Chemical Weapon, Penistaan di Abad 21

Kesal, sedih, takut, malu…

Itu beberapa kata yang mungkin bisa menggambarkan perasaan saya ketika mengetahui serangan gas beracun di Provinsi Idlib, Suriah. Ratusan warga sipil tewas. Di satu rumah, seorang ayah harus kehilangan istri dan dua anak kembarnya. Sementara di rumah yang lain, seluruh anggota keluarga terbujur kaku dengan mata terbelalak. Di pinggiran jalan, anak-anak kecil tak berdosa hanya bisa meregang nyawa dengan mulut berbusa, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal untuk kedua orang tuanya.

Penyebabnya adalah gas sarin yang mungkin masih asing di telinga sebagian orang, termasuk saya. Lantas saya langsung mencari tahu apa sebenarnya gas sarin tersebut, bagaimana struktur dan efek sampingnya jika seseorang terpapar oleh gas sarin. Dan, waw! hasilnya cukup mengejutkan. Walaupun sebenarnya tak asing bagi saya mengetahui betapa berbahayanya zat-zat kimia yang sering saya gunakan untuk research dan terkadang efeknya baru bisa dirasakan setelah bertahun-tahun kemudian. Namun, efek super cepat dalam hitungan menit bahkan detik pun bisa saja dialami. Contoh sederhana yang pernah saya alami adalah bolongnya sepatu converse saya yang notabene masih baru (saat itu) hanya terkena satu tetes asam sulfat! Atau gatal-gatal di kulit setelah terkena natrium hidroksida (NaOH), pusing kepala setelah lama bekerja menggunakan pelarut dicholoromethane (DCM) atau chloroform sepertinya hal ter-simpel yang bisa dialami.

Kembali lagi berbicara mengenai gas sarin

Sarin (GB, O-isopropyl methylphosphonofluoridate) merupakan agen syaraf yang termasuk ke dalam golongan organofosfat (OP). Dalam dosis tinggi, sarin ini menyebakan tremor, kejang-kejang, dan hipotermia. Lebih lanjut lagi, senyawa ini menyebabkan penumpukan acetylcholin (Ach) di sistem syaraf pusat yang menyebabkan paralysis, sesak nafas, dan akhirnya berujung pada kematian.

Bukan yang pertama

Serangan di Suriah beberapa hari yang lalu bukanlah kali pertama penggunaan sarin sebagai chemical weapon. Setelah sebelumnya, di tahun 1994 dan 1995, zat yang sama digunakan di Matsumoto dan Tokyo, Jepang yang menyebabkan ribuan orang terkena paparan gas sarin dan tewasnya puluhan orang. Lebih kejamnya lagi, di tahun 2013 sekitar 1700 warga sipil meninggal akibat serangan gas sarin di Ghouta, Suriah.

Penistaan

Sebagai orang yang menekuni bidang kimia, saya sangat, amat, benar-benar kesal atas serangan yang entah itu mengatasnamakan politik, kekuasaan, atau apapun alasan-alasan yang saya gak bisa pahami. Kasarnya, ingin rasanya “ngegoblok-goblokin” pelaku, pengambil keputusan di balik semua serangan itu, walaupun sebenarnya ga ada gunanya. Tapi, helloooo, come on, chemicals as weapon dipake buat ngebunuh orang itu udah sangat biadab! Saya belajar banyak tentang kimia. Di satu sisi, saya terkagum-kagum karena manusia bisa mensintesis begitu banyak senyawa hingga akhirnya bisa digunakan untuk medication, cancer treatment. Tapi, di sisi yang lain, chemicals justru dipakai sebagai senjata pemusnah massal.Ga ada pembenaran atas apapun media yang digunakan untuk membunuh. Serangan Suriah kemarin itu benar-benar meruntuhkan kekaguman saya atas ilmu kimia yang sudah saya geluti dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Ini yang saya takutkan. Belajar suatu ilmu tapi ga dibarengi dengan iman yang kuat. Kasarnya, untuk sintesis bahan peledak atau zat beracun lain, saya pun bisa. Tapi, buat apa? Penggunaan ilmu yang ga sesuai sama koridornya menurut saya sudah termasuk ke dalam kategori penistaan. Entah kebobrokan seperti apa lagi yang akan disuguhkan oleh dunia, yang mengatasnamakan dirinya orang pintar.

Heal the world

Heal the world

make it a better place

for you and for me

and the entire human race

Reference:

Donia, M. B. A.; Siracuse, B.; Gupta, N.; Sokol, A. S. Crit. Rev. Toxicol. 2017, 46 (10), 845-875.

Salam perdamaian,

Vidia

One comment

  1. Ya. Sedih sekali mendengarnya. Betapa kejamnya manusia ya. Atas nama memperjuangkan hasil peradaban, tega melakukan kebiadaban.
    Btw Bi Ade juga dulu pernah punya pengalaman serupa, lap meja kena asam sulfat waktu praktek pertama kali di lab kimia dan bolong.. wih.. kaget dan ngeri sekali rasanya waktu itu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s