Sketpro #6: Ale dan Rae

Ale tak ingin mempercayai matanya. Wanita itu benar-benar ada di depan matanya sekarang. Wanita itu duduk di hadapan Ale, di sebuah meja di sudut The Manor, mengaduk pelan earl grey yang masih mengepulkan uap tipis. Ale menggeser cangkirnya mendekat, mencelupkan sendok lalu mulai mengaduk teh melati pesanannya. Bunga melati segar di dalamnya masih mengambang, gula yang Ale tuangkan ke dalamnya pun tak juga larut. Wanita di hadapannya menambahkan susu ke dalam tehnya, sudah tuangan ketiga sejak pesanan mereka datang.

Setengah jam berlalu penuh keheningan. Ale ingin lari dari tempat ini; tapi pandangan mata wanita itu terlalu menusuk untuk dia abaikan. Sosok yang selama ini Ale berusaha hindari karena rasanya terlalu imajiner itu ternyata benar-benar ada. Solid dan nyata. Sosok imajiner tidak mungkin bisa mengaduk teh, bukan?

“Ale..,” sosok itu membuka suara.

Benar, pikir Ale. Rae adalah nyata dan Ale bisa mendengar suaranya.

“Ale..,” kata Rae lagi,”Kebetulan macam apa yang bisa mempertemukan kita di sini?”

Ale pun bingung dan merasa mendadak gagu. Ya, kebetulan macam apa?

“Ale, aku tak pernah berani menganggap kamu adalah nyata,”lanjut Rae,”aku menghabiskan waktu sejauh ini, menghindar dari segala hal yang bisa membawa jalanku kembali kepadamu; aku berusaha menganggap kamu adalah tidak nyata…”

Harusnya aku yang berkata begitu, pikir Ale.

“Kenapa kamu bisa sampai di sini?” tanya Rae.

“Seorang teman mengundangku untuk datang ke rumah minum ini, tapi ternyata dia sendiri tidak datang,” sahut Ale.

Rae mendadak mematung, dan Ale menyadari perubahannya yang mendadak. “Kenapa?” tanyanya.

Pandangan Rae menerawang, lalu ia menghela napas dan memejamkan mata.”Pie?” bisik Rae.

Giliran Ale yang diam. Rae mengenal Pie, jadi Rae memang benar-benar senyata itu.

“Jadi, selama ini kamu adalah nyata?” tanya Ale.

Rae memandang Ale, lalu memandang cangkir Ale. Ale masih mengaduk teh melatinya dengan gerakan memutar. “Lalu, menurutmu aku tak pernah nyata?”sahut Rae.

Ale menghindari memandang mata Rae yang menusuk, dan lebih memilih memandang tangan Rae yang kali ini menuangkan susu pada tehnya lagi. Ini tuangan yang ke empat.

Tangan yang mengaduk teh itu perlahan memudar. Tangan lain yang menuangkan susu itu perlahan menjadi bayangan.

Meja di sudut itu sedari tadi kosong.

 

Syd, 161017,1934 AEST.
_Ling_

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s