pesan dari Pie yang menggiringnya menuju The Manor. Ale lalu berpikir bahwa itu hanya mimpi, dan mulai melupakan kejadian itu. Namun pagi ini, Ale melihat jejak terakhir pemakaian kartu transportasi di aplikasi telepon genggamnya. Minggu lalu Ale ternyata menggunakan kartu itu untuk pergi ke halte dekat rumah minum. Ale kemudian mengecek rekam jejak kartu debitnya dan hatinya mencelos ketika melihat bahwa minggu lalu terdapat transaksi pembelian minuman di The Manor.

Aku sudah gila, pikirnya.

Pintu rumah minum terbuka, seorang wanita masuk dan langsung menuju counter untuk memesan minuman. Ale mengalihkan pandangannya dari jalanan ke wanita itu. Penampilannya tidak terlalu mencolok, tapi aroma parfumnya cukup tajam dan Ale merasa kenal dengan aroma itu. Ale berusaha mengingat-ingat lalu kemudian tersentak.

Melati. Seperti tisu beraroma melati yang ketika itu diberikan oleh seorang wanita di pesawat.

Ale berusaha meyakinkan diri bahwa aroma itu adalah aroma yang bisa saja digunakan oleh banyak orang, bukan hanya wanita itu. Wanita itu berbalik setelah selesai memesan dan matanya tertangkap oleh Ale.

Benar. Wanita itu, wanita yang sama dengan wanita yang Ale temui di pesawat. Wanita bernama Amber yang tak pernah lagi bertemu dengannya sejak kejadian di pesawat tempo hari.

Amber tersenyum menghampiri Ale, sementara Ale bingung harus berreaksi seperti apa. Wanita itu mengambil kursi di hadapan Ale dan bertanya, “Apa kabar?”

Ale bahkan tak bisa menjawab kecuali dengan tersenyum kaku. Kenapa semua hal yang ia anggap tak nyata tiba-tiba muncul dengan cara tak terduga.

“Ale, bukan?”

Ale ingin menjawab, tapi bahkan untuk menganggukkan kepala pun ia tak bisa. Badannya terasa dingin, jantungnya berdebar dan ia rasanya ingin muntah. Perasaannya mirip seperti orang yang sedang menghadapi ujian tapi lupa belajar sehari sebelumnya. Pandangannya memburam, dan ia merasa tak mampu menatap Amber.

“Kamu Ale, bukan?”

Ale memberanikan diri menatap Amber, dan seketika itu pula ia rasanya ingin pusing lalu pingsan. Atau sekalian saja kesurupan, pikirnya.

Amber tersenyum, “Ah, tampaknya kau sudah bertemu Rae. Benar kan? Kurasa sebentar lagi mereka akan datang. Iya, Amber dan Rae. Mereka akan datang menemuimu.”

Ale mendengus, ketakutannya kini beralasan. Wanita-wanita ini tampaknya berkaitan satu sama lain; Amber, Pie, Rae. Ale merasa seperti masuk ke dalam ruang sidang dengan tiga hakim tanpa ia tahu salahnya apa dan tanpa ia tahu hukuman macam apa yang menunggu di hadapannya.

Aku sudah gila, pikirnya lagi.

Ale menatap kopinya; ah, ingin rasanya ia menenggelamkan diri ke dalam cangkirnya.

 

syd, 141217, 1819 AEST
_Ling_