Sketpro #4: Ale dan Pie

Ale terduduk di tengah kebun (yang ia yakini sebagai kebun teh), dan menyaksikan perdu-perdu teh itu berkembang dengan sendirinya. Beberapa tangkainya memanjang serupa sulur, merayap menuju kaki Ale, lalu menggelitiki telapak kakinya. Ale tertawa geli, lalu terbahak. Seketika Ale terbahak, seketika itu juga sulur-sulur the itu menjerat kakinya. Tawanya berubah menjadi teriakan ketika ia terseret ke dalam kubangan lumpur yang berpendar hijau. Lumpur itu mengubah tangannya menjadi elastis serupa tentakel tetapi berkuku panjang seperti cakar. Kaki kanannya mulai bersisik, sedangkan kaki kirinya ditumbuhi bulu lebat. Kubangan yang berpendar hijau itupun mulai mendidih, menguarkan aroma amis. Beberapa detik kemudian, Ale kehilangan suaranya; teriakannya berubah menjadi serupa ringkikan kuda. Ale takut terhadap dirinya sendiri. Ale berenang menuju tepi kubangan ketika ia menyadari ada sesuatu yang menariknya lebih dalam…

Ale terbangun. Berkeringat dingin dan terengah-engah, Ale melihat ke sekelilingnya untuk memastikan keberadaannya. Tangan Ale gemetar, dan Ale berulang kali memastikan jumlah jarinya (Total masih sepuluh dan berwarna kulit). Ale pun berulang kali melihat kakinya, memastikan bahwa kaki itu tetap kaki; bukan ekor duyung atau tentakel gurita. Seorang pramugari mendatangi Ale dengan tatapan cemas sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang diterima Ale dengan lega. Setelah pramugari tersebut memastikan bahwa penumpangnya itu baik-baik saja, Ale meneguk separuh habis air mineralnya dalam sekali minum. Ale melempar pandangan ke luar jendela, memastikan bahwa sayap pesawat yang sekarang ia lihat adalah sayap pesawat yang sama dengan yang tadi ia lihat sebelum jatuh tertidur.

Teh lagi. Sial, pikirnya.

Ale baru saja mengalami salah satu mimpi paling aneh dalam hidupnya. Sejauh yang bisa ia ingat, mimpi aneh terakhir yang masih membekas adalah mimpi tertimpa gajah hijau tua yang seluruh tubuhnya dikerubuti semut biru ketika Ale kelas 1 SMP. Yang Ale ingat, mimpi itu muncul setelah Ale menonton Jumanji, Smurf dan Kera Sakti di hari pertama liburan sekolah. Mimpi itu membekaskan rasa ngeri di benak Ale setiap kali melihat semut bergerombol hingga ia memasuki masa SMA. Tapi sekarang, mimpi aneh yang ia alami rasanya berbeda. Ale tau akhir-akhir ini ia terlalu overthinking, paranoid, merasa diawasi, merasa diteror, atau apapun itu istilahnya. Ale sadar bahwa mimpi ini mungkin saja bagian dari ekspresi ketakutannya. Tapi tetap saja, bermimpi begini di tengah perjalanan menuju daerah antah berantah bukan merupakan suatu hal yang bagus.

“Kamu berkeringat. Silakan pakai ini.” Wanita yang duduk di sebelah Ale, penumpang yang ia tak tau namanya, mengulurkan selembar tisu kepadanya. Ale tersenyum simpul dan menerimanya. Penerbangan panjang ini ternyata tak cocok baginya. Total waktu penerbangannya 18 jam, ditambah transit luar biasa lama di Vietnam membuat Ale merasa pegal dan mual; kehilangan koordinasi dan kesadaran terhadap waktu. Jendela pesawat gelap, tapi pikirannya membuncah penuh energi; dan ketika jendela pesawat terang, Ale merasakan kantuk yang teramat sangat. mungkin lelah itu juga yang membuat mimpi Ale terasa begitu nyata. Ale melap keringat dengan tisu pemberian wanita di sebelahnya ketika menyadari aromanya berbeda. Aroma melati.

Wanita itu tersenyum,”Aromanya menyenangkan ya? Untuk yang baru saja bermimpi buruk, aroma ini katanya bisa menenangkan. Saya masih ada yang lain kalau kamu mau.”

Mau tak mau, Ale tersenyum lagi sambil mengucapkan terima kasih. Ale seperti mengenal wanita itu, tapi susah mengingat di mana dan kapan. Wanita itu memandang Ale dan kemudian mengulurkan tangan, “Pie.”

“Maaf?” kata Ale, “Pie?”

“Iya, namaku Pie,” wanita itu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lucu, seperti anak kecil.

Ale membalas uluran tangannya, “Ale.”

“Pertama kali penerbangan panjang ya?” tanyanya lagi; dan kalimat itu menjadi kalimat pembuka percakapan mereka.

Ini adalah kali pertama Ale merasa senang ada yang mengajak ia mengobrol di pesawat. Obrolan mereka mengalir, tentang tujuan, pekerjaan, asal, lalu entah bagaimana, perbincangan itu kembali mengarah ke selembar tisu beraroma melati ketika pesawat bersiap untuk mendarat.

“Kenapa melati?” tanya Ale.

“Itu seperti menanyakan ‘kenapa namamu Pie?’. Well, aku tak pernah paham. mungkin karena aromanya tidak memaksa.”

“Memaksa?”

“Ya. Aromanya tidak menyengat, sedikit-sedikit saja tapi berkelanjutan. Mengalir terus tapi tak pernah sangat menusuk. Aku juga suka rasanya ketika dicampur dengan teh, apalagi sekarang kita sedang menuju tempat yang memang khas dengan tehnya kan…”

Teh lagi. Ale sampai lupa bahwa tempat yang ia kunjungi ini adalah negeri pecinta teh nomor satu. Teh. Jangan-jangan…

Lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah padam; Pesawat telah mendarat di Heathrow Airport, London.

Ale bersiap turun dari pesawat ketika Pie berkata padanya,”Hati-hati dengan Earl Grey ya…”
Pie kemudian menyelinap di antara penumpang yang lain tanpa memberi Ale kesempatan untuk menjawab. Pie berhenti sejenak dan melanjutkan,”Jangan lupa kartu posnya!”

Kartu pos?

Pie tak bisa ia temukan di antara kerumunan yang mengantri bagasi dan antrian imigrasi. Ale merutuk karena mereka juga tak bertukar kontak. Seketika itu, Ale ingat bahwa ia belum mengabari penjemput dari kantornya. Ale menyalakan ponselnya, lalu menghubungkannya dengan WiFi airport. Ponselnya langsung penuh notifikasi yang kemudian ia cek satu-satu sambil menunggu jemputan. Notifikasi email kantor, chatgroup, notifikasi Facebook, Twitter, dan..

Satu notifikasi yang rasanya janggal tertangkap olehnya. Notifikasi Instagram.

“pieamber.pie started following you”

Ale terdiam. Amber lagi?

 

Vietnam, 180717; 1915
Ling

Ale Pie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s