Nyepi di ‘Straya, Mate!

Nyepi through the ages
Sejak kecil, Nyepi selalu menjadi hari raya favorit saya. Sewaktu kecil, alasan saya sesederhana saya bisa ada seharian di rumah, merasakan situasi yang sangat hening dan udara yang luar biasa bersih. Dilema Nyepi saya saat itu sesederhana Nyepi di rumah atau di rumah kakek, mau makan pudding atau kacang hijau, nasi goreng atau tipat cantok, dan membaca Harry Potter atau Goosebumps. Beberapa ibu-ibu tetangga biasanya sembunyi-sembunyi lewat jalan tikus untuk pergi ke rumah tetangga lainnya, melakukan aktivitas seperti mencabuti uban dan bergosip, kemudian sorenya pergi ke pemandian umum. Anak-anak seusia saya biasanya akan menyelinap dari satu pekarangan ke pekarangan rumah lain untuk mencari teman bermain. Malamnya, saya menikmati berada di tangga depan rumah untuk melihat rasi bintang dan mencocokkannya dengan buku ajar bapak saya yang judulnya “Bumi, Antariksa dan sekitarnya”, lalu merasa bangga sendiri ketika saya bisa menebak rasi bintang dengan tepat.

Beranjak remaja, saya menghargai Nyepi sebagai hari untuk tidur seharian setelah kelelahan setiap harinya dengan sekolah dan tugas-tugas rumah. Sehari sebelum nyepi biasanya saya akan jadi orang paling repot untuk mempersiapkan cemilan bekal Nyepi (saya entah kenapa selalu gagal puasa 24 jam saat Nyepi, haha). Saya juga biasanya mulai me-list buku bacaan yang akan saya habisi sepanjang nyepi.

Ketika akhirnya sejak SMA saya harus tinggal jauh dari rumah, Nyepi, seperti hari-hari raya lainnya menjadi sarana saya untuk ‘escape’ dari rutinitas terpola. Dan tentunya, Nyepi menjadi waktu bagi saya untuk melakukan perbaikan gizi dengan masakan rumahan, di mana saya bebas makan apa saja dan tambah berapa kali pun saya mau. Nyepi tetap menduduki posisi pertama dalam daftar hari raya favorit saya, karena itulah satu-satunya hari di mana seluruh anggota keluarga berkumpul dan ada di rumah, membicarakan hal-hal kecil remeh temeh seperti kegiatan sehari-hari, mendengarkan cerita dari bapak dan ibu, kakek dan nenek, serta sesekali membicarakan hal serius seperti pendidikan dan karir. Saya seketika takut hari berakhir dengan cepat, dan menginginkan Nyepi yang lebih panjang…

Ogoh-Ogoh
Ketika daerah-daerah lain meriah dengan pawai ogoh-ogohnya, saya hanya bisa menonton di televisi. Menurut kepercayaan setempat, semua kelompok Banjar (Dusun) di desa adat saya memang tidak diizinkan untuk membuat ogoh-ogoh. Ini bukan masalah bagi saya sewaktu kecil. Tapi ketika remaja, saya mulai penasaran, apalagi dengan teman-teman yang sering bercerita mengenai keseruan pawai ogoh-ogoh. Pengen nonton di desa tetangga, tapi sama siapa? Akhirnya saya harus puas menahan rasa penasaran dan iri ketika teman-teman di sekolah berkisah tentang pawai ogoh-ogoh yang mereka tonton. Sampai akhirnya, suatu hari saya pulang dari Lombok dan dijemput bapak di pelabuhan. Di perjalanan dari pelabuhan menuju rumah kami tertahan macet karena pawai. Pecalang setempat meminta kami bersabar untuk menunggu di mobil sampai pawai selesai. Ini dia! Saya dan bapak akhirnya menonton pawai ogoh-ogoh untuk pertama kalinya, dan bisa merasakan keseruan dan takjubnya (meski hanya dari dalam mobil).

Curi-curi menonton ogoh-ogoh ini akhirnya berlanjut setiap tahun sejak saya bisa mengendarai motor sendiri. Saya pun memilih waktu pulang kampung sore hari, agar saya bisa berpapasan dengan rombongan pawai. Meskipun akhirnya memakan waktu perjalanan jauh lebih lama (yang biasanya 2 jam menjadi 5 jam), saya tidak pernah keberatan dan justru merasa sangat-sangat senang!

Saya selalu takjub dengan para perancang dan pembuat ogoh-ogoh di masing-masing banjar. Dari yang awalnya ogoh-ogoh berdiri dengan dua kaki seperti patung raksasa biasa, sampai terakhir tahun lalu saya melihat ogoh-ogoh yang dibuat seolah-olah bisa terbang dan hanya bertumpu pada satu kaki (dan kaki raksasanya jinjit! Amazing!). Oke, ini lebay sih. Tapi seriusan, saya kagum dengan orang yang bisa menuangkan imajinasinya ke dalam patung raksasa serem nan nyeni, lha wong saya gambar lingkaran aja nggak bener -.-

2017
tahun ini Nyepi terasa beda, karena ini pertama kalinya saya merasakan Nyepi di negeri antah berantah yang bahkan tidak mengenal hari raya Nyepi di kalendernya. Rasanya beda. Sangat beda. Semingguan terakhir saya baper sendiri melihat unggahan foto teman-teman, entah itu unggahan persiapan upakara, melasti, atau persiapan pawai ogoh-ogoh. Baper saya berlipat-lipat ketika akhirnya saya memutuskan untuk membeli keperluan sembahyang berupa bunga dan buah-buahan sendirian. Mulai berpikir apa yang dilakukan ibu di rumah, masak apa, buat cemilan apa.

Nyepi tahun ini saya bertekad untuk ‘puasa sosmed’ dengan menon-aktifkan semua fitur social media seperti facebook, twitter, telegram, path dan Instagram selama sehari. Email dan whatsapp tetap saya aktifkan, untuk berjaga-jaga apabila ada hal penting yang perlu segera saya tangani. Siang hari, saya menelepon ke rumah, sekedar ingin mendengar apa yang dilakukan orang-orang rumah. Tidak lupa saya juga memadamkan lampu sepanjang hari lalu menyalakan bhajan dari sore hingga malam.

Tahun depan, saya mungkin akan ada di rumah untuk mensyukuri Nyepi di tanah sendiri. Namun jika tahun-tahun berikutnya saya harus merayakannya di tanah asing lain, saya setidaknya sudah jauh lebih siap. Tahun-tahun berikutnya, mungkin Nyepi di tanah asing tidak akan saya jalani sendirian. Yang jelas, saya siap. Hehehe.

Nyepi tahun ini menjadi waktu bagi saya untuk merefleksi apa yang terjadi selama setahun terakhir. Kilas balik kembali naik dan turun yang terjadi, memikirkan bahwa merayakan Nyepi di sini adalah berkah tersendiri yang tidak pernah bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya jadi lebih menghargai keleluasaan yang saya miliki, menghargai doa dan nasehat orang tua, menyadari bahwa saya ada di sini untuk menjadi orang yang lebih baik.

Terakhir, selamat bertahun baru dan menjadi diri yang lebih baik. Selamat Tahun Baru Saka, semoga damai selalu.

Sydney, 29 Maret 2017
Ngembak Geni Nyepi Tahun Baru Saka 1939
_Ling_

10 comments

  1. Tahun depan, saya mungkin akan ada di rumah untuk mensyukuri Nyepi di tanah sendiri. Namun jika tahun-tahun berikutnya saya harus merayakannya di tanah asing lain, saya setidaknya sudah jauh lebih siap. Tahun-tahun berikutnya, mungkin Nyepi di tanah asing tidak akan saya jalani sendirian. Yang jelas, saya siap. Hehehe. –> AMIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN

    who knows, right ? everything is possible 🙂
    Good luck Dikmang

    love, Rara

    Like

  2. “Tahun-tahun berikutnya, mungkin Nyepi di tanah asing tidak akan saya jalani sendirian. Yang jelas, saya siap. Hehehe.”

    Antara mo merid atau mau sekolah lagi dah ne. wkwkwkkw

    Like

    • Hai halo, terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 😀
      iya, berada di Bali saat Nyepi merupakan kemewahan yang belum tentu bisa dinikmati semua orang, terutama untuk yang sedang ada di rantauan.
      Berkabar yaa kalau nanti kemBALI ke Bali 😀

      Cheers,
      Ling

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s